Konten dari Pengguna

Kelas Sosial di Balik Sepiring Salad: Dari Nutrisi ke Simbol Status

Evi Tesalonika H
Evi adalah mahasiswa Ilmu Ekonomi UGM asal Papua yang bersemangat dalam isu pembangunan daerah, ekonomi inklusif, dan keadilan sosial. Ia berpikir kritis, senang belajar hal baru, dan siap berkontribusi melalui tulisan dan diskusi yang membangun.
22 Juni 2025 13:59 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kelas Sosial di Balik Sepiring Salad: Dari Nutrisi ke Simbol Status
Makanan sehat seperti salad tak lagi soal nutrisi, tapi juga penanda status dan akses. Sebuah refleksi tentang gaya hidup, budaya makan, dan batas kelas sosial hari ini.
Evi Tesalonika H
Tulisan dari Evi Tesalonika H tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Photo Eating Salads in a Restaurant. Foto: Doğu Tuncer via pexels
zoom-in-whitePerbesar
Photo Eating Salads in a Restaurant. Foto: Doğu Tuncer via pexels
Banyak artikel membahas makanan sehat dalam konteks gaya hidup urban, tapi pertanyaannya: siapa yang benar-benar bisa menikmatinya setiap hari?
Salad kini bukan sekadar makanan sehat, tapi bisa menjadi simbol kelas sosial di masyarakat urban. Di tengah riuhnya unggahan makan siang estetik di Instagram, ada satu pertanyaan sederhana tapi penting: siapa yang benar-benar bisa menikmati sepiring salad seharga Rp60.000 setiap hari? Makanan, dalam banyak hal, bukan lagi sekadar soal rasa atau nutrisi. Ia kini bicara tentang status, akses, bahkan simbol gaya hidup.
Makanan tak lagi sekadar soal rasa dan isi perut. Dalam kehidupan urban hari ini, makanan telah menjelma menjadi simbol identitas, gaya hidup, bahkan—kelas sosial. Coba buka media sosial kita. Gaya hidup visual hari ini mendorong banyak orang memamerkan sarapan mereka: overnight oats, chia seed, telur rebus, dan tentunya—salad. Semua ditata rapi di piring putih, diterangi cahaya alami, dan diberi caption motivasional. Tapi di balik keindahan itu, ada realitas yang lebih sunyi.

Salad dan Kelas Sosial

Pilihan terhadap makanan sehat seperti salad pun sering dikaitkan dengan kesadaran dan gaya hidup tertentu. Bagi sebagian kalangan, makanan sehat dan ā€œclean eatingā€ bukan sekadar pilihan nutrisi. Ia adalah penanda. Penanda bahwa seseorang memiliki pengetahuan gizi, waktu luang, dan yang paling penting—akses ekonomi. Tidak semua orang bisa memilih salad dibandingkan nasi padang, bukan karena tidak mau sehat, tapi karena harga dan kenyataan hidup kadang tidak memberi pilihan.
Antropologi melihat makanan bukan hanya sebagai kebutuhan biologis, melainkan produk budaya yang sarat makna sosial. Apa yang kita makan, di mana kita makan, bahkan cara kita memotret makanan, mencerminkan siapa diri kita atau siapa yang ingin kita tunjukkan. Seperti kata Pierre Bourdieu, makanan adalah bentuk ā€œdistingsiā€ā€”cara halus menunjukkan kelas.
Fenomena ini semakin kentara ketika restoran sehat tumbuh subur di kota-kota besar. Salad bukan sekadar makanan, tapi bagian dari ritual gaya hidup modern—aktif, produktif, dan estetik. Namun bagi banyak orang lain, pola makan sehari-hari tetap berkutat di warteg, angkringan, atau dapur seadanya. Di sinilah batas sosial tampak: salad dan sejenisnya bisa menjadi simbol eksklusivitas.

Gaya Hidup atau Validasi?

Bukan berarti kita harus menyalahkan siapa pun yang makan salad. Tapi ada baiknya kita lebih reflektif: apakah pilihan makanan kita benar-benar sehat atau hanya ingin terlihat sehat? Apakah kita makan demi tubuh atau demi validasi?
Dalam dunia yang makin visual dan performatif, sepiring salad bisa berarti lebih dari sekadar sayuran segar. Ia bisa menjadi cermin bagaimana kelas sosial dan budaya dikonstruksi melalui hal-hal sehari-hari. Mungkin sudah waktunya kita bertanya ulang: apakah pilihan makan kita sungguh mencerminkan siapa kita—atau hanya menampilkan siapa yang kita ingin dunia lihat?
Trending Now