Konten dari Pengguna

Ketika Integritas Diuji Nada Palsu

Fahruddin Fitriya
Jurnalis yang menavigasi dunia berita dengan akal sehat seadanya, sebab realitas kerap lebih aneh dari fiksi ilmiah. Biarlah ejaan nama saya jadi korban inkonsistensi administrasi (Fahruddin Fitria/Fahrudin Fitriya), asalkan kewarasan tetap terjaga.
13 Desember 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Integritas Diuji Nada Palsu
Fitrah mulai selidiki human trafficking di karaoke. Simpati pada Syakira, janda tangguh, berujung dilema emosional. Pernikahan Fitrah di ujung tanduk.
Fahruddin Fitriya
Tulisan dari Fahruddin Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fitrah berusaha mendekati Syakira untuk memperoleh informasi terkait kasus dugaan tindak pidana perdangan orang. (Ilustrasi)
zoom-in-whitePerbesar
Fitrah berusaha mendekati Syakira untuk memperoleh informasi terkait kasus dugaan tindak pidana perdangan orang. (Ilustrasi)
Aroma tinta di markas Kabar Kilat terasa seperti rutinitas bagi Fitrah Nusantara. Bertahun-tahun berlalu sejak skandal politik itu. Kini ia adalah ayah dari Arjuna dan Kinara, hidup bahagia bersama Perawat Arine yang penuh kasih.
Status jomblo abadi sudah inkracht dicabut. Namun, dalam keseharian yang damai itu, Fitrah mulai merasakan kejenuhan, sebuah kerinduan akan tantangan yang menggugah adrenalinnya—mungkin rindu dikejar jaksa atau main Candy Crush bersama kakek di UGD.
Suatu malam, Bos Top memberinya tugas liputan investigasi ke sebuah tempat karaoke eksekutif bernama "Nada Palsu". "Bukan untuk senang-senang, Fit!" tegas Bos Top, nadanya serius. "Ada indikasi human trafficking di sana. Wawancarai para pemandu karaoke itu. Gali informasi sedalam-dalamnya!"
Fitrah, merasa tertantang, mengangguk antusias. Adrenalin wartawannya mulai terpompa. Ia pamit pada Arine, yang sedikit khawatir namun percaya penuh pada integritas suaminya, yang sekuat alibi pejabat korup.
Di karaoke "Nada Palsu", dunia Fitrah yang penuh etika jurnalistik seolah bergeser, mirip saat dia salah kostum jadi politisi dulu. Di sanalah ia bertemu Syakira—nama panggung katanya.
Syakira bukan sekadar pemandu karaoke biasa. Ia adalah janda tangguh dengan tiga anak, yang terpaksa bekerja di tempat itu demi menyambung hidup. Matanya memancarkan kelelahan sekaligus semangat hidup yang luar biasa. Fitrah, dengan jurus ‘wartawan lugu’ yang kini lebih matang (dan spek public speaking-nya sudah terasah), mendekatinya.
Wawancara berjalan lancar. Syakira, merasa nyaman dengan Fitrah yang tampak berbeda dari pria hidung belang kebanyakan (karena Fitrah cuma pesan es teh manis dan kacang rebus), mulai membuka diri. Ia bercerita banyak soal seluk beluk tempat itu, manajemen yang licik, dan jerat utang yang mengikat para pekerja, sebuah delik (tindak pidana) 'perbudakan modern' yang nyata.
Fitrah menghabiskan beberapa malam di karaoke itu, mengumpulkan bukti dan kesaksian. Setiap pertemuan dengan Syakira, ia semakin yakin akan adanya praktik perdagangan orang. Syakira menemukan sosok yang bersedia mendengarkan kisahnya dan berjuang untuk keadilan dalam diri Fitrah.
Arine mulai curiga. Naluri perawat dan istrinya yang setajam pisau forensik mulai bekerja. Suaminya sering pulang larut, dan ada perubahan sikap yang dirasakannya. "Ada apa, Fit? Liputanmu makan waktu banyak sekali? Nggak perlu visum et repertum per hari kan?" tanya Arine dengan nada khawatir. Fitrah meyakinkan Arine bahwa ia hanya fokus pada pekerjaannya sebagai jurnalis, menjalankan asas 'kebenaran absolut'.
Setelah laporan investigasi Fitrah terbit dan mengguncang publik, yang berujung pada penangkapan para pelaku perdagangan orang, Fitrah merasa bangga. Jackpot berita besar lagi! Namun, perasaan rumit terhadap Syakira tidak berhenti di situ. Ada simpati yang berubah menjadi sesuatu lebih dalam, sesuatu yang terlarang, sebuah delik 'perselingkuhan emosional' mulai menghantuinya.
Fitrah mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia hanya membantu Syakira secara emosional, memberikan restorative justice bagi jiwa yang terluka. Tapi setiap kali ia kembali ke rumah dan melihat wajah polos Arjuna dan Kinara, serta senyum tulus Arine, hatinya terasa teriris rasa bersalah yang luar biasa, seolah-olah dia sendiri yang jadi tersangka utama.
Arine, dengan naluri seorang istri, akhirnya merasakan keretakan dalam hubungan mereka. Pernikahan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan integritas kini berada di ujung tanduk, mirip praperadilan yang menegangkan.
Akhirnya, Fitrah harus memilih, antara perasaan yang rumit, atau keluarga yang telah ia bangun dengan susah payah dan inkracht kebahagiaannya. (Bersambung – Penebusan Dosa dan Jalan Pulang Sang Wartawan)
Trending Now