Konten dari Pengguna

Tentang Maaf

Ewia Putri
Seorang pimpinan lembaga PKBM kerinci dan juga anggota LHKP Muhammadiyah jambi
14 Januari 2026 20:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tentang Maaf
Mungkin rumah yang sehat secara emosional selalu dimulai dari keberanian yang paling sederhana, keberanian untuk berkata “Maaf.”
Ewia Putri
Tulisan dari Ewia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi minta maaf. Foto: Eddie5/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minta maaf. Foto: Eddie5/Shutterstock
Beberapa hari yang lalu, pada waktu yang tidak saya rencanakan, saya bertemu dan berbincang dengan seorang teman lama. Teman seangkatan semasa saya masih kuliah S1. Perbincangan kami mengalir biasa saja tentang pekerjaan, tentang lelah, tentang hidup yang pelan-pelan berubah tanpa pernah benar-benar memberi aba-aba.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba ia mengajukan sebuah pertanyaan.
“Ew, menurutmu bagaimana tentang orang tua yang meminta maaf kepada anaknya? Apa itu tanda orang tua merendahkan diri? Atau justru membuat anak tidak lagi menghargai orang tuanya?”
Rini adalah salah satu teman saya yang telah menikah. Ia memiliki seorang anak perempuan yang kini sedang beranjak remaja. Saya—seperti yang ia tahu—belum menikah dan belum memiliki anak. Jujur saja, pertanyaan itu membuat saya tersenyum kecil. Ada rasa tidak pantas untuk menjawabnya.
“Rin,” kata saya, “apa tidak aneh kamu menanyakan ini kepadaku?”
Rini tersenyum balik.
“Mungkin kamu belum menikah,” katanya, “tapi kamu tahu banyak tentang anak. Beberapa tulisanmu bersinggungan dengan parenting. Dan dari caramu bercerita, aku merasa kamu punya pengalaman sebagai seorang anak.”
Saya diam sejenak. Ada pengalaman hidup yang tidak selalu bisa diceritakan secara gamblang, tetapi cukup kuat membentuk cara seseorang memandang relasi—terutama relasi orang tua dan anak.
Saya memang tidak belajar psikologi secara formal. Namun saya tumbuh dalam pola asuh yang mengajarkan satu hal sejak dini: bahwa diam sering kali lebih aman daripada bersuara. Bahwa perasaan tidak selalu perlu dijelaskan. Bahwa kesalahan orang dewasa jarang diakui, apalagi dimintakan maaf.
Dari pengalaman-pengalaman itulah saya mulai membaca. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memahami mengapa luka bisa bertahan begitu lama, bahkan ketika waktu sudah berlalu.
Saya lalu menjawab pertanyaan Rini dengan hati-hati.
“Rin,” kata saya, “ada satu gagasan yang pernah saya temukan dalam buku karya John Gottman, seorang peneliti hubungan keluarga. Ia menuliskan bahwa ketika orang tua berani mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada anak, yang dibangun bukan sekadar meredakan konflik. Justru yang sedang ditanam adalah rasa aman secara emosional.”
Bagi anak, permintaan maaf bukan soal menang atau kalah. Ia adalah pengakuan bahwa perasaannya nyata. Bahwa relasi tidak selalu tentang siapa yang berkuasa, tetapi tentang siapa yang bertanggung jawab.
Pandangan ini, bagi saya, selaras dengan gagasan Donald Winnicott tentang good enough parent. Winnicott menyebut bahwa orang tua tidak harus sempurna. Yang dibutuhkan anak adalah orang tua yang hadir, responsif, dan cukup jujur untuk mengakui keterbatasannya. Dalam kerangka ini, meminta maaf bukan kegagalan peran, melainkan bagian dari kehadiran yang sehat.
Saya sampaikan itu kepada Rini sambil mengingat berbagai pola asuh yang sering kita jumpai—pola yang tampak wajar, bahkan dianggap lumrah. Orang tua yang membesarkan anak dengan suara tinggi, lalu menyebutnya ketegasan. Orang tua yang menutup ruang dialog dengan kalimat, “kamu belum tahu apa-apa.” Orang tua yang memilih diam sebagai hukuman, membuat anak belajar menafsirkan sunyi sebagai penolakan.
Masalahnya, pola-pola ini tidak berhenti di masa kanak-kanak.
Ia terbawa hingga dewasa.
Anak yang tumbuh tanpa pernah didengar sering kali menjadi orang dewasa yang ragu pada suaranya sendiri. Mereka terbiasa mempertanyakan perasaan: apakah aku berlebihan, apakah aku salah, apakah aku pantas marah atau kecewa. Banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi yang tampak kuat dari luar, tetapi rapuh dalam relasi.
Sebagian menjadi people pleaser—takut mengecewakan, takut ditinggalkan. Sebagian lain kesulitan mempercayai siapa pun, karena sejak kecil belajar bahwa kedekatan sering disertai penyangkalan. Ada pula yang tumbuh dengan kemarahan yang tidak jelas sumbernya, karena emosi tidak pernah diberi ruang untuk diolah.
Dalam relasi dewasa—pertemanan, pekerjaan, bahkan pernikahan—pola itu muncul kembali. Ada yang sulit meminta maaf karena tidak pernah melihat contoh. Ada yang takut mengakui salah karena sejak kecil kesalahan selalu dibalas dengan hukuman, bukan pemahaman. Ada pula yang merasa bersalah hanya karena ingin didengar.
Temuan-temuan ini sejalan dengan penelitian Diana Baumrind tentang pola asuh. Pola otoriter memang bisa melahirkan kepatuhan, tetapi sering gagal menumbuhkan kedewasaan emosional. Sementara pola yang tegas namun dialogis justru membentuk rasa hormat yang lebih sehat.
Saya katakan pada Rini,
“Kadang yang menjauhkan anak dari orang tuanya bukan kesalahan besar, tetapi akumulasi hal-hal kecil yang tidak pernah disadari.”
Menjadi orang tua, bagi saya, bukan soal selalu benar. Ia adalah kesiapan untuk terus belajar—termasuk belajar dari dampak jangka panjang atas cara kita memperlakukan anak. Anak-anak hari ini hidup di zaman yang berbeda. Dunia mereka lebih cepat, lebih bising, dan lebih rapuh secara emosional. Pola lama yang hanya mengandalkan kuasa sering kali tidak cukup untuk menjawab luka-luka baru.
Saya sempat berkata padanya,
“Maaf ya, Rin. Mungkin aku belum berada di posisimu.”
Ia hanya tersenyum. Barangkali ia mengerti bahwa yang saya sampaikan bukan sekadar bacaan, tetapi hasil permenungan yang panjang.
Masih banyak orang tua yang meyakini bahwa karena mereka melahirkan, maka mereka selalu benar. Anak lalu diperlakukan sebagai milik, bukan amanah. Padahal anak bukan hanya butuh diarahkan. Ia butuh didengar. Ia butuh kehadiran yang mengakui keberadaannya sebagai manusia yang utuh.
Dalam agama, manusia tidak pernah digambarkan sebagai makhluk tanpa salah. Justru kesadaran akan kesalahan itulah yang membuka jalan pertumbuhan. Meminta maaf bukan tanda kelemahan iman. Ia adalah bentuk kerendahan hati—dan kerendahan hati selalu melahirkan kekuatan yang tenang.
Meminta maaf kepada anak bukan berarti orang tua kehilangan kuasa. Ia sedang menata ulang relasi agar tetap manusiawi. Dari situlah anak belajar menghormati orang tua bukan karena takut, tetapi karena merasa aman.
Saya tahu, karena ada masa ketika kata itu terasa sangat jauh—dan dampaknya terasa lama setelah masa kanak-kanak berlalu.
Dan mungkin, rumah yang sehat secara emosional selalu dimulai dari keberanian yang paling sederhana—keberanian untuk berkata, “Maaf.”
Trending Now