Konten dari Pengguna
Integritas Seharga Amplop Warung Kopi
5 Desember 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Integritas Seharga Amplop Warung Kopi
Fitrah, wartawan terverifikasi, liput proyek drainase. Temui 'wartawan amplop'. Sadar integritas mahal di mana pun, walau seharga kopi.Fahruddin Fitriya
Tulisan dari Fahruddin Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aroma tinta di markas Kabar Kilat terasa lebih manis sore itu. Fitrah Nusantara duduk di kursinya, menyandang status barunya; wartawan terverifikasi Dewan Pers (akhirnya legal beneran!), setelah dinayatakan kompeten oleh penguji pada Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
"Job desk baru kamu selanjutnya, Fit?" ledek Bos Top, melintas sambil menyeruput kopi hitamnya yang pekatnya legendaris. "Mungkin liputan kuliner? Atau biro jodoh? Biar hidupmu ada human interest (sisi manusiawi)-nya dikit."
Fitrah tersenyum. "Yang santai-santai aja, Bos. Yang nggak ngancam nyawa atau integritas."
Bos Top tertawa terbahak-bahak. "Siap, Bos! Besok kamu liputan peresmian proyek drainase. Dijamin aman, paling ketemu kecebong atau lintah darat lokal."
Keesokan harinya, Fitrah tiba di lokasi proyek drainase. Cuaca panas menyengat, kontras dengan suasana hatinya yang adem ayem, seolah-olah dia sedang cooling down setelah badai politik. Acara sepi, cuma ada tenda kecil dan beberapa spanduk kusam yang melanggar pasal 'estetika publik'.
"Ini sih terlalu santai," pikir Fitrah, mengeluarkan kamera ponsel dan lencana Pers-nya yang kinclong (kini dia menyelipkan dua kartu di dompet lencana, satu sisi dipasang kartu pers dari Kabar Kilat dan sisi lainnya Kartu UKW)."
Tapi ketenangan itu buyar saat dia mendekati meja registrasi. Sekelompok pria, kira-kira enam orang, sedang berdebat sengit dengan panitia yang wajahnya sudah sepucat tahu sumedang, mungkin karena overthinking soal dana proyek.
Mereka mengenakan jaket safari belel, dengan ID card media yang ukurannya fantastis, mungkin seukuran talenan dapur atau papan reklame ilegal, bertuliskan ‘Kabar Instan 24 Jam Nonstop Anti Hoax Club’ dan ‘Info Cepat Akurat Tajam Sampai ke Hati’.
"Pokoknya jatah kami mana?!" teriak pemimpin gerombolan itu, seorang pria tambun berkumis lele yang kemudian dikenal sebagai Bang Jarwo. "Masa media sekelas kami nggak dapet 'transport'?! Ini pelecehan profesi!"
Fitrah mendekat, penasaran. Dia pernah melawan jaringan politik rapi dan licin, tapi gerombolan ini tampak... lebih licin dan berantakan.
"Maaf, Bang, ada apa ya?" tanya Fitrah sopan, jurus ‘wartawan lugu’-nya kembali aktif.
Bang Jarwo menoleh, matanya menyipit melihat lencana Fitrah yang jelas legal dan terawat, bukan hasil copy-paste dari Google Image. "Kami lagi nuntut hak kami, Dek! Hak imunitas pers kami terancam!"
"Hak apa, Bang?" Fitrah menahan tawa.
"Amplop lah! Masa liputan gratisan? Wartawan zaman sekarang harus pinter cari subsidi silang!" sahut anggota lain, kurus kerempeng dengan kaca mata tebal yang sepertinya minus 10.
Fitrah tersenyum geli. "Oh, jadi Abang-abang ini wartawan... bodrex?"
Gerombolan itu langsung melotot. "Sembarangan! Kami ini jurnalis investigasi independen, Dek! Anti Hoax! Cuma metode kami aja yang... unik!" bela Jarwo.
"Unik gimana? Medianya udah terverifikasi Dewan Pers, Bang?" Fitrah sengaja memamerkan lencananya, membuat lencana talenan mereka terlihat makin menyedihkan.
Bang Jarwo dan kawan-kawan terdiam. Mereka saling pandang dengan ekspresi bingung, seolah-olah Fitrah sedang mengajukan pertanyaan interogasi yang rumit.
"Veri... fiksasi? Apaan tuh? Semacam jampi-jampi biar tahan banting dari delik (tindak pidana) ITE?" tanya Bang Jarwo polos.
"Maksud Abang, media Abang legal dan diakui secara profesional? Punya badan hukum yang jelas?" Fitrah mencoba menjelaskan asas legalitas media.
"Yang penting bisa tayang, Dek! Klik kanan copy, klik kiri paste, tayang! Gampang kan? Itu namanya jurnalisme efisiensi dan fast track (jalur cepat)!" bela Jarwo, sepertinya dia mantan barista yang alih profesi.
Tiba-tiba, staf panitia yang ketakutan tadi datang membawa bungkusan plastik hitam berisi beberapa amplop cokelat.
"Ini... ini transportnya, Bang. Maaf cuma segini," ucap panitia gemetar, melanggar pasal 'transparansi anggaran'.
Dengan kecepatan kilat yang tidak dimiliki media mereka, gerombolan itu menyambar amplop-amplop tersebut, seolah-olah itu adalah barang bukti narkoba yang bernilai tinggi.
"Nah, gini dong dari tadi! Customer is king! Keadilan menemukan jalannya sendiri, lewat amplop!" seru Jarwo puas.
Mereka langsung berbalik badan, melenggang pergi menuju warung kopi di seberang jalan, meninggalkan acara yang belum dimulai.
"Lho, Bang! Acaranya belum mulai! Nggak diliput dulu?" panggil Fitrah.
Bang Jarwo menoleh sambil memasukkan amplop tebal (yang sepertinya melanggar pasal 'gratifikasi') ke saku jaketnya yang belel. "Buat apa repot-repot? Fotonya minta WA aja ke panitia. Beritanya? Press release-nya kan udah ada di email! Yang penting 'bahan bakar' udah aman jaya sentosa!"
Fitrah hanya bisa menggelengkan kepala, antara terhibur dan miris. Dia kembali ke kantor Kabar Kilat sore itu, bukannya membawa berita proyek drainase yang membosankan, tapi sebuah kisah lucu tentang dua kutub jurnalisme; satu yang berjuang demi integritas, dan satu lagi yang berjuang demi... amplop warung kopi seharga fee parkir.
Bos Top terbahak-bahak sampai terbatuk mendengar ceritanya.
"Fit, Fit... kamu ini memang ditakdirkan bertemu hal-hal absurd," kata Bos Top sambil menyeka air matanya yang keluar karena kebanyakan ketawa. "Tapi kamu belajar satu hal penting lagi hari ini."
"Apa itu, Bos?"
"Integritas itu bukan cuma mahal di gedung DPR, tapi juga mahal di acara proyek drainase pinggiran. Jatah kursi di Senayan bisa ditukar sama amplop warung kopi kalau ketemu mereka! Harganya cuma sebatang rokok kretek dan secangkir kopi basi!"
Fitrah tertawa. Aroma tinta kembali tercium, dan Fitrah Nusantara, wartawan resmi terverifikasi, siap untuk tantangan baru. Mungkin lain kali, dia akan meliput kongres wartawan bodrek—siapa tahu dia bisa menginvestigasi dari mana asal usul ID card sebesar talenan itu yang melanggar asas 'ukuran standar'. (Bersambung - Ketika Integritas Bertemu Nalar Medis)

