Konten dari Pengguna
Pontianak Vibes: Petualangan Sejarah di Jantung Khatulistiwa
7 Desember 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Pontianak Vibes: Petualangan Sejarah di Jantung Khatulistiwa
Jelajahi kekayaan sejarah Pontianak, dimulai dari Monumen Sebelas Digulis, Istana Kadriah dan Masjid Jami', Akhiri perjalanan dengan mengunjungi Makam Kesultanan BatulayangFahruddin Fitriya
Tulisan dari Fahruddin Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, udara Pontianak terasa sedikit lebih segar setelah semalam sukses jadi Sultan dadakan di atas kapal susur sungai Kapuas river cruise, menikmati hembusan napas malam di tepian sungai yang romantis—sampai akhirnya sadar diri harus bayar ongkosnya pakai recehan, seketika langsung kembali ke realitas jelata yang tragis.
Hari ini misinya serius; Wisata Sejarah, ditemani Gusti Hardi Syarifudin, sang mahasiswa S2 UGM yang lagi cari bahan tesis (katanya biar valid). Gusti ini sebenarnya warga Pangkalan Bun, Kalteng, kenalan lama saya waktu bertugas di sana.
Kebetulan, ketemu lagi di Pontianak, Gusti sudah siap jadi navigator sejarah dadakan, dengan modal pengetahuan lokal yang mungkin cheatsheet-nya didapat dari nongkrong di warung kopi tertua se-Pontianak.
Gusti datang dengan mobil bersih, senyum khas Pontianak (sepertinya sudah tertular keramahan warga di sini), plus satu termos kopi hitam di konsol tengah. Katanya, “Biar kuat dengar cerita sejarah yang panjang, Bang! Anti-ngantuk!”
Perjalanan dari Hotel Harris dimulai, dan destinasi pertama kami langsung menggebrak aspal Pontianak.
Monumen Sebelas Digulis Kalimantan Barat: The Avengers Versi Lokal yang Di-Banned Permanen
Kami berhenti di bundaran Jalan Ahmad Yani. Di tengah sana, berdiri kokoh Monumen Sebelas Digulis, sebelas tiang beton menjulang, melambangkan sebelas pahlawan lokal.
“Ini dia, Bang. Monumen sebelas pahlawan kita,” kata Gusti sambil menyesap kopi hitamnya. “Mereka ini sebelas tokoh yang dianggap Belanda terlalu kritis dan vokal. Semacam influencer politik zaman dulu yang kena take down massal.”
Saya amati relief sebelas tokoh Sarekat Islam di Kalimantan Barat yang dibuang ke Boven Digoel itu mayoritas wajahnya serius semua, mungkin karena tahu nasib mereka bakal tragis di tangan Kompeni.
“Mereka ini bisa dibilang founding fathers pergerakan nasional di sini,” lanjut Gusti dengan nada serius yang cuma bertahan lima detik. “Pengorbanan mereka luar biasa. Coba bayangkan, Bang, dulu mana ada tiket pesawat promo ke Papua. Ini jalan darat, laut, menderita, sampai ada yang meninggal di sana. Kena scam perjalanan terjauh abad itu!”
“Jadi, ini semacam markas Avengers lokal sebelum dibubarkan paksa ya, Gus?” canda saya. Sekilas info, saya memang sering menyapanya dengan panggilan Gus, bukannya Gusti. Bahkan sering kali dengan panggilan Gus Hardi---karena darah Nahdliyin tampaknya lebih deras mengalir di tubuhnya dibanding seorang Zuriat Sultan Kotawaringin.
Menanggapi candaan saya tadi, Gusti tertawa ngakak. “Betul, Bang! Bedanya, kekuatan super mereka bukan jubah atau palu, tapi semangat kemerdekaan yang bikin Belanda sewot stadium akhir.”
Kami mengheningkan cipta sebentar, meresapi perjuangan mereka, lalu kembali ke mobil. Kopi Gusti sudah habis setengah termos. Misi selesai, check-point pertama aman.
Istana Kadriah dan Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman
Tujuan kedua adalah jantung sejarah Pontianak; kawasan Keraton atau Istana Kadriah dan Masjid Jami'. Perjalanan ke sini melintasi jembatan dan masuk ke area padat penduduk di tepian sungai, yang bikin saya merasa sebentar lagi mau nyasar ke dimensi lain.
“Siap-siap, Bang. Kita mau ketemu Sultan!” seru Gusti.
Istana Kadriah berdiri megah dengan warna kuning khas Melayu—warna yang konon bikin lumpur Sungai Kapuas kelihatan estetik. Arsitekturnya perpaduan lokal dan Eropa. Katanya ada cermin antik di dalamnya yang bisa bikin wajah kelihatan awet muda—atau malah tua—tergantung karma Anda.
“Istana ini dibangun Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri kota Pontianak. Beliau ini tipe pemimpin yang visioner, Bang. Begitu nemu lokasi strategis di pertemuan sungai, langsung booking tempat, bangun istana, dan masjid,” jelas Gusti. “Multitasking level Sultan.”
Di dalam keraton, kami melihat singgasana, foto-foto keluarga kesultanan, dan berbagai pusaka. Suasananya khidmat, tapi Gusti tetap humble dengan joke recehnya.
“Bang, tebak kenapa Sultan milih warna kuning?”
“Warna kebesaran raja?”
“Salah! Biar kalau kena lumpur sungai Kapuas, nggak terlalu kelihatan kotornya! Hemat laundry kerajaan, Bang!”
Oke, joke mahasiswa S2 memang kadang perlu diasah.
Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman
Tepat di sebelah keraton, berdiri Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid tertua yang usianya sebaya dengan kota ini.
“Ini masjidnya luar biasa, Bang. Tiang penyangganya dari kayu belian yang super kuat. Bisa tahan ratusan tahun,” kata Gusti. “Hebatnya, Sultan itu langsung bangun dua ikon ini back-to-back. Simbol kalau pemimpin dan agama itu berjalan beriringan. One stop solution buat urusan dunia dan akhirat.”
Kami salat sebentar di masjid yang adem itu, merasakan denyut sejarah yang masih hidup di tiap sudutnya. Semacam flashback ke masa lalu tanpa perlu mesin waktu yang ribet.
Makam Kesultanan Pontianak, Batulayang: Tempat Check-Out Para Sultan
Destinasi terakhir kami adalah Makam Kesultanan Pontianak di Batulayang. Lokasinya menyeberang sungai ke Pontianak Utara. Kami naik mobil, menyeberangi jembatan, Gusti bilang, “Ini lokasi peristirahatan terakhir para big boss Pontianak, Bang. Check-out permanen, nggak bisa refund atau extend.”
Kompleks makamnya bersih dan tertata rapi. Ada banyak kuburan dengan nisan-nisan khas Melayu. Kami berjalan perlahan, membaca nama-nama yang terukir di sana.
“Di sini dimakamkan banyak Sultan dan keluarganya. Mulai dari Sultan pendiri sampai generasi setelahnya,” kata Gusti, kali ini dengan nada yang lebih pelan dan menghormati. “Ini bukti nyata sejarah berdirinya Pontianak, bukan cuma cerita di buku teks sekolah yang bikin ngantuk.”
Saya mengamati nisan terbesar, milik Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Pontianak. Terasa sekali aura sejarahnya yang otentik.
“Gus, dari semua cerita sejarah ini, apa insight terbesar buat tesis S2 kamu?” tanya saya penasaran.
Gusti berhenti berjalan, berpikir sejenak, lalu tersenyum penuh arti.
“Insight-nya, Bang? Sejarah itu kadang lucu, tapi yang paling penting... sejarah membuktikan bahwa Pontianak itu kota yang eksklusif dari dulu!”
“Maksudnya?”
“Iya, Bang! Coba lihat lokasinya. Tugu Khatulistiwa pas di tengah bumi, Keraton dan Masjid diapit dua sungai besar. Dari dulu kita sudah jadi pusat perhatian alam semesta. Kurang keren apa coba?”
Hari kedua saya di Kota Pontianak ditutup dengan tawa renyah dan pemahaman baru bahwa sejarah tak selamanya kaku dan membosankan, apalagi jika diceritakan oleh Gusti Hardi Syarifudin, sang calon Magister Sejarah yang humoris dan lokal pride-nya tinggi.

