Konten dari Pengguna

Skandal Korupsi Dana Bansos Terungkap

Fahruddin Fitriya
Jurnalis yang menavigasi dunia berita dengan akal sehat seadanya, sebab realitas kerap lebih aneh dari fiksi ilmiah. Biarlah ejaan nama saya jadi korban inkonsistensi administrasi (Fahruddin Fitria/Fahrudin Fitriya), asalkan kewarasan tetap terjaga.
4 Desember 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Skandal Korupsi Dana Bansos Terungkap
Fitrah ungkap korupsi dana bansos libatkan jaksa & pejabat provinsi. Bos Top peringatkan Fitrah soal bahaya. Pertarungan sesungguhnya baru dimulai.
Fahruddin Fitriya
Tulisan dari Fahruddin Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jaksa Bahar terkejut saat mengetahui jika Fitrah telah mendapatkan bocoran informasi terkait korupsi Bansos. (Ilustrasi)
zoom-in-whitePerbesar
Jaksa Bahar terkejut saat mengetahui jika Fitrah telah mendapatkan bocoran informasi terkait korupsi Bansos. (Ilustrasi)
Fitrah Nusantara, kini wartawan tetap dengan lencana baru yang mengkilap dan ponsel canggih yang full charge (baterainya sekuat alibi pejabat korup), melenggang dari Pengadilan Negeri dengan senyum penuh kemenangan. Drama di meja hijau ternyata tak kalah seru dari UGD dan Polresta; hanya saja, baunya lebih "fancy," campuran parfum mahal, kertas HVS baru, dan sedikit aroma mens rea (niat jahat) yang tersamar.
Pengacara judes yang kini mendadak jadi rukun (mungkin karena fee konsultasi Fitrah lancar jaya, atau takut terekam lagi) menepati janjinya. Dia membocorkan info A1 (sangat valid) soal kasus korupsi dana bantuan sosial yang melibatkan pejabat tinggi provinsi.
"Kasusnya mandek di kejaksaan," bisiknya, "ditengarai ada 'main mata' tingkat dewa—semacam konspirasi kosmik antara oknum jaksa dan uang haram yang melanggar asas keadilan sosial."
Mendapat informasi itu, Fitrah segera melapor ke Bos Top. "Bos, saya ada info soal dana bansos yang raib. Pengacara judes itu kasih bocoran. Prima facie (bukti awal yang cukup), ini bau amis sekali. Baunya mirip ceker ayam oplosan yang ketahan di gudang barang bukti."
Bos Top, manggut-manggut serius. "Bagus, Fit. Go national. Kali ini kita main di level provinsi. Tapi hati-hati, buaya di provinsi lebih gede dari ceker ayam oplosan, mangsanya bernilai tinggi. Jangan sampai kamu yang jadi tumbal."
Fitrah memulai investigasinya. Dia bolak-balik antara Kejaksaan Tinggi dan Pengadilan Tipikor. Suasananya makin formal dan dingin, mirip ruang forensik mayat. Orang-orang di sini jarang yang panik terang-terangan seperti di UGD; mereka panik dengan elegan, sambil tetap ngopi cantik dan berjas rapi, seolah-olah korupsi adalah bagian dari etika berpakaian kantor.
Dengan jurus ‘wartawan lugu yang haus ilmu hukum’ (dan skill rekam video tersembunyi yang makin jago, hasil belajar dari film mata-mata, dan mungkin Youtube tutorial), Fitrah mulai mengumpulkan serpihan bukti. Dia menyadari ada pola aneh dalam penanganan berkas perkara bansos itu.
Selalu ada jaksa tertentu yang menangani, dan selalu ada revisi berkas di menit-menit akhir yang melemahkan dakwaan. "Ini bukan due process of law (proses hukum yang adil)," gumam Fitrah, "ini due process of 'low' (proses yang dilemahkan)! Pelanggaran asas 'acara pidana yang cepat, sederhana, dan biaya ringan'!"
Targetnya kali ini adalah Jaksa Senior Bahar, yang terkenal licin seperti belut kena oli dan punya koneksi kuat—katanya bisa bikin pasal pidana jadi pasal permakluman atau restorative justice (penyelesaian di luar pengadilan) dadakan.
Fitrah mendekati Jaksa Bahar di sebuah kedai kopi eksklusif tempat para pejabat biasa nongkrong, di mana harga secangkir kopinya bisa menghidupi satu keluarga miskin selama seminggu.
"Pak Bahar, saya tertarik sekali dengan kasus bansos itu. Pembagiannya sangat terstruktur, seperti ada mastermind-nya. Sistematis sekali, Pak, mirip jaringan MLM," kata Fitrah santai.
Jaksa Bahar tersenyum ramah, tapi matanya dingin sedingin AC 24 PK di ruang kerjanya yang melanggar pasal 'hemat energi' tadi. "Ah, itu sudah sesuai prosedur, Mas Fitrah. De minimis non curat lex (hukum tidak mengurus hal-hal sepele). Buktinya memang lemah, selembek ceker ayam oplosan."
"Lemah di berkas atau dilemahkan, Pak?" tanya Fitrah santai, sambil menggeser sedikit ponselnya untuk merekam. "Ada rumor soal fee (biaya jasa/suap) yang mengalir deras tiap berkas itu direvisi. Dana bansos itu kan buat rakyat miskin, Pak. Kena pasal berlapis loh, juncto pasal persekongkolan jahat dan mungkin pasal penistaan kemiskinan (yang ini Fitrah karang sendiri pasalnya, tapi terdengar meyakinkan)."
Jaksa Bahar tersentak. Senyum invoice-nya menghilang. Wajahnya berubah masam. "Jaga bicaramu, wartawan muda! Ada undang-undang ITE dan pencemaran nama baik, tahu rasa kamu! Bisa kena delik aduan!"
Fitrah, yang sudah kebal ancaman (pernah diancam hantu ceker ayam oplosan, apalagi cuma jaksa yang stress karena fee kopi), malah tertawa kecil.
"Dunia ini sempit, Pak. Hantu Ceker Ayam Oplosan di Polresta saja bisa saya temukan, apalagi Hantu Dana Bansos di sini. Lagipula, saya punya hak imunitas pers, Pak. Skakmat."
Investigasi Fitrah mencapai titik didih. Dia berhasil mendapatkan salinan email rahasia antara Jaksa Bahar dan salah satu pejabat provinsi yang mengindikasikan suap.
Bukti sudah di tangan, sejelas red-handed (tertangkap basah). Emailnya berisi kode-kode lucu soal ‘proyek pisang goreng’ dan ‘dana talangan kopi darat’, seolah-olah mereka barista yang lagi jualan gorengan, bukan korupsi miliaran.
Kabar Kilat kembali meledak dengan headline yang lebih nendang dari sebelumnya: ‘Skandal Dana Bansos Miliaran Rupiah Terkuak; Jaksa Senior Terlibat Suap! Bukti Email 'Pisang Goreng' Bocor ke Wartawan. Pelanggaran Pasal Berlapis UU Tipikor!"
Reputasi Fitrah melambung tinggi, melebihi harga avokad di pasar gelap. Dia tidak lagi gagap, dia kini momok bagi para koruptor, semacam hantu mens rea yang gentayangan.
Di sebuah sore yang tenang di redaksi, Bos Top memanggil Fitrah ke ruangannya.
"Selamat, Fit. Kamu sudah di level nasional sekarang," kata Bos Top, sambil menunjukkan tumpukan kliping berita Fitrah. "Karier kamu cerah, secerah masa depan Wali Kota yang inkracht vonisnya. Fiat justitia ruat caelum (tegakkan keadilan walau langit runtuh)."
"Makasih, Bos Top. Semua berkat pelajaran di UGD dan Polresta," jawab Fitrah.
"Tapi, saya mau ingatkan kamu sesuatu," ujar Bos Top, kali ini ekspresinya benar-benar serius, tidak ada datar-datarnya sama sekali, mirip majelis hakim mau bacain vonis mati. "Semakin tinggi kamu terbang, semakin kencang anginnya. Kasus ini belum selesai. Pejabat provinsi itu punya koneksi pusat. Mereka tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan melawan habis-habisan dengan segala upaya hukum yang ada."
Fitrah terdiam. Dia menatap lencana wartawan tetapnya. Dia sudah berhasil, tapi dia sadar, pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Dia Fitrah Nusantara, lulusan hukum nyaris cum laude yang terlanjur cinta aroma tinta dan keadilan, dan dia siap menghadapi babak selanjutnya, seberat apapun itu.
Korupsi ini bukan cuma soal pasal, tapi soal nyali, dan Fitrah punya stok nyali yang melimpah, sisa dari insiden ceker ayam oplosan yang kini jadi legenda urban di Polresta. (Bersambung - Serangan Balik Para Hantu)
Trending Now