Konten dari Pengguna

“Besok Bawa Bendera”: Kode Rahasia Dunia Anak Sekolah

Dimas Faiz Afzal
Saya Dimas Faiz Afzal, mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Pamulang. Saya tertarik pada pengembangan web, sistem informasi, dan teknologi sebagai solusi praktis. Aktif belajar dan berbagi seputar dunia IT untuk masa depan yang lebih inovatif.
17 Juni 2025 12:18 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
“Besok Bawa Bendera”: Kode Rahasia Dunia Anak Sekolah
Artikel ini membahas bahasa rahasia siswa seperti “bawa bendera” yang jadi kode unik. Bahasa ini merekatkan solidaritas dan mencerminkan budaya pelajar yang kreatif dan penuh makna.
Dimas Faiz Afzal
Tulisan dari Dimas Faiz Afzal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anak-anak sekolah
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak-anak sekolah
“Bro, besok bawa bendera, ya!"
Kalimat yang sepintas terdengar biasa, bisa jadi punya arti yang sangat jauh dari upacara atau nasionalisme. Di beberapa sekolah, itu artinya: “Siap-siap ada razia rambut besok.”
Setiap angkatan pelajar di Indonesia menyimpan kosakata khusus—lelucon, sindiran, hingga kode-kode tersembunyi—yang hanya dimengerti oleh mereka yang “satu frekuensi.”
Tanpa disadari, ini adalah bentuk bahasa rahasia pelajar, bagian dari budaya tutur yang tak tercatat, tapi diwariskan dari mulut ke mulut.

Bahasa Gaul Bukan Sekadar Candaan

Menurut dosen linguistik Universitas Negeri Jakarta, Dr. Anisa Marzuki, bahasa pelajar adalah varian bahasa informal yang memuat identitas kelompok.
“Ketika siswa bilang ‘jangan sampai kayak kemarin di-lontar’, mereka semua tahu itu bukan artinya dilempar, tapi dimarahi guru habis-habisan,” jelasnya.
Bahasa seperti ini berfungsi sebagai pelindung, penyatu, dan sekaligus pencipta batas. Mereka yang nggak ngerti kode ini otomatis dianggap bukan bagian dari lingkaran.

Contoh-Contoh Kode yang Cuma Dimengerti di Sekolah

Beberapa ungkapan berikut bisa saja berbeda-beda artinya tergantung sekolahnya, tapi intinya sama: hanya mereka yang mengalami yang paham.
Bahkan, satu sekolah bisa punya istilah sendiri untuk jam kosong, guru killer, atau tipe tugas yang “gampang dicari di Google.”

Bukan Sekadar Lucu-lucuan

Bahasa ini sebenarnya punya fungsi sosial yang penting:

Apakah Ini Layak Dikenang?

Sebagian orang dewasa mungkin menganggapnya remeh. Tapi bagi para pelajar, kosakata kecil ini adalah bagian dari survival mode di dunia sekolah yang penuh tekanan.
Lucu, kreatif, dan kadang absurd, tapi ia merekam sejarah kecil tentang bagaimana generasi muda menyiasati kehidupan mereka.
“Saya lupa banyak rumus Fisika, tapi saya masih ingat arti ‘bawa bendera’ sampai sekarang,” ujar Dira (20), alumni sebuah SMK di Depok.

Ayo Didokumentasikan!

Daripada dianggap sekadar candaan, para pegiat bahasa dan budaya mulai tertarik mendokumentasikan lelucon-lelucon sekolah sebagai bentuk arsip budaya generasi muda.

Ketika Bahasa Jadi Cermin Zaman

Bahasa tak selalu baku. Ia bisa lahir dari tawa, tekanan, dan pengalaman bersama.
Dan meski terdengar konyol, kalimat seperti “Eh, besok kita naik lift bareng, ya” punya makna yang lebih dari sekadar duduk di depan kelas.
Karena di balik tawa anak sekolah, ada sejarah sosial kecil yang layak dikenang dan dirayakan.
Trending Now