Konten dari Pengguna

Krisis Iklim Dunia: dari Arktik yang Mencair ke Ambisi Negara-negara Besar?

Muhammad Fathi Aldrin
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
24 Oktober 2025 16:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Krisis Iklim Dunia: dari Arktik yang Mencair ke Ambisi Negara-negara Besar?
Tulisan ini membahas bagaimana krisis iklim global, terutama mencairnya es di Arktik, memicu persaingan geopolitik antarnegara besar dan menimbulkan ancaman baru bagi keamanan internasional.
Muhammad Fathi Aldrin
Tulisan dari Muhammad Fathi Aldrin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi mencairnya es di kawasan kutub akibat krisis iklim dunia. https://www.shutterstock.com/image-photo/two-penguins-stand-on-iceberg-surrounded-2512140027
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mencairnya es di kawasan kutub akibat krisis iklim dunia. https://www.shutterstock.com/image-photo/two-penguins-stand-on-iceberg-surrounded-2512140027
Perubahan iklim telah menjadi isu global yang mendesak dan kompleks. Isu ini tidak lagi sekadar tentang cuaca yang makin memanas, melainkan juga mengancam berbagai aspek kehidupan manusia seperti ketahanan pangan, ekonomi, hingga keamanan nasional. Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menunjukkan bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 1,2 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri. Sekilas angka itu tampak kecil, tetapi dampaknya jauh lebih besar dari yang dibayangkan karena membuat gletser mencair, permukaan laut naik, dan cuaca ekstrem terjadi lebih sering di berbagai belahan dunia.
Kenaikan suhu global memicu ketegangan sosial dan ekonomi di banyak negara. Fenomena kekeringan ekstrem mengakibatkan gagal panen di Afrika dan Timur Tengah, mendorong migrasi besar-besaran yang berdampak pada stabilitas politik Eropa. Sementara di kawasan Asia, badai tropis yang semakin kuat dan banjir besar menelan korban jiwa dan menghancurkan infrastruktur. Semua ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman lingkungan semata, tetapi juga ancaman terhadap keamanan manusia yang mencakup hak dasar untuk hidup aman, sejahtera, dan terlindungi dari bencana.
Perubahan iklim bukan cuma soal suhu yang meningkat atau cuaca yang makin tak menentu. Di balik semua itu, ada dampak besar yang sering tidak disadari karena menyangkut stabilitas politik dan keamanan dunia. Ketika sumber daya seperti air, energi, dan bahan pangan semakin menipis, persaingan antarnegara pun ikut memanas. Negara-negara yang sebelumnya sudah memiliki ketegangan bisa makin mudah terlibat konflik akibat tekanan lingkungan yang terus meningkat.
Salah satu contohnya terlihat di wilayah Arktik. Pencairan es di kawasan ini bukan hanya mengubah peta bumi, tetapi juga memunculkan perebutan baru antarnegara besar atas sumber daya dan jalur pelayaran yang dulu tertutup es.

Pencairan Es Arktik dan Perebutan Kepentingan Negara Besar

Ilustrasi kapal ekspedisi melintasi perairan Arktik yang mulai mencair. https://www.shutterstock.com/image-photo/expedition-ship-iceberg-antarctic-sea-1216690258
Arktik selama berabad-abad dikenal sebagai wilayah beku yang nyaris tak terjamah, namun dalam dua dekade terakhir kawasan ini berubah secara drastis. Data dari National Snow and Ice Data Center (NSIDC) menunjukkan bahwa lapisan es laut Arktik terus menurun setiap tahunnya dan bahkan mencapai rekor terendahnya dalam beberapa tahun terakhir. Pencairan ini bukan hanya tanda bahaya ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui jalur pelayaran alternatif seperti Northern Sea Route dan Northwest Passage. Jalur ini dapat mempersingkat rute perdagangan antara Asia dan Eropa hingga 40 persen yang menyebabkan keuntungan besar bagi ekonomi global, tetapi juga sumber persaingan baru antarnegara.
Selain membuka rute perdagangan, pencairan es Arktik juga menyingkap kekayaan sumber daya alam yang selama ini tersembunyi di bawah lapisan es seperti cadangan minyak, gas alam, dan mineral langka yang jumlahnya diperkirakan mencapai seperempat dari total cadangan energi dunia. Negara-negara seperti Rusia, Amerika Serikat, Kanada, Norwegia, dan Denmark berlomba memperkuat klaimnya atas wilayah ini. Misalnya, Rusia yang membangun pangkalan militer dan memperluas zona pengaruhnya di Kutub Utara, sementara Amerika Serikat meningkatkan operasi Angkatan Laut di Alaska dan bekerja sama dengan sekutunya di NATO. Tak ketinggalan, China yang bukan negara Arktik pun ikut mendeklarasikan diri sebagai near-Arctic state dan memperkenalkan inisiatif β€œPolar Silk Road” sebagai bagian dari Belt and Road Initiative (BRI).
Persaingan ini menjadikan Arktik bukan lagi sekadar wilayah es dan salju, melainkan arena baru bagi rivalitas geopolitik global. Kawasan yang dulunya simbol kedamaian lingkungan kini berubah menjadi panggung perebutan sumber daya, pengaruh, dan kekuatan strategis. Dengan kata lain, perubahan iklim yang seharusnya mendorong kerja sama justru menciptakan dinamika baru yang dapat mengancam stabilitas keamanan internasional.

Dari Krisis Iklim ke Ancaman Keamanan Internasional

Pencairan es Arktik menunjukkan bagaimana isu lingkungan dapat bergeser menjadi persoalan keamanan global. Ketika wilayah yang sebelumnya tidak dapat diakses tiba-tiba terbuka, muncul perebutan jalur pelayaran, eksplorasi sumber daya, dan penempatan kekuatan militer. Dalam teori keamanan internasional, ini menandakan pergeseran dari ancaman tradisional seperti perang antarnegara ke ancaman non-tradisional yang bersifat lintas batas dan multidimensi.
Krisis iklim juga menantang konsep kedaulatan dan tanggung jawab global. Tidak ada satu negara pun yang dapat menyelesaikannya sendiri. Jika negara-negara besar hanya fokus pada eksploitasi ekonomi dan pengaruh militer, maka Arktik bisa menjadi titik konflik baru yang memperburuk hubungan internasional yang sudah rapuh akibat perang dagang dan perebutan pengaruh geopolitik di tempat lain.
Dalam situasi seperti ini, pendekatan militeristik jelas bukanlah solusi yang dapat diambil. Dunia membutuhkan diplomasi iklim yang lebih kuat dan kolaboratif. Negara-negara besar perlu menempatkan perubahan iklim sebagai agenda utama keamanan global, bukan sekadar isu lingkungan atau politik domestik. Forum seperti Arctic Council dapat menjadi wadah penting untuk memperkuat kerja sama dan memastikan eksplorasi sumber daya dilakukan secara damai dan berkelanjutan.
Trending Now