Konten dari Pengguna

Kontroversi Pangan UPF pada Menu MBG: Benarkah Semua UPF Berbahaya?

Rozi Satria Utama
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pangan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Dosen di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.
6 November 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kontroversi Pangan UPF pada Menu MBG: Benarkah Semua UPF Berbahaya?
Pangan UPF ditolak pada menu MBG karena dianggap berbahaya. Namun, faktanya tidak semua UPF berbahaya bagi kesehatan. Studi epidemiologis menunjukkan beberapa UPF justru bermanfaat. #userstory
Rozi Satria Utama
Tulisan dari Rozi Satria Utama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menu makanan MBG di SMAN 7 Denpasar. Foto: Dok. Humas SMAN 7 Denpasar
zoom-in-whitePerbesar
Menu makanan MBG di SMAN 7 Denpasar. Foto: Dok. Humas SMAN 7 Denpasar
Pangan ultra olahan atau ultra processed food (UPF) kembali menjadi sorotan setelah ramai penolakan terhadap penggunaan UPF pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Mulai dari Wakil Ketua IX DPR RI, Anggota Ombudsman RI, hingga Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) itu sendiri.
Namun, Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan pernyataan yang berbeda. Ia menyatakan bahwa larangan tersebut tidak berlaku untuk semua UPF, beberapa pangan ultra olahan yang dianggap sehat seperti susu UHT masih diperbolehkan. Kontroversi ini menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat: Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan UPF? Benarkah semua pangan UPF berbahaya bagi kesehatan?

Memahami Pengertian UPF

Istilah ultra processed food (UPF) dipopulerkan oleh ilmuwan dari Brasil, Carlos A. Monteiro, melalui klasifikasi pangan yang dikenal sebagai klasifikasi NOVA. Menariknya, klasifikasi ini disusun bukan berdasarkan kandungan gizi pangannya, melainkan pada tingkat dan tujuan pengolahannya.
Ilustrasi ultra processed food. Foto: Shutterstock
Menurut klasifikasi NOVA, pangan ultra olahan (ultra processed food) adalah produk hasil formulasi industri yang menggunakan zat aditif yang mempercantik tampilan pangan (seperti perasa, pewarna, pengemulsi, pemanis non-gula) dan/atau zat yang jarang atau tidak pernah digunakan dalam masakan rumahan, misalnya isolat protein dan lesitin.
kelompok UPF sering menjadi kambing hitam karena diasosiasikan dengan peningkatan risiko penyakit kronis, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Namun, apakah tuduhan tersebut benar adanya?

Tidak semua UPF Sama

Asumsi bahwa semua UPF berbahaya dipertanyakan oleh temuan studi epidemiologis itu sendiri. Beberapa studi kohort besar di Amerika justru menunjukkan hasil yang lebih beragam.
Ilustrasi Nugget. Foto: MaraZe/Shutterstock
Berdasarkan data dari tiga studi kohort besar di Amerika, yaitu Nurses’ Health Study (NHS), NHS II, dan Health Professional Follow-Up Study (HPFS), ditemukan bahwa tidak semua UPF memiliki efek negatif terhadap kesehatan. Pada penelitian terhadap hampir 200 ribu responden selama hampir dua dekade ditemukan bahwa sebagian dari produk UPF mengindikasikan adanya efek perlindungan atau risiko yang lebih rendah terhadap diabetes tipe dua.
Demikian pula pada analisis risiko penyakit kardiovaskular, ditemukan bahwa sebagian UPF juga mengindikasikan efek perlindungan atau pengurangan risiko. Menariknya, dari studi tersebut ditemukan bahwa peningkatan risiko penyakit kardiovaskular disebabkan oleh dua kelompok utama, yaitu minuman tinggi gula serta produk olahan daging merah, unggas, dan ikan.
Terdapat bukti meyakinkan yang mengaitkan asupan minuman manis dan daging olahan ultra-proses (seperti nuget, sosis, hot dog, dan lain-lain) dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe dua, dan obesitas. Para ahli sepakat bahwa jenis UPF inilah yang menjadi target utama intervensi.
Ilustrasi Ultra Processed Food. Foto: Harold Diaz Lara/Shutterstock
Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh UPF terhadap kesehatan tidak dapat disamaratakan. Faktanya, tidak semua pangan yang dicap sebagai UPF akan memberikan efek buruk yang sama.

Dimensi Sosial dan Ketahanan Pangan

Penolakan total terhadap UPF dapat menimbulkan masalah sosial ekonomi. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan mereka yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap pangan segar, produk UPF sering kali menjadi solusi sumber gizi terjangkau dan praktis.
Selain itu, UPF juga mempunyai peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. Produk seperti susu UHT dan makanan kaleng—yang mempunyai umur simpan yang panjang dan dapat ditransportasikan ke daerah yang jauh—dapat menjadi solusi dari kekurangan pangan di daerah terpencil. Manfaat seperti ini tentu tidak dapat diabaikan begitu saja.

Kebijakan yang Berdasarkan pada Bukti

Petugas menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk didistribusikan ke sekolah di SPPG Tubo Ternate, Maluku Utara, Kamis (30/10/2025). Foto: Andri Saputra/ANTARA FOTO
Perdebatan mengenai kebijakan pangan UPF di dalam menu MBG sebaiknya tidak disederhanakan menjadi dikotomi “pangan sehat” dan “pangan berbahaya”. Namun, kebijakan ini harus berdasarkan bukti ilmiah yang mempertimbangkan aspek pemenuhan gizi dan dampak sosial ekonomi secara bersamaan.
UPF memang menjadi faktor yang berkontribusi terhadap perubahan pola makan modern yang sering kali dianggap berlebihan. Namun, bukan berarti semua produk UPF harus dilarang. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memastikan pangan olahan diformulasikan dengan komposisi bahan yang baik dan bergizi, dikonsumsi secara wajar, dan menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Trending Now