Konten dari Pengguna

Aroma Kopi, Berkas Perkara, dan Hantu Ceker Ayam

Fahruddin Fitriya
Jurnalis yang menavigasi dunia berita dengan akal sehat seadanya, sebab realitas kerap lebih aneh dari fiksi ilmiah. Biarlah ejaan nama saya jadi korban inkonsistensi administrasi (Fahruddin Fitria/Fahrudin Fitriya), asalkan kewarasan tetap terjaga.
30 November 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Aroma Kopi, Berkas Perkara, dan Hantu Ceker Ayam
Fitrah banting setir ke meja kriminal Polresta usai tragedi Bima. Di sana, ia temukan misteri kecelakaan truk terkait kasus ceker ayam dan Wali Kota. Misi barunya: tegakkan keadilan!
Fahruddin Fitriya
Tulisan dari Fahruddin Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fitrah terkejut saat meihat berkas laporan kecelakaan truk pengangkut ceker ayam PT Boga Lidah Pasrah. (Ilustrasi)
zoom-in-whitePerbesar
Fitrah terkejut saat meihat berkas laporan kecelakaan truk pengangkut ceker ayam PT Boga Lidah Pasrah. (Ilustrasi)
Kematian tragis Bima Wicaksono membuat Fitrah Nusantara terguncang. Liputan ‘Ceker Ayam Oplosan’ itu memang sukses besar—Wali Kota dinonaktifkan, KPK turun tangan, dan Kabar Kilat meraih penghargaan (yang sayangnya terbuat dari fiber murah, bukan emas murni). Tapi bagi Fitrah, ada noda pahit yang membekas. Dia merasa bersalah, seolah dia wartawan pembawa sial dengan status 'tersangka' dalam urusan human error.
Bos Top, sang redaktur termometer datar yang kini sering membawa kitab suci ke kantor (mungkin karena overthinking dosa-dosa redaksionalnya yang sudah masuk kategori delik 'memanipulasi angle berita'), melihat perubahan pada wartawan magang andalannya. Fitrah yang biasanya ceria, kini lebih sering melamun, menatap monitor dengan tatapan kosong, teringat wajah panik almarhum Pak Bima.
"Kamu butuh udara segar, Fit," ujar Bos Top suatu pagi, sambil menyeruput kopi hitamnya yang tampak pekat seperti masa depan Fitrah tanpa BPJS ketenagakerjaan. "Mulai besok, kamu pindah job desk."
Fitrah menoleh cepat, panik. "Ke mana, Bos? Apa saya dipecat karena bikin narasumber jantungan? Itu kan bukan unsur 'sengaja'!"
"Bukan," jawab Bos Top, "Kamu saya pindahkan ke meja kriminal. Liputan Polresta. Kamu cocok di sana. Naluri hukum kamu itu terlalu sayang kalau cuma buat ngurusin UGD yang isinya orang kejepit mesin bakso atau kakek main Candy Crush sambil menunggu visum et repertum jempolnya."
Fitrah menelan ludah. Meja kriminal? Polresta? Itu artinya berurusan dengan polisi serius (serius kaku), penjahat (serius licin), dan birokrasi yang kaku (inkracht kaku). Tidak ada lagi drama manusia yang absurd tapi lucu. Ini dunia nyata, keras, dan penuh aroma maskulin (baca: bau rokok dan kopi basi yang melanggar pasal 'kenyamanan publik').
Hari pertama di Polresta, Fitrah langsung disambut aroma khas yang membuatnya rindu bau karbol UGD yang sedikit lebih beradab. Aroma rokok kretek (filter sepertinya barang haram di sini), kopi basi, dan kertas-kertas laporan yang menumpuk tak karuan, menciptakan parfum terburuk kedua setelah UGD yang penuh muntah. Sebuah locus delicti bau yang sempurna.
"Ini pos kamu," tunjuk seorang senior bernama Bang Jack, wartawan kriminal senior yang kulitnya sudah setebal aspal jalan raya yang dilindas truk pengangkut ceker ayam selama puluhan tahun. "Di sini, kita nggak nyari human interest yang bikin ngakak. Kita nyari fakta yang bikin kepala pening dan polisi emosi. Kalau beruntung, kita bisa menegakkan res ipsa loquitur (fakta berbicara sendiri) soal kualitas kopi di sini."
Fitrah duduk di kursi reotnya. Di meja kerjanya, hanya ada tumpukan berkas perkara, press release yang membosankan setengah mati (pelanggaran lex specialis terhadap waktu tidur siang), dan sebuah asbak penuh puntung rokok—semuanya terasa mati rasa. Dia rindu recorder jadulnya yang penuh kenangan (dan bau amis ceker ayam).
Misi pertamanya tergolong remeh-temeh; mengurus jadwal press conference kasus curanmor (pencurian sepeda motor) dan wawancara dengan Kasatreskrim.
"Selamat pagi, Pak Kasat," Fitrah menyapa Kompol Teguh, seorang perwira muda yang tampak tegap dan disiplin, berbanding terbalik dengan Bos Top yang acak-acakan dan sepertinya melanggar pasal 'kerapian' di kantor. "Saya Fitrah dari Kabar Kilat."
"Pagi," jawab Kompol Teguh singkat, melirik lencana wartawan magang di dada Fitrah, seolah sedang menilai kualitas barang obralan yang kadaluarsa semalam. "Ada perlu apa? Mau cari drama sinetron lagi? tampang kamu cocoknya di meja gosip." sindirnya, sudah tahu reputasi Fitrah dari UGD.
"Ingin konfirmasi jadwal press conference kasus curanmor, Pak," ujar Fitrah, mencoba terdengar profesional, tapi suaranya sedikit bergetar, mirip saksi bisu yang ketakutan di pengadilan.
Kompol Teguh mengernyitkan dahi. "Sudah saya sebar di grup WA wartawan, Mas. Cek saja di sana. Update dong alat kerjanya. Jangan gaptek, itu bisa jadi alasan pembenar kalau kamu ketinggalan berita penting."
Grup WA? Fitrah merogoh ponselnya, yang ternyata sudah lowbat karena semalam dia pakai main game Candy Crush sampai level 500—kebiasaan buruk yang menular dari Kakek di UGD, yang sepertinya sudah residivis dalam hal main game saat sakit.
"Maaf, Pak, ponsel saya mati," Fitrah tersipu malu, berharap bumi menelannya bulat-bulat dan memberinya hakim yang adil.
Seorang polisi muda di pojok ruangan terkikik geli. Kompol Teguh hanya menggelengkan kepala. "Anak zaman now," gumamnya. "Besok-besok bawa kabel charger sekalian. Kalau perlu, bawa genset. Tempus delicti (waktu kejadian) berita nggak bisa dinego."
Fitrah ngeloyor pergi dengan perasaan gagal total. Dunia Polresta ini lebih kaku dari UGD, dan dia merasa gagap lagi, seolah sedang menghadapi interogasi silang dari jaksa penuntut umum.
Beberapa minggu berlalu. Fitrah mulai beradaptasi. Dia belajar bahasa sandi polisi (misalnya "86" berarti "siap", bukan kode rahasia alien), tahu warung kopi mana yang paling enak di seberang Polresta (yang barista-nya mantan napi kasus penggelapan kopi sachet), dan belajar cara menyelinap ke TKP tanpa ketahuan petugas (menggunakan jurus "permisi, numpang lewat, Pak").
Suatu sore, saat semua wartawan sibuk mengejar kasus narkoba besar yang sedang hot, Fitrah duduk sendirian di pos jaga, iseng membaca tumpukan berkas perkara lama yang sudah berdebu, yang seharusnya sudah masuk museum arsip atau jadi barang sitaan karena tak terurus.
Matanya tertuju pada sebuah laporan kecelakaan lalu lintas tahun lalu yang ditutup karena "kurang bukti dan rem blong". Laporan itu melibatkan sebuah truk pengangkut bahan pangan dari PT Boga Lidah Pasrah—perusahaan milik mendiang Pak Bima.
Naluri hukum Fitrah, yang selama ini tertidur pulas, kembali bergejolak. Dia ingat cerita Pak Bima tentang bahan kedaluwarsa dan ceker ayam oplosan. Laporan kecelakaan ini menyebutkan truk itu terguling karena rem blong, tetapi hasil uji lab bahan pangan di dalamnya hilang misterius dari gudang barang bukti. Sebuah obstruction of justice (merintangi proses hukum) yang nyata!
Hilang?
Fitrah merasakan aroma kopi dan rokok di ruangan itu berubah menjadi aroma misteri yang lebih kental dari asap knalpot truk gandeng. Dia punya firasat, kasus kecelakaan lalu lintas biasa ini mungkin ada hubungannya dengan skandal Wali Kota yang masih berjalan di KPK. Ada benang merah tersembunyi yang menghubungkan UGD, ceker ayam, dan Polresta, sebuah konspirasi yang menuntut pembuktian terbalik.
Dengan semangat baru, Fitrah menyalakan recorder jadulnya, yang kini dia anggap jimat keberuntungan (dan barang bukti yang sah di mata hukum, asal baterainya penuh). Dia siap kembali beraksi, bukan untuk mencari tawa atau air mata, tapi untuk mencari kebenaran yang terkubur dalam tumpukan berkas perkara Polresta.
Petualangan barunya di meja kriminal baru saja dimulai, dan kali ini, dia tidak akan membiarkan narasumber kuncinya meninggal dunia. Paling tidak, dia akan pastikan ponselnya selalu terisi penuh baterainya, karena ignorantis juris non excusat (ketidaktahuan akan hukum tidak memaafkan), dan ketidaktahuan soal jadwal press conference karena ponsel mati juga tidak bisa dimaafkan Bos Top. (Bersambung - Hantu Ceker Ayam Menjemput Keadilan)
Trending Now