Konten dari Pengguna

Ketika Integritas Nyaris Overdosis

Fahruddin Fitriya
Jurnalis yang menavigasi dunia berita dengan akal sehat seadanya, sebab realitas kerap lebih aneh dari fiksi ilmiah. Biarlah ejaan nama saya jadi korban inkonsistensi administrasi (Fahruddin Fitria/Fahrudin Fitriya), asalkan kewarasan tetap terjaga.
14 Desember 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Integritas Nyaris Overdosis
Fitrah, terancam oleh wartawan dan Syakira, menyusun strategi untuk menjebak mereka. Dengan bantuan timnya, ancaman berhasil diredam, tetapi Fitrah harus menghadapi kenyataan pahit di rumah tangganya.
Fahruddin Fitriya
Tulisan dari Fahruddin Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fitrah terkejut saat membaca pesan ancaman yang dikirim Si Jarwo. (Ilustrasi)
zoom-in-whitePerbesar
Fitrah terkejut saat membaca pesan ancaman yang dikirim Si Jarwo. (Ilustrasi)
Setelah membaca pesan itu, Fitrah panik. Keringat dingin bercucuran lebih deras dari air drainase yang banjir. Ia segera permisi dari rapat redaksi, banting setir ke toilet kantor, dan mencoba menenangkan diri. Ancaman itu terasa lebih personal dan keji daripada ancaman politikus mana pun yang pernah ia hadapi.
Politikus menyerang integritas profesional, tapi Bang Jarwo dan Syakira mengancam kehancuran rumah tangganya secara total, sebuah delik perusakan kebahagiaan inkracht yang nyata.
Fitrah tahu, melawan wartawan bodrex dengan berita tandingan tidak akan mempan. Mereka tidak peduli etika atau fakta; mereka hanya peduli sensasi dan uang (fee haram). Dia harus bermain cerdas, ala strategi perang sun tzu versi lokal.
Pertama, Fitrah menemui Bos Top dan Bu Cynthia di ruang rapat terpisah. Dengan jujur dan penuh penyesalan, Fitrah menceritakan seluruh kronologisnya, termasuk perselingkuhannya dengan Syakira (yang membuat Bos Top terbatuk-batuk kaget), penyesalannya, dan kini ancaman dari wartawan abal-abal yang dipimpin Bang Jarwo.
"Mereka mengancam akan menyebarkan cerita miring soal karirku, tapi aku yakin mereka punya bukti lebih pribadi," aku Fitrah, wajahnya memerah menahan malu, seolah-olah dia tersangka utama kasus skandal bid'ah rasa. "Aku bodoh, Bos, Bu. Aku sudah menghancurkan kepercayaan Arine."
Bos Top dan Bu Cynthia terdiam. Suasana hening dan tegang, mirip ruang sidang vonis mati. Akhirnya, Bu Cynthia memecah keheningan dengan suara bass khasnya. "Kita main cantik, seperti dulu, Fit. Tapi kali ini, kita hadapi api dengan kecerdasan, bukan emosi. Mereka wartawan abal-abal, kita punya Dewan Pers dan hukum!"
Rencana pun disusun, lebih rapi dari skema korupsi dana bansos dulu.
Fitrah menghubungi nomor misterius itu. "Halo, dengan siapa saya berbicara?"
"Wah, akhirnya diangkat juga sama wartawan top! Ini dengan Jarwo, dari media paling top se-antero jagat!" jawab suara di seberang sana dengan sombong, mirip pejabat provinsi yang songong.
"Apa mau Anda?" tanya Fitrah dingin, skill negosiasinya keluar.
"Gampang aja, Bro. Ada uang, ada berita aman. Kita bisa negosiasi restorative justice," kata Bang Jarwo, seolah meminta uang parkir proyek drainase.
"Saya akan siapkan uangnya. Di mana kita bertemu?" tanya Fitrah, mengikuti rencana Bu Cynthia.
"Di warung kopi biasa kami nongkrong, dekat proyek drainase itu. Besok jam dua siang. Jangan macam-macam, Bro, kami sudah siap tayang viral di media kami!" ancam Bang Jarwo.
Keesokan harinya, di warung kopi reyot dekat proyek drainase, Bang Jarwo dan dua temannya menunggu dengan senyum jumawa, seolah-olah mereka majelis hakim yang siap mengetuk palu kemenangan. Fitrah datang sendiri, tapi diam-diam, tim Kabar Kilat sudah bersiap di seberang jalan, lengkap dengan kamera tersembunyi ber-spek dewa dan tim kuasa hukum (Bu Cynthia bawa satu truk, sepertinya).
"Mana uangnya, Bro? Mana barang bukti amplop tebalnya?" tanya Bang Jarwo, tangannya menengadah penuh nafsu.
Saat Fitrah pura-pura mengeluarkan uang, tim dari Kabar Kilat dan tim kuasa hukum langsung bergerak cepat.
"Kami dari Kabar Kilat dan kuasa hukum, Anda kami laporkan atas dugaan pemerasan, pencemaran nama baik, dan melanggar UU ITE! Anda tertangkap red-handed!" seru pengacara Fitrah (salah satu anak buah Bu Cynthia yang nggak kalah judes).
Wajah Bang Jarwo dan kawan-kawan langsung pucat pasi, mirip hantu ceker ayam yang kena visum et repertum forensik. Mereka mencoba kabur, tapi sudah dikepung. Peristiwa itu menjadi tontonan warga dan diliput langsung oleh tim redaksi Kabar Kilat.
Syakira yang mendengar kabar itu dari berita online abal-abal Bang Jarwo yang down mendadak, panik luar biasa. Ia menyadari rencananya gagal total, damage control-nya amburadul.
Ancaman berhasil diredam. Bang Jarwo dan timnya ditangkap, dan kasusnya bergulir ke ranah hukum. Fitrah berhasil menyelamatkan karirnya, tapi kehancuran rumah tangganya masih menganga.
Dengan hati remuk, Fitrah pulang. Ia harus menghadapi Arine dan kebenaran pahit tentang perselingkuhannya yang sudah diketahui Arine dari pengakuan jujurnya beberapa waktu lalu.
Arine menatap Fitrah dengan tatapan kosong, penuh kekecewaan. Kali ini, tidak ada kata maaf yang mudah terucap, hanya keheningan yang menyakitkan, mirip ruang sidang pasca vonis hukuman mati.
Fitrah tahu, perjalanannya untuk mendapatkan kembali kepercayaan Arine dan keluarganya akan jauh lebih berat daripada menghadapi politikus korup atau wartawan bodrex. (Bersambung – Asred Setengah Hati, Restorative Justice Sejati)
Trending Now