Konten dari Pengguna
Tips Menjadi Orang Tua Yang Bijak Setelah Berpisah
6 September 2025 9:35 WIB
·
waktu baca 8 menit
Kiriman Pengguna
Tips Menjadi Orang Tua Yang Bijak Setelah Berpisah
Perceraian adalah hal yang menyakitkan, namun bukan berarti anak-anak harus menjadi korban yang terluka lebih parah. Lalu bagaimana kira-kira menjadi orang tua yang bijak setelah berpisah? Erniwati
Tulisan dari Erniwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjadi orang tua yang bijak setelah berpisah bukanlah hal mudah, namun pasti bisa diupayakan jika itu menyangkut kepentingan dan untuk kebaikan anak. Nah itu dia yang kadang hilang dari radar ingatan.

Tak bisa kita salahkan, karena berbagai beban pikiran dan perasaan muncul dan menghantam mental di waktu yang sama. Iya, mental orang tua yang sedang dalam tahap perceraian. Entah apapun alasan dan penyebab perceraiannya, dampaknya tetap besar dan menyakitkan.
Rasa sakit yang tidak hanya dirasakan dua orang yang akan mengakhiri kebersamaan, namun juga rasa sakit dalam diam anak-anak yang harus kehilangan title “keluarga Bahagia” versi mereka. Atau sebutan “orang tua lengkap” tanpa ada pertanyaan “orang tuamu pisah?”.
Lalu bagaimana kira-kira menjadi orang tua yang bijak setelah berpisah? Mari kita coba bahas satu persatu.
Dampak Perceraian Bagi Mental dan Fisik Anak
Perceraian tidak hanya berdampak pada kondisi emosional dan psikologis seorang anak, tetapi lebih dari itu juga dapat merembet ke kesehatan fisik mereka. Berikut ini beberapa dampak perceraian bagi Kesehatan mental dan fisik anak antara lain :
Dampak pada Mental Anak
Jika kita perhatikan, dampak secara mental ini memang diperparah dengan kondisi anak yang belum bisa sepenuhnya mengenali emosinya. Belum bisa mengambil Keputusan dengan baik, bahkan kadang belum tahu bagaimana menyalurkan emosinya dengan benar.
Dampak pada Fisik Anak
Beberapa uraian dampak di atas bukan hal yang sepele, ada Langkah yang harus diambil dalam rangka meminimalisir berbagai dampak negative yang timbul setelah perceraian terjadi.
Pentingnya Pembinaan dan Dukungan Bagi Orang Tua Yang Berpisah
Pembinaan dan dukungan bagi orang tua yang berpisah sangatlah penting, bukan hanya untuk kesehatan mental mereka sendiri, tetapi juga demi tumbuh kembang anak yang lebih sehat secara psikologis maupun sosial.
Berikut ini beberapa alasan pentingnya orang tua yang berpisah mendapatkan pembinaan dan juga dukungan, baik dari pihak luar (ahli psikologi) ataupun dari pihak keluarga:
1. Membantu Orang Tua Dalam Mengelola Emosi
Realitanya Perceraian bukan hanya berdampak pada anak, tetapi juga bagi pasangan yang bercerai tersebut. Perceraian menimbulkan stres, rasa bersalah, bahkan depresi pada orang tua.
Pembinaan dan dukungan (misalnya konseling) dapat membantu mereka menerima keadaan, mengendalikan emosi, serta tidak melampiaskan kemarahan kepada anak.
2. Mengasah Kemampuan Parenting Pasca-Perceraian
Pasca perceraian, orang tua perlu belajar bagaimana tetap menjalankan perannya meskipun tidak lagi tinggal serumah. Dukungan ini sangat penting agar mereka bisa menciptakan kondisi pola asuh yang tetap hangat, konsisten, sehat, dan tetap penuh kasih sayang.
3. Mengurangi Konflik dan Dampak Negatif bagi Anak
Dengan pembinaan atau konseling yang baik, orang tua bisa belajar cara berkomunikasi dengan mantan pasangan secara sehat tanpa pertengkaran. Hal ini akan memberikan rasa aman bagi anak, karena tidak berada di tengah konflik, dan tetap memiliki hubungan baik dengan kedua orang tuanya.
4. Memberikan Dukungan Sosial dan Finansial
Umumnya Perceraian pasti akan mempengaruhi kondisi ekonomi keluarga. Khususnya persoalan finansial bagi Perempuan dan anak-anak. Belum lagi soal status sosial di masyarakat yang kadang menjadi tekanan.
Dukungan finaansial baik dari keluarga besar, komunitas, maupun lembaga sosial, akan sangat membantu orang tua menjalani kehidupan baru. Pun dengan dukungan sosial juga menimbulkan perasaan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi situasi ini.
5. Membantu Orang Tua Menjadi Teladan Positif bagi Anak
Realitanya anak Adalah copier yang sangat ulung, mreka belajar dari sikap orang tuanya. Bagaimanapun orang tua Adalah teladan pertama bagi mereka. Jika orang tua mendapat pembinaan yang baik, maka diharapkan mereka bisa menunjukkan ketangguhan, kedewasaan, dan kemampuan beradaptasi. Hal ini akan membuat anak jadi lebih kuat dan percaya diri menghadapi perubahan dalam keluarganya.
6. Mencegah Dampak Jangka Panjang
Ada dampak jangka Panjang yang harus dicegah pasca perceraian. Itulah mengapa, tanpa pembinaan, orang tua bisa terjebak dalam konflik berkepanjangan, yang pada akhirnya merugikan anak.
Dengan adanya dukungan dan pembinaan, diharapkan perceraian dapat dijalani secara lebih sehat, sehingga anak tetap tumbuh dalam lingkungan penuh kasih saying. Selain itu, orang tua secara personal juga akan mampu belajar menerima keadaan dan melangkah maju demi si anak.
Menjadi Orang Tua Yang Bijak Demi Anak-anak
Lalu bagaimana menjadi orang tua yang bijak demi anak-anak, meskipun sakit pasca perceraian belum usai? Sulit dan tak mudah, itu pasti. Tapi bukan berarti tak bisa, karena semua butuh waktu dan prosesnya.
Menjadi orang tua yang bercerai bukanlah akhir dari dunia, atau akhir segalanya. Kita bisa berjuang meskipun kadang hasilnya di luar harapan.
Maka Langkah awal yang harus dilakukan adalah mencoba menerima keadaan terlebih dahulu. Menyadari apapun yang terjadi secara positif, tak perlu menyalahkan diri berlebihan. Siapapun bisa gagal, itu manusiawi.
Namun yang sangat penting adalah bagaimana menyikapi keadaan, dalam rangka menciptakan situasi yang kondusif dan nyaman bagi anak. Karena faktanya merekapun terpukul, ikut merasakan dampaknya secara fisik dan psikologis.
Untuk mempersiapkan situasi yang kondusif tadi, ada beberapa hal yang perlu mulai dilakukan oleh orang tua antara lain :
1. Pisahkan Masalah Personal Orang Tua dari Peran sebagai Ayah/Ibu
Banyak yang lupa, bahwa perceraian adalah konflik orang dewasa, urusan personal antara si ayah dan ibu. Maka anak tidak boleh dijadikan senjata dalam konflik tersebut. Sehingga, walaupun hubungan suami-istri berakhir, peran sebagai ayah/ibu tetap selamanya harus dijaga dan dijalankan.
2. Prioritaskan Kesejahteraan Anak
Kesejahteraan Anak harus menjadi prioritas di atas segalanya pada masa-masa ini. Anak butuh rasa aman, stabilitas, dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hindari bertengkar di depan anak, jangan menjelek-jelekkan mantan pasangan karena itu akan menyakiti si anak. Pastikan anak tetap merasa dicintai oleh kedua orang tuanya.
3. Ciptakan Komunikasi yang Sehat dengan Mantan Pasangan
Tidak ada yang mudah pasca perceraian, realitanya demikian. Namun Komunikasi yang sehat dengan mantan pasangan harus diciptakan atau dibangun. Memang tidak selalu mudah, tapi cobalah menjaga sopan santun demi anak. Fokus pada prioritas utama, yaitu anak. Dan hal-hal praktis seperti jadwal sekolah, kesehatan, kebutuhan emosional, dan kegiatan anak.
4. Jalankan Komitmen Yang Konsisten dan Rasa Aman
Meski rumah terbagi, komitmen akan aturan dasar dan nilai-nilai mendidik sebaiknya konsisten antara ayah dan ibu. Anak akan lebih mudah beradaptasi bila merasa memiliki dua rumah yang aman, bukan dua dunia yang terpisah dan bertentangan.
Point utamanya Adalah komitmen yang konsisten ini akan membuat anak merasa tidak kehilangan seluruh dunianya yang tadi baik-baik saja.
5. Berikan Ruang Untuk Anak Menyampaikan Emosinya
Anak pastinya akan merasa bingung, marah, atau sedih dengan keadaan yang berubah, status orang tua yang berubah. Maka berikan mereka ruang untuk menyalurkan emosinya. Dengarkan mereka tanpa menghakimi, beri ruang untuk bertanya dan curhat.
Yakinkan mereka bahwa perceraian bukan salah mereka sebagai anak, sampaikan bahwa tak semua harapan kita akan menjadi kenyataan dan berjalan sesuai kemauan.
6. Jangan Gunakan Anak sebagai Pesan Antar Orang Tua
Anak butuh ruang untuk adaptasi, jangan lagi dibebani dengan hal-hal antar orang dewasa. Jika ada hal penting, komunikasikan langsung dengan mantan pasangan, bukan lewat anak. Ini untuk menghindari beban emosional yang berlebihan pada anak.
Sehingga mereka dapat beradaptasi dengan baik dan lebih cepat pulih dalam menerima keadaan orang tuanya.
7. Fokus pada Perkembangan Anak
Jangan jadi egois, karena meskipun perceraian itu sakit, namun prioritas utama Adalah perkembangan anak. Mereka juga Adalah korban utamanya.
Fokus untuk membantu mereka mencapai potensi terbaik di sekolah, pertemanan, dan minat mereka. Jadilah pendukung utama, bukan penghambat.
8. Berikan Teladan Kedewasaan
Orang tua Adalah teladan bagi anak-anaknya, bercerai atau tidak, mereka tetap Adalah role model yang utama. Tunjukkan sikap yang penuh kesabaran, tanggung jawab, keikhlasan dan kedewasaan menghadapi situasi sulit. Ini akan mengajarkan anak untuk memiliki contoh nyata tentang bagaimana menghadapi tantangan hidup.
Membuat mereka tersadar bahwa hidup itu tak selalu baik-baik saja, tak melulu indah dan Bahagia. Sehingga mereka akan belajar dengan sendirinya, sikap Ketika menghadapi tantangan hidup itu seperti apa dan bagaimana.
Pada akhirnya, perpisahan bukanlah alasan menjadi orang tua yang tidak bertanggung jawab. Apalagi egois dan lupa bahwa ada manusia kecil yang masih butuh banyak kasih sayang dan bimbingan kita. Faktanya, hidup memang harus merasakan susah dan senang, tawa dan tangis, suka dan duka. Karena begitulah manusia diciptakan dan diberi kehidupan.
Semoga para orang tua yang telah berpisah di luar sana, semakin memahami dan menyadari peran penting mereka dalam kehidupan anak-anaknya. Stay strong!

