Konten dari Pengguna

Kebebasan Batin

Ewia Putri
Seorang pimpinan lembaga PKBM kerinci dan juga anggota LHKP Muhammadiyah jambi
6 November 2023 14:32 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kebebasan Batin
Sebagai individu, kita semua merindukan kebebasan. Kebebasan untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginan kita, tanpa dibatasi oleh pengekangan apapun. Begitu juga, kita mendambakan rasa aman, bebas
Ewia Putri
Tulisan dari Ewia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagai individu, kita semua merindukan kebebasan. Kebebasan untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginan kita, tanpa dibatasi oleh pengekangan apapun. Begitu juga, kita mendambakan rasa aman, bebas dari ketakutan dan kecemasan terhadap ancaman-ancaman dari luar diri kita. Keinginan akan kebebasan merasuki alam bawah sadar manusia, merupakan aspek esensial dari hakikat manusia itu sendiri.
Kebebasan adalah suatu nilai yang sangat dihargai, dan alasan utamanya adalah dua hal. Pertama, kebebasan membawa kita menuju cita-cita yang lebih tinggi, seperti keadilan dan kemakmuran. Kedua, kebebasan dianggap sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Kebebasan bukanlah sekadar alat untuk mencapai tujuan, melainkan tujuan itu sendiri. Pandangan semacam ini merintis akar kuat dalam pemikiran masyarakat Eropa dan Amerika saat ini. Tanpa kebebasan, manusia belum benar-benar menghidupkan keberadaannya.
Namun, apakah makna sejati dari kebebasan itu sendiri? Jawaban terhadap pertanyaan ini memiliki beragam sudut pandang. Ada berbagai bentuk kebebasan, seperti kebebasan politik, kebebasan ekonomi, kebebasan budaya, dan sebagainya. Namun, semua bentuk kebebasan ini berakar pada kebebasan batin. Namun, apa arti sebenarnya dari kebebasan batin?
Dalam perspektif Seneca, seorang filsuf Stoik yang hidup sekitar tahun 4 SM hingga 65 M, ia berpendapat bahwa kebebasan batin adalah hidup bahagia, yaitu hidup yang selaras dengan alam dan beriringan dengan hukum-hukum alam. Kebahagiaan tidak tergantung pada kenikmatan semata, melainkan pada keutamaan, yaitu hidup yang sesuai dengan gerak dan aturan alam.
Kenikmatan seringkali menjadi godaan besar bagi banyak orang, mengalihkan mereka dari mencari keutamaan sejati. Banyak yang merasa lelah dan bertanya-tanya bagaimana bisa bahagia, sementara mereka sadar bahwa semua ini sementara, dan musibah bisa datang kapan saja. Bagaimana kita dapat mengatasi kecemasan dan godaan kenikmatan ini?
Mereka yang terjebak dalam godaan ini mencari berbagai cara untuk mengatasi kegelisahan mereka, mulai dari penggunaan narkoba hingga konsumtivisme berlebihan, bahkan hingga tindakan ekstrem seperti pelacuran dan kekayaan berlebihan, seringkali melibatkan korupsi. Apakah itu benar-benar berharga?
Tentu saja, tindakan semacam ini memiliki konsekuensi yang merugikan. Oleh karena itu, dorongan untuk mencari kenikmatan, terutama kenikmatan sementara, harus diatur atau bahkan dikendalikan agar tidak merugikan kita di masa depan. Yang penting adalah menjadi bebas dari dorongan emosional, sehingga kita bisa menerima hidup apa adanya.
Inilah makna sejati kebahagiaan menurut Seneca: bukanlah mengikuti kenikmatan atau merasakan penderitaan, melainkan menjadi bebas dari keduanya. Seseorang tidak lagi terpengaruh oleh perasaan senang atau sedih. Mereka hidup dengan tenang, tidak tergoyahkan oleh perubahan-perubahan di sekitar mereka. Hidup adalah serangkaian peristiwa, baik sedih maupun menyenangkan. Kita tidak boleh memilih satu atau yang lain jika kita ingin meraih kebahagiaan sejati. Kebahagiaan hanya dapat dicapai jika kita mampu menerima semua peristiwa dengan lapang dada, tanpa memilih apapun.
Inilah yang dimaksud Seneca dengan β€œkeutamaan” yang kemudian dikenal sebagai β€œsikap Stoik”: sikap yang tidak membiarkan perasaan-perasaan mengendalikan diri. Sikap Stoik bertujuan untuk membuat kita tetap tenang dalam menghadapi perubahan-perubahan dalam hidup.
Namun, ketika kita meraih keberuntungan, dan kita masih merasa senang, atau ketika kita menghadapi musibah, dan kita merasa sedih, menurut Seneca, itu adalah tanda bahwa kita belum mencapai kebebasan batin sejati. Kita harus menghindari kedua perasaan itu. Kita harus mengeluarkannya dari pikiran kita. Kita harus mencari yang lebih tinggi dari keduanya, yaitu ketenangan batin yang tidak terkait dengan kesedihan atau kebahagiaan. Tidaklah berasal dari ledakan emosi sesaat.
Ketenangan dan kebebasan batin seperti itu hanya dapat ditemukan jika kita hidup sesuai dengan hukum-hukum alam. Artinya, kita harus bersikap pasrah terhadap apa yang terjadi, karena alam tahu apa yang terbaik untuk kita. Kepasrahan pada alam adalah inti dari kebebasan batin dan juga kunci dari kebahagiaan sejati.
Dalam dunia yang terus berubah, menemukan makna sejati dalam kebebasan batin bisa menjadi pencarian yang penuh tantangan. Seneca memberikan kita pandangan berharga tentang bagaimana mencapainya, dengan menjadi bebas dari dorongan emosional, menerima hidup dengan lapang dada, dan hidup sesuai dengan hukum-hukum alam. Keselarasan dengan alam dan ketenangan batin akan membawa kita menuju kebahagiaan sejati. Pemikiran ini memperkaya perspektif kita tentang arti sejati dari kebebasan dan kebahagiaan dalam kehidupan kita yang terus bergerak.
sumber : Photo Pixabay
Trending Now