Konten dari Pengguna
Membaca vs Menonton: Apakah Literasi Anak Muda 2026 Semakin Ringan?
1 Januari 2026 22:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Membaca vs Menonton: Apakah Literasi Anak Muda 2026 Semakin Ringan?
Anak muda 2026 lebih suka menonton video daripada membaca. Literasi cepat, tapi apakah tetap mendalam dan kritis?Fadly Nur Azzidane
Tulisan dari Fadly Nur Azzidane tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Scroll TikTok 10 menit, sudah dapat ringkasan buku 200 halaman. Menonton video tutorial 5 menit, langsung paham konsep yang biasanya butuh jam belajar. Di era 2026, anak muda memang semakin cepat “mencerna” informasi—tapi apakah ini benar-benar literasi?
Fenomena ini bukan tanpa dasar. Survei terbaru menunjukkan bahwa sekitar 70% remaja lebih suka video pendek, infografis, atau podcast dibanding membaca artikel panjang atau buku fisik. Dengan ponsel di tangan, semua informasi bisa diakses dalam hitungan detik. Ringkas, visual, dan cepat—itulah yang menarik perhatian generasi sekarang.

Di satu sisi, perkembangan ini membawa dampak positif. Menonton konten edukatif memungkinkan anak muda memahami konsep dengan cepat dan lebih mudah mengingat informasi yang kompleks. Literasi digital pun meningkat, karena mereka terbiasa memilah mana konten yang relevan dan mana yang tidak. Proses belajar pun menjadi lebih fleksibel: belajar di bus, di kamar, atau bahkan saat menunggu kelas dimulai, semuanya bisa dilakukan sambil menonton video edukatif.
Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Literasi bukan hanya soal “mengonsumsi” informasi, tetapi juga memahami, menganalisis, dan menilai informasi tersebut. Ketika membaca teks panjang berkurang, kemampuan berpikir kritis pun ikut menipis. Anak muda cenderung menghafal fakta permukaan, tanpa menggali konteks, argumen, atau logika yang mendasarinya. Ini bisa membuat pemahaman dangkal, dan dalam kasus ekstrem, lebih mudah termakan hoaks atau informasi yang menyesatkan.
Menonton juga sering menimbulkan kebiasaan multitasking: sambil scroll komentar, sambil buka chat, sambil dengar musik. Semua ini memecah konsentrasi, sehingga informasi yang masuk tidak sepenuhnya diproses. Sementara membaca, meski terasa lebih lambat, mendorong fokus penuh pada satu teks, sehingga kemampuan analisis berkembang lebih baik.
Dari pengalaman sehari-hari, saya melihat generasi 2026 pintar memanfaatkan teknologi, tapi kadang kehilangan “rasa” membaca. Anak-anak muda bisa memahami ringkasan video buku, tapi saat diminta menulis opini panjang tentang buku yang sama, banyak yang kesulitan. Ini bukan soal malas, tapi soal proses berpikir yang terpangkas oleh kecepatan konsumsi informasi.
Jadi, apakah literasi anak muda 2026 lebih ringan? Bisa dibilang iya, tapi bukan berarti lebih lemah. Menonton bukan musuh literasi, tapi membaca tetap tak tergantikan jika ingin membangun kemampuan berpikir kritis. Tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan keduanya: menonton untuk cepat memahami, membaca untuk menganalisis, dan menggabungkan keduanya agar informasi yang diterima tidak hanya cepat, tapi juga bermakna.
Mungkin ini saatnya bertanya pada diri sendiri: Apakah kita hanya ingin cepat tahu, atau ingin benar-benar mengerti? Anak muda 2026 memiliki akses tanpa batas ke informasi, tapi kemampuan memilih cara belajar yang tepatlah yang menentukan kualitas literasinya. Di era digital, literasi tidak diukur dari seberapa banyak yang dibaca atau ditonton, tapi dari seberapa dalam kita memahami apa yang kita konsumsi.

