Konten dari Pengguna
Memburu Senja di Garis Khatulistiwa Pontianak
6 Desember 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Memburu Senja di Garis Khatulistiwa Pontianak
Susur Sungai Kapuas Pontianak: Nikmati pemandangan kehidupan lokal, landmark ikonik (Masjid Jami' & Istana Kadriyah), dan senja khatulistiwa yang magis hanya seharga Rp15 ribu. #userstoryFahruddin Fitriya
Tulisan dari Fahruddin Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petualangan kabur sejenak dari rutinitas ini dimulai di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang. Dengan suasana sok misterius agen rahasia, saya melenggang ke mesin X-ray. Maksud hati ingin terlihat cool, apa daya koper malah nyangkut dengan dramatic effect, suara alarm yang memekakkan telinga.
Petugas bandara—dengan senyum ramah khas Semarang yang underrated—meminta saya memindahkan isi koper. Ternyata, ‘senjata rahasia’ saya—sebongkah besar keripik paru yang berpotensi menimbulkan ‘ledakan kolesterol’—terdeteksi sebagai benda mencurigakan.
Setelah negosiasi alot yang melibatkan tatapan memelas dan janji tidak akan makan keripik itu di pesawat, akhirnya saya lolos ke ruang tunggu. Mungkin petugasnya takut bandara kena sanksi karena membiarkan senjata biologis kolesterol lolos.
Setelah mengudara bersama burung besi sekitar satu setengah jam, tibalah di Bandara Supadio Pontianak (PNK), udara lembap khas Kalimantan langsung menyergap. Rasanya seperti dipeluk hangat oleh sauna alami yang berlebihan kadar kelembabannya.
Keluar bandara, saya memilih taksi online dengan pengemudi yang ramah. Sepanjang jalan, ia bercerita tentang Pontianak. Tujuan pertama adalah HARRIS Hotel Pontianak. Hotel ini lokasinya strategis. Proses check-in lancar, dan kamar saya—HARRIS Unique Room—lumayan luas dan nyaman.
Namun, drama belum berakhir. Saya sempat kesulitan menyalakan lampu kamar karena saklarnya tersembunyi, membuat saya berpikir sedang bermain escape room versi hotel dengan clue satu-satunya adalah ‘gelap’.
Setelah drama keripik paru dan saklar lampu, misi utama adalah berburu senja dan menaklukkan Sungai Kapuas, sang urat nadi kehidupan Kalimantan Barat. Sore itu, di area waterfront Jalan Rahadi Usman, saya siap untuk Kapuas River Cruise.
Kapalnya—walau tidak semewah kapal pesiar di film Hollywood—punya pesona tersendiri. Biayanya cuma sekitar Rp15 ribu per orang untuk durasi kurang lebih 45 menit, harga yang ramah di kantong untuk pengalaman diangkut di sungai terpanjang di Indonesia.
Dari atas kapal, Anda bukan cuma disuguhi pemandangan, melainkan ‘bioskop alam’ kehidupan Pontianak yang dijamin bikin mata melek (meski air sungainya sendiri warnanya mirip kopi susu yang kebanyakan ampas). Pemandangan yang tersaji adalah mozaik kontras antara kehidupan modern yang ngebut dan tradisi bahari yang santai.
Berikut adalah ‘daftar pemain’ yang bisa Anda saksikan dari atas kapal.
Kehidupan Terapung & Sketsa Masa Kecil ala Pontianak
Hal pertama yang nyerobot perhatian adalah denyut kehidupan di tepian sungai. Ini bukan pemukiman biasa, melainkan real life set sinetron lokal.
Rumah apung dan dermaga kecil: Berjajar rapi rumah-rumah penduduk yang dibangun di atas tonggak kayu atau rakit, beberapa berfungsi sebagai tempat tinggal, warung, atau bengkel. Anak-anak kecil sering terlihat bermain ceria atau berkejaran di dermaga kayu, memberikan gambaran kehidupan masa kecil di tepi sungai yang penuh petualangan. Mungkin mereka sedang latihan parkour versi lokal.
Aktivitas warga lokal: Kapal-kapal kecil (sampan atau speed boat) hilir mudik seolah sedang ada delivery order genting. Anda bisa melihat bapak-bapak santai memancing dengan pose serius, ibu-ibu mencuci, atau sekadar warga lokal duduk santai menikmati angin sore. Mereka ini definisi nyata dari ‘life is better by the river’, walau airnya cokelat pekat.
Arsitektur Ikonik dan Napak Tilas Sejarah
Perjalanan ini juga membawa Anda melintasi landmark penting kota yang instagrammable parah.
Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Salah satu ikon sejarah Pontianak yang megah. Kubahnya yang khas dan arsitektur Melayu yang kental berdiri kokoh, seolah bilang, "Halo, ini lho sejarahnya Pontianak, catat ya!"
Istana Kadriyah Pontianak
Berada tidak jauh dari masjid, istana berwarna kuning cerah ini adalah pusat Kesultanan Pontianak dulu kala. Warnanya yang ngejreng itu kontras abis sama air sungai yang cokelat pekat, bikin mata langsung fokus kayak lihat iklan deterjen.
Rumah Radakng (opsional): Terkadang, tergantung rute kapal dan mood nakhoda yang mungkin sedang baik setelah minum kopi enak, Anda bisa melihat gambaran sekilas Rumah Panjang Tradisional Suku Dayak.
Konon, menurut bisikan ‘agen rahasia’ penumpang lokal, kalau kita beruntung bisa diajak melewatinya. Namun nasib berkata lain. Sepanjang perjalanan saya tidak melihatnya; mungkin karena nakhoda sedang bad mood atau saya yang terlalu sibuk melamun. Ini pusat kebudayaan yang bikin kita sadar betapa beragamnya Indonesia, sekaligus bikin kita sadar kalau keberuntungan itu penting.
Aktivitas Kapal Besar, Para Raksasa Sungai
Sungai Kapuas adalah jalan tol logistik Kalimantan Barat. Anda akan bersimpangan jalan dengan kapal-kapal tongkang berukuran besar yang gagah melintas. Mereka ini truk-truk versi air, cuma jalannya lebih pelan dan nggak pakai klakson Telolet. Kapal-kapal ini mengingatkan kita pada peran vital sungai sebagai jalur perdagangan utama.
Pemandangan Dramatis Matahari Terbenam: Filter Alam Gratis
Momen paling dramatis dari cruise ini adalah saat matahari mulai terbenam. Langit berubah menjadi gradasi warna oranye, merah, dan ungu yang memesona. Pemandangan langit senja ini berpadu kontras dengan warna air sungai yang cokelat pekat, menciptakan suasana magis khas khatulistiwa yang bikin kita ngerasa jadi bagian dari video klip dangdut melow.
Saat kapal berbalik arah atau berada di titik tertentu, Anda dapat melihat Tugu Khatulistiwa yang menjadi penanda lokasi garis ekuator. Tugunya kelihatan kecil dari jauh, tapi fungsinya besar, memberi tahu kita kalau kita lagi duduk manis tepat di "pusat" bumi.
Susur sungai ini benar-benar pengalaman multisensori yang lengkap, dari suara riak air, semilir angin sore, musik tradisional, dan pemandangan visual yang kaya akan budaya dan sejarah lokal. Misi selesai dengan senyum lebar di wajah. Pengalaman susur Sungai Kapuas ini sungguh tak terlupakan.

