Konten dari Pengguna

Ketika Otak Tertidur: Neurosains di Balik Hipersomnia

EVELYN LITANY CHARENTZIA
Mahasiswa Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
25 November 2025 19:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Otak Tertidur: Neurosains di Balik Hipersomnia
Hipersomnia adalah kantuk berlebih meski tidur cukup. Neurosains menunjukkan gangguan otak dan neurotransmiter mengacaukan sistem tidur-bangun.
EVELYN LITANY CHARENTZIA
Tulisan dari EVELYN LITANY CHARENTZIA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi mengantuk setelah bangun tidur. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengantuk setelah bangun tidur. Sumber: Pixabay
Dalam kehidupan serba cepat, rasa kantuk kerap dianggap akibat begadang atau kurang disiplin menjaga pola tidur. Namun sebagian orang mengalami kantuk yang jauh lebih parah, bahkan datang secara tiba-tiba, menetap sepanjang hari, dan mengganggu pekerjaan maupun interaksi sosial. Kondisi ini dikenal sebagai hipersomnia, dan semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa penyebabnya tidak sesederhana kelelahan. Neurosains menemukan bahwa tidur dan kewaspadaan dikendalikan sistem saraf pusat, sehingga gangguan tidur seperti hipersomnia mencerminkan adanya proses biologis dalam otak yang tidak berjalan optimal. Untuk itu, kita perlu memahami hipersomnia dan neurosains di baliknya.
Apa itu Neurosains?
Neurosains adalah studi ilmiah yang mempelajari tentang bagaimana mekanisme sistem syaraf dan otak manusia, yang mencakup struktur, fungsi, proses biokimia, aktivitas listrik, hingga bagaimana semuanya menghasilkan pikiran, emosi, perilaku, kesadaran, serta pengalaman manusia sehari-hari. Tujuan utama neurosains adalah untuk memahami dasar biologis perilaku manusia, mengungkap penyebab gangguan neurologis dan psikologis, serta mengembangkan alat diagnosis dan pengobatan berbasis otak. Jadi, neurosains berusaha untuk mencari tahu bagaimana hubungan antara otak dan perilaku manusia.
Apa itu Hipersomnia?
Hipersomnia adalah suatu kondisi gangguan tidur yang ditandai dengan rasa kantuk berlebihan pada siang hari, atau jumlah tidur yang berlebihan, meskipun telah cukup tidur pada malam hari. Kondisi ini bukanlah rasa kantuk biasa seperti saat kita selesai begadang, melainkan kondisi yang berlangsung kronis dan berpotensi menganggu aktivitas sehari-hari. Seseorang dengan hipersomnia dapat tertidur sewaktu-waktu, misalnya saat sedang bekerja atau saat sedang mengemudi. Gejala umumnya meliputi:
1. Kelelahan dan mengantuk sepanjang hari
2. Durasi tidur yang terlalu lama dan tidak merasa segar saat bangun tidur
3. Kesulitan untuk tetap terjaga dan melakukan aktivitas
4. Perubahan suasana hati seperti cemas dan gelisah
5. Kesulitan berkonsentrasi dan mengingat
Penyebab Hipersomnia
Berdasarkan penyebabnya, hipersomnia dapat dibagi menjadi 2 jenis. Berikut adalah jenis-jenis hipersomnia dan penyebabnya:
1. Hipersomnia Primer
Jenis hipersomnia ini biasanya tidak memiliki kondisi medis yang mendasari dan ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan di siang hari. Penyebab hipersomnia primer diduga terjadi akibat mutasi (perubahan) genetik yang membuat produksi histamin di dalam otak berkurang. Kondisi ini dapat mencakup narkolepsi, yaitu gejala tertidur yang tiba-tiba dan tak terkendali. Narkolepsi sendiri ada dua, yaitu tipe 1 yang ditandai dengan kantuk ekstrem dan serangan tidur tiba-tiba, dan tipe 2 yang ditandai dengan kantuk berat, namun fungsi motorik tetap stabil.
2. Hipersomnia Sekunder
Hipersomnia sekunder sering dikaitkan dengan kondisi medis yang mendasarinya, seperti penyakit, gangguan psikologis, atau gangguan tidur lain. Sleep apnea, misalnya, membuat nafas berhenti berulang saat tidur, sehingga otak kekurangan oksigen dan menyebabkan kualitas tidur yang buruk dan memicu kantuk di siang hari. Penyakit neurologis seperti Parkinson, stroke, dan cedera otak traumatis juga dapat merusak pusat kewaspadaan dan memicu hipersomnia. Pada gangguan metabolic seperti hipotiroidisme, diabetes, atau infeksi kronis tubuh dapat menyebabkan kelelahan sistemik yang memengaruhi fungsi saraf dan energi otak. Obat-obatan dan zat tertentu juga turut menjadi faktor penyebab, seperti sedatif, antihistamin, opioid, alcohol, dan ganja, yang meningkatkan aktivitas GABA, neurotransmitter penghambat. Ketika GABA bekerja dominan, akan menciptakan rasa kantuk berjam-jam meski telah tidur cukup.
Namun, hipersomnia tidak selalu disebabkan gaya hidup buruk. Ritme kerja shift, stress ekstrem, atau kurang tidur memang dapat memperparah kantuk, tetapi jika rasa mengantuk tetap muncul meski tidur memadai, kemungkinan besar terdapat dasar neurologis atau medis yang butuh penanganan profesional. Karena itu, memahami penyebab hipersomnia melalui perspektif neurosains dapat membantu menemukan diagnosis lebih dini dan pengobatan yang lebih tepat.
Bagaimana Neurosains menjelaskan Hipersomnia?
Riset neurosains menemukan bahwa hipersomnia muncul ketika mekanisme otak yang mengatur tidur dan kewaspadaan tidak berjalan normal.
Bagaimana hal itu terjadi? Jawabannya ada pada jaringan otak pengatur tidur dan bangun, seperti hipotalamus, talamus, batang otak, hingga korteks serebral. Di dalam struktur-struktur ini, terdapat sistem komunikasi kimia yang menjaga kita tetap sadar, yaitu oreksin, dopamin, dan GABA. Kekurangan oreksin, misalnya, dapat menyebabkan narkolepsi tipe 1, sebuah bentuk hipersomnia yang membuat seseorang tertidur tiba-tiba. Sebaliknya, aktivitas GABA yang terlalu dominan membuat otak seperti terus berada dalam mode sedasi, sehingga penderitanya merasa mengantuk sepanjang hari.
Kemajuan neurosains memungkinkan para peneliti melihat proses ini secara langsung. Teknologi seperti MRI, fMRI, PET scan, EEG, serta analisis cairan serebrospinal memberi gambaran perubahan struktur, aktivitas listrik, metabolisme, dan zat kimia otak pada penderita hipersomnia. Temuan ini membuka jalan bagi metode diagnosis dan terapi baru dalam pengobatan hipersomnia, misalnya obat penstimulasi sistem oreksin atau pendekatan rehabilitasi neurologis.
Dengan memandang hipersomnia melalui kacamata neurosains, masyarakat dapat lebih empatik, dokter dapat menegakkan diagnosis lebih cepat, dan penderita berpeluang mendapatkan perawatan yang lebih tepat. Jika rasa kantuk terus muncul meski tidur cukup, konsultasi medis perlu dilakukan. Diagnosis dini dapat mencegah kecelakaan, gangguan emosional, hingga penurunan fungsi kognitif. Pada akhirnya, kesadaran ini membantu menghapus stigma dan mendorong edukasi tentang kesehatan tidur, sehingga kualitas hidup penderita dapat meningkat dan penelitian neurosains terus berkembang demi perawatan yang lebih efektif.
Trending Now