Konten dari Pengguna

Modus Penipuan Titip Barang, Pedagang Harus Waspada!

Erniwati
Abdi Negara yang hobby nulis, Penyuluh Hukum Kanwil Kemenkum NTB, Freelancer yang doyan Web Design dan Digital Marketing. Hobby Belajar banyak hal baru.
24 September 2025 8:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Modus Penipuan Titip Barang, Pedagang Harus Waspada!
Modus Penipuan titip barang. Pedagang harus waspada, oknum penipu punya seribu satu cara untuk menghasilkan keuntungan pribadi dari sebuah penipuan.
Erniwati
Tulisan dari Erniwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pedagang kecil. Sumber foto : ayobami adepujo, pixels via canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pedagang kecil. Sumber foto : ayobami adepujo, pixels via canva.com
Modus penipuan seakan tak ada habisnya, oknum penipu punya seribu satu cara untuk menghasilkan keuntungan pribadi dari sebuah penipuan. Termasuk penipuan model titip barang.
Setelah kemarin saya tuliskan modus penipuan jual beli ranmor via online, kali ini saya ingin berbagi sedikit cerita dari beberapa pengguna Instagram dan facebook yang saya baca. Modus operandinya Adalah dengan berpura-pura titip barang, sehingga pedagang harus waspada.

Modus Penipuan dan Model Operasi yang Dipakai

Dari beberapa pengguna yang curhat di media sosial, ceritanya hampir sama semua. Ada yang berhasil tertipu sekian juta, ada yang hampir kena tipu juga. Yang berbeda hanyalah jenis barang yang digunakan untuk menipu. Contohnya yang paling saya ingat Adalah seorang pedagang kecil yang membuka kios di rumahnya dan dititipi madu.
Dalam curhatannya di facebook ia menuturkan bahwa awalnya di datangi oleh seseorang yang ingin menjual madu hutan asli. Oknum tersebut membawa hanya 2 botol madu ukuran botol 1 liter. Meski tak kenal namun si pemilik kios mengizinkan, karena mungkin kasihan.
Setelah barang diterima, si oknum pun memasang harga dengan memberi sedikit keuntungan kepada si pemilik kios. Ia pun meninggalkan nomor hp nya jika nanti madu ada yang laku. Menurut pengakuan pemilik kios ini, tak berselang lama datang seorang pembeli yang turun dari sebuah mobil.
Calon pembeli ini menanyakan berapa harga madu sebotol, dan apakah barangnya asli atau tidak. Si Pemilik kios jujur mengatakan bahwa itu Adalah barang titipan, dan menurut orang yang menitipkan itu Adalah madu asli. Singkat cerita si pembeli berkata akan mencoba dulu sebotol, apabila dirasa memang asli, ia akan Kembali.
Untuk madu yang sebotol tersebut dibayar sekitar 200 ribuan dan si pembeli ini minta nomor hp pemilik kios. Katanya supaya gampang menghubungi jika butuh madu itu lagi. Keesokan harinya, si pemilik kios akhirnya ditelepon oleh si pembeli tadi.
Dalam percakapan itu point nya, si pembeli madu tadi bilang bahwa ini madu benar-benar asli dan bagus kualitasnya. Sehingga ia pun ingin memesan sebanyak 200 botol jika bisa menyediakan. Tentu saja pemilik kios ini kelabakan, ia membayangkan keuntungan yang akan di dapat jika tersedia sebanyak 200 botol.
Akhirnya si pemilik kios pun segera menghubungi oknum penitip madu tadi, dan bertanya kira-kira bisakah menyediakan 200 botol lagi. Karena ada yang ingin memesan sebanyak itu. Si oknum tentu saja berdalih akan melihat stok dulu apakah bisa terpenuhi atau tidak. Jawabannya beberapa hari kemudian bahwa permintaan bisa dipenuhi.
Namun si oknum penitip madu ini katanya minta DP paling tidak 50% karena tak mungkin tak membayar terlebih dahulu dari para pencari madu. Maka si pemilik kios diminta untuk menghubungi pemesan agar memberikan dulu uang muka 50%. Si pemilik kios pun menelepon pemesan dan mengatakan hal tersebut, meminta agar si pemesan tadi membayar dulu uang muka agar barang bisa tersedia.
Namun jawaban pemesan tersebut tentu saja tak mau, karena menurutnya dia akan membayar cash begitu ada barang. Singkat kata si pemilik kios dibuat bimbang, dia sempat berniat memodali dulu si penitip madu dengan uang pribadinya. Namun karena hanya seorang pedagang kecil, ia pun mengurungkan niatnya.
Belakangan si pemilik kios ini mulai sadar bahwa dirinya hampir tertipu, karena secara logika dia seperti diberi pilihan serba salah. Tak bayar dulu dia bisa kehilangan keuntungan besar, tapi kalau bayar dulu dia pun tak menjamin barang akan datang, apalagi dibeli.

Masyarakat Perlu Waspada Agar Tak Cepat Tergiur

Dari sepenggal cerita di atas, wajar rasanya jika pihak-pihak terkait semakin gencar untuk mengkampanyekan modus-modus penipuan seperti ini. Pasalnya Masyarakat banyak yang belum mahfum dengan modus-modus lihai begini.
Di samping itu Masyarakat juga harus mulai waspada, khususnya jika menerima tawaran yang menggiurkan. Saat ini realitanya penipuan tak hanya melulu via online, namun juga mengembangkan berbagai modus offline dalam menjerat mangsanya.
Mulai dari pengusaha hingga pedagang kecil sekalipun. Mungkin masih ingat kasus surat berharga yang sengaja dibuat seperti jatuh di jalan, isinya saham atau surat berharga lainnya. Meski sudah bertahun-tahun lalu modusnya, namun bisa jadi akan kembali muncul di tengah masyarakat yang tidak waspada.
Dari kasus titipan barang ini, sebenarnya kita bisa belajar untuk tidak mudah percaya kepada orang asing yang belum kita kenal sebelumnya. Jangan mudah tergiur dengan tawaran keuntungan besar yang menurut anda berisiko besar juga.
Kalaupun nantinya ada yang menurut anda berpotensi mendatangkan keuntungan, ada baiknya jika anda mempertemukan saja pemesan dengan si pemilik barang. Tentu saja dengan perjanjian anda dapat keuntungan juga selaku makelar. Ini lebih aman menurut saya.
Selain itu, dari berbagai stakeholder yang terkait perlu juga untuk memberikan sosialisasi dan edukasi kepada Masyarakat secara berkala demi menghindari kejadian-kejadian penipuan seperti ini. Karena semakin waspada, ruang Gerak penipu juga semakin sempit.
Semoga para pedagang kecil semakin pintar dalam melihat peluang yang aman. Dan semoga sedikit tulisan saya ini bermanfaat.
Trending Now