Konten dari Pengguna

Iduladha: Momentum Menanamkan Keikhlasan dan Empati

Fajrul Khairati
Dosen Universitas Adzkia Padang, Konselor Keluarga dan Founder Komunitas Rumah Cahaya
7 Juni 2025 11:55 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Iduladha: Momentum Menanamkan Keikhlasan dan Empati
Iduladha bukan sekadar ritual tahunan yang diisi dengan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, ia adalah momentum pembelajaran jiwa tentang keikhlasan, ketundukan, dan empati sosial yang mendalam
Fajrul Khairati
Tulisan dari Fajrul Khairati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Iduladha bukan sekadar ritual tahunan yang diisi dengan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, ia adalah momentum pembelajaran jiwa tentang keikhlasan, ketundukan, dan empati sosial yang mendalam. Di tengah modernitas dan rutinitas seremonial, sering kali kita lupa menggali makna terdalam dari ibadah kurban itu sendiri.
Perjalanan spiritual Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya Nabi Ismail ‘alaihissalam yang bersedia menjalankan perintah Allah tanpa ragu, menjadi pelajaran agung tentang ketaatan dan keikhlasan dalam bentuk yang paling murni. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar: 1–2). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah kurban adalah bagian dari rasa syukur dan bentuk penghambaan yang tulus kepada Allah.
Namun kini, kurban kerap terjebak dalam makna simbolik semata. Penyembelihan berjalan, daging dibagikan, tapi nilai-nilai spiritual dan pendidikan hati yang seharusnya menyertainya kurang tergali, apalagi diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Memilih Hewan Kurban. Foto: Freepik

Kurban sebagai Sarana Pendidikan Nilai

Kurban sejatinya adalah sarana untuk menanamkan nilai keikhlasan kepada generasi muda. Sayangnya, saat masjid ramai menyembelih dan masyarakat sibuk membagi daging, sekolah-sekolah malah libur. Padahal, momen ini bisa dijadikan wahana pembelajaran karakter—tentang berkorban, berbagi, dan peduli pada sesama.
Beberapa lembaga pendidikan mulai melakukan inovasi, seperti mengajak siswa menulis refleksi tentang makna kurban, membantu panitia masjid, atau membuat program berbagi dengan keluarga prasejahtera. Ini adalah bentuk pendidikan kontekstual yang menghidupkan kembali semangat Nabi Ibrahim dalam dunia pendidikan.
Menghidupkan semangat kurban di sekolah juga berarti menanamkan keberanian untuk melepas sesuatu yang disukai demi nilai yang lebih tinggi. Nabi Ismail adalah teladan keberanian spiritual. Ia berkata kepada ayahnya: "Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)

Kurban Edukatif di Komunitas

Beberapa komunitas Islam di Indonesia sudah mulai menginisiasi kurban edukatif. Di Bandung, remaja masjid membuat pojok refleksi Iduladha berisi tulisan tangan dan mural tentang makna kurban. Di Yogyakarta, siswa taman kanak-kanak diajak menyaksikan proses kurban dengan pendekatan penuh kasih, lalu berdiskusi tentang makna memberi dan berempati.
Laporan dari BAZNAS tahun 2024 menunjukkan bahwa kurang dari 20% pelaksanaan kurban disertai kegiatan edukasi. Ini menunjukkan perlunya kolaborasi lebih erat antara lembaga keagamaan, sekolah, dan komunitas agar ibadah kurban tidak berhenti di prosesi, tetapi menembus ke ruang hati.

Menghindari Komersialisasi dan Riyaa

Fenomena kurban digital, brosur online, dan konten media sosial juga membawa tantangan baru. Kurban menjadi bagian dari gaya hidup instan. Cukup klik dan transfer, lalu bukti dikirim via WhatsApp. Banyak pula yang mengunggah dokumentasi kurban ke media sosial tanpa refleksi niat. Di sinilah pentingnya meneguhkan kembali niat lillahi ta’ala.
Dalam sebuah hadits sahih riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian." Maka dari itu, nilai kurban justru terletak pada keikhlasan dan niat, bukan pada seberapa besar hewan yang disembelih.

Kesimpulan: Iduladha untuk Jiwa dan Bangsa

Iduladha bukan hanya momen spiritual individual, tetapi juga investasi sosial untuk membentuk pribadi yang ikhlas, sabar, dan peduli. Ketika nilai-nilai itu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan di rumah, sekolah, dan lingkungan, maka bangsa ini akan tumbuh dengan jiwa-jiwa yang besar.
Kita tak ingin anak-anak kita hanya tahu bahwa Iduladha adalah momen libur dan makan daging. Kita ingin mereka tumbuh dengan jiwa Ismail: rela berkorban, kuat menghadapi ujian, dan yakin bahwa kebaikan akan selalu menang bersama keikhlasan.
Semoga Iduladha tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan nilai dalam kehidupan kita—bahwa kurban bukan hanya ritual tahunan, melainkan latihan spiritual sepanjang hayat.
Trending Now