Konten dari Pengguna
Mau Niat Kamu Dikabulkan, Pahami Dulu 2 Niat Ini dalam Islam
2 September 2021 10:15 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mau Niat Kamu Dikabulkan, Pahami Dulu 2 Niat Ini dalam Islam
Untuk mencapai sesuatu niat saja tidak cukup tapi harus dibarengi dengan usaha. Ada dua niat yang berbeda. Niat untuk Allah sudah pasti sampai dan niat untuk dunia belum tentu sampai. #userstoryFakron Jamalin
Tulisan dari Fakron Jamalin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kamu dulu pernah belajar di pondok pesantren, pasti pelajaran hadits yang pertama dibahas adalah masalah niat. Niat menjadi penting dalam Islam karena menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah. Salat kita tidak sah apabila niatnya salah, misal salat asar tapi niatnya salat subuh, ya gak nyampek! Hukum tersebut berlaku juga untuk praktik ibadah yang lain, seperti puasa, haji, zakat, dan akad nikah.
Dalam Islam, niat dibagi menjadi dua, niat untuk Allah dan niat untuk dunia. Dua niat tertuang dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi "Sesungguhnya setiap pekerjaan dibarengi dengan niat, dan setiap manusia akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan rasulnya maka hajirahnya akan menuju kepada Allah dan rasulnya. Barangsiapa hijrahnya untuk dunia yang ia cintai dan perempuan yang ingin dia nikahi maka hijrahnya akan sampai kepada apa yang ia niatkan".
Hadis di atas adalah hadis yang didapat dari perkataan Khalifah Umar bin Khatab. Dalam hadis diterangkan bahwa jika kamu berniat dalam melakukan sesuatu maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu niatkan. Namun apakah semua orang pasti akan mendapatkan semua yang ia niatkan? Tentu saja tidak. Ada dua niat yang berbeda pengertiannya dalam Islam, yaitu niat karena Allah dan niat karena dunia.
Niat karena Allah
Niat karena Allah adalah niat yang tulus tidak mengharapkan apa-apa. Niat seperti ini layaknya niat seorang hamba yang sudah mencapai tingkatan muriddin (orang yang menjalankan ibadah semata-mata hanya untuk keridaan Allah), dan kalau derajat ketakwaanya meningkat ia akan mencapai derajat ma'rifatullah. Tingkatan terkahir ini adalah tingkatan di mana seorang hamba berbuat sesuatu bukan karena motif ingin pahala atau takut dosa. tapi yang dicari adalah kemuliaan didasari oleh cinta kepada Allah (Fahmy Zarkasyi, 2021:166).
Tipe niat seperti di atas adalah niat yang pasti sampai dan akan berhasil. Niat ini adalah apa yang seperti Nabi Muhammad katakan bahwa semua orang pasti mendapatkan apa yang mereka niatkan. Hadis ini diperkuat dengan ayat 19 surat al-Isra' yang bunyi dalam terjemahanya seperti ini.
Dari ayat di atas kita diingatkan bahwa niat harus dibarengi dengan usaha jika mau berhasil. Usaha sama halnya dengan hijrah. Hijrah bukan dimaksud hanya pindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain tapi juga dapat dimengerti sebagai perpindahan dari yang buruk ke yang baik dalam hal tempat, perilaku, dan pelakunya. Jika semua itu diusahakan dengan sungguh-sungguh dengan niat akhirat bukan dunia maka akan sampai ke Allah dan akan dibalas dengan balasan yang baik seperti yang Allah firmankan.
Niat karena dunia
Niat untuk dunia berbeda dengan niat untuk Allah. Niat karena Allah sudah pasti akan sampai dan jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan ganjaran yang baik, namun niat untuk dunia ada yang berhasil dan ada yang tidak walaupun sudah dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut terjadi karena tercapai atau tidaknya suatu keinginan bukan keputusan manusia tapi kehendak Allah. Simak baik-baik penggalan dari ayat 18 surah al-Isra'
مَنْ يُرِيْدُ العَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيْهَا مَا نَشَاءُ لَمَنْ نُرِيْدُ
Ayat di atas menjelaskan bahwa siapa yang menginginkan al-'ajilata (dunia) maka Allah akan menyegarakan baginya kehidupan dunia yang dia inginkan. Akan tetapi terkabulnya keinginan seseorang atau tidak tergantung kehendak Allah. Allah mengatakan ma nasya' (apa yang Kami kehendaki) dan man nurid (siapa yang Kami kehendaki) bukan ma yasya' (apa yang dia kehendaki) dan man yurid (siapa yang dia kehendaki).Jadi jelas dalam ayat ini menegaskan bahwa semua keputusan ada pada Allah.
Dalam kitab Sarhur Riyadhus Shalin, niat karena dunia adalah niat yang buruk dan merusak karena kadang orang berbuat sesuatu d iluar norma agama agar keinginannya tercapai. Seorang pejabat rela mengkorupsi dana bantuan sosial hanya untuk keinginan dunia dan juga ada yang rela membunuh seseorang karena rasa cemburu.
Mempunyai niat yang kuat untuk mencapai sesuatu itu bagus tapi harus ingat bahwa bukan kehendak kita keinginan itu tercapai. Agar tidak terjerumus dalam kerusakan dan agar keinginan terkabul maka semestinya seorang peminta haruslah berbuat baik kepada si pemberi dengan cara menjalankan perintahnya dan menjauhi larangnya. Apabila keinginan belum dikabulkan maka ingatlah bahwa tidak semua yang kita sukai bagus untuk kita dan begitu juga sebalikanya
Inilah dua niat yang kadang umat Islam keliru dalam memahaminya. Niat saja tidak cukup tapi harus dibarengi dengan usaha. Niat kepada Allah sudah pasti akan sampai sedangkan niat untuk dunia belum tentu akan sampai. Mari kita perbaiki niat dan perbuatan agar keinginan dikabulkan oleh Allah.

