Konten dari Pengguna
Dilexi Te: Dampak Universal Cinta di Era Sekuler
17 Oktober 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Dilexi Te: Dampak Universal Cinta di Era Sekuler
Dilexi Te bukanlah sekadar meditasi kepausan; ia merupakan manifesto moral global. Dokumen ini mendefinisikan ulang kemiskinan sebagai ketidakadilan struktural yang memerlukan perubahan sistemik.Falentino da Cunha
Tulisan dari Falentino da Cunha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paus Leo XIV mengeluarkan Dilexi Te (“Aku Telah Mengasihimu”), seruan apostolik pertamanya, pada Oktober 2025. Dokumen ini menekankan komitmen Gereja Katolik terhadap kaum miskin sambil menghadapi kekosongan etis dalam dunia yang semakin sekuler.
Ketepatan waktu seruan ini sangat penting: ketidaksetaraan global melebar, pengungsian akibat perubahan iklim meningkat, dan krisis kemanusiaan menekan kerja sama internasional. Dalam konteks ini, Dilexi Te membawa ajaran sosial Gereja ke fase baru, menghubungkan cinta, keadilan, dan martabat manusia sebagai jawaban terhadap kelemahan ekonomi dan politik modern (Vatikan, 2025).
Menurut Yohanes 15:9, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah Aku telah mengasihi kamu," menekankan bahwa cinta ilahi harus menjadi cinta sosial dan transformatif, karena ini adalah kebutuhan etika universal untuk mengembalikan nilai kemanusiaan dalam dunia modern.
Membingkai Ulang Teologis: Dari Kedermawanan ke Kasih Sayang Struktural
Dalam Dilexi Te, Paus Leo XIV menggunakan Kitab Suci dan teori sosial modern untuk menggambarkan kasih sayang sebagai solidaritas struktural. Ia menyatakan, “Yesus dari Nazaret, dengan menjadi miskin, memperlihatkan wajah mereka yang terpinggirkan” (Vatikan, 2025). Kalimat ini mengingatkan pada teologi pembebasan tanpa terjebak dalam reduksi ideologis; Leo XIV mengadvokasi konversi sistemik daripada konflik kelas. Ia meyakini bahwa kemiskinan adalah penderitaan struktural, bukan sekadar tragedi manusia—“akibat pilihan yang mengutamakan keuntungan di atas manusia” (Vatikan, 2025).
Di dalam Gereja, Dilexi Te memperluas konsep “pilihan prioritas bagi orang miskin” menjadi “panggilan universal untuk kedekatan.” Menurut Marta Rodríguez (2025), pergeseran ini mengangkat kedermawanan dari kebajikan pribadi menjadi etika publik. Dengan demikian, deklarasi ini menggabungkan kesucian pribadi dan kewajiban moral masyarakat.
Dalam konteks global, penafsiran ini juga mengkritik humanisme sekuler yang menilai kesuksesan berdasarkan efisiensi atau hasil finansial. Dilexi Te berpendapat, "seperti tangan tanpa hati" (Vatikan, 2025), bantuan tidak lengkap tanpa persaudaraan. Dokumen ini menganggap cinta sebagai tata bahasa moral universal, mendorong kerja sama antara budaya dan agama, menjembatani perbedaan antara belas kasihan sekuler dan berbasis agama.
Implikasi Etis Sistem Global
Ciri utama Dilexi Te adalah hambatan terhadap struktur ekonomi dan politik global. "Ekonomi yang menghasilkan ketidaksetaraan tidak dapat disebut sukses," kata Paus Leo XIV (Vatikan, 2025). Garis pemikiran dari Rerum Novarum (Leo XIII, 1891) dan Laudato Si' (Francis, 2015), tetapi dengan nada yang berbeda untuk zaman modern. Leo XIV memperingatkan tentang "kerajaan digital konsumsi" yang akan "mengubah perhatian menjadi mata uang" dan mengubah manusia menjadi titik data (Vatikan, 2025). Menurut definisi yang diberikan oleh Shoshana Zuboff (2019), ekonomi digital adalah “bentuk baru dominasi sosial yang dibangun atas ekstraksi perilaku”.
Dengan menggabungkan antropologi teologis dan studi sosioekonomi, Dilexi Te memasukkan ajaran sosial Katolik ke dalam diskursus etika global. Menurut Leo XIV, "teriakan bumi dan teriakan orang miskin adalah satu dan sama" (Vatikan, 2025).
Menurut Elizabeth Johnson (2021), metode ini disebut sebagai "eko-soteriologis" karena keselamatan terkait langsung dengan konversi ekologis. Leo XIV mendukung "ekonomi persekutuan", di mana kesejahteraan manusia lebih penting daripada keuntungan jangka pendek. Direktorat Vatikan untuk Pengembangan Manusia yang Integral mengumumkan kerja sama dalam tata kelola teknologi yang etis dengan PBB dan Bank Dunia (Vatican News, 2025).
Resonansi dalam Konteks Sekuler dan Antaragama
Di kalangan filsuf sekuler dan pemimpin antaragama, Dilexi Te mendapatkan dukungan. Dia berada di tengah-tengah percakapan etika global karena menganggap cinta sebagai kebaikan publik yang logis. Charles Taylor (2025) menilai, “Visi Leo XIV memulihkan universalitas moral tanpa menghilangkan pluralisme.” Dalam budaya yang terpolarisasi, dokumen ini mendorong kerja sama berdasarkan martabat manusia, bukan ideologi.
Terinspirasi oleh Dilexi Te, program ekumenis di Indonesia mendorong kerja sama antara komunitas Katolik dan Muslim dalam pengentasan kemiskinan dan pendidikan lingkungan. Ajakan ini diubah menjadi "Kasih yang Menggerakkan" oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang mendorong keuskupan-keuskupan untuk menangani masalah lokal seperti pengangguran pemuda, ketidaksetaraan digital, dan permukiman kumuh perkotaan (KWI, 2025). Bagaimana pembicaraan moral internasional dapat disesuaikan dengan konteks nasional ditunjukkan oleh implementasi lokal ini.
Dilexi Te juga berfungsi sebagai forum untuk humanis sekuler. Pemahaman sosiologis modern tentang ketidakadilan sistemik sejalan dengan pengakuan dia terhadap "dosa struktural". Menurut Amartya Sen (2024), keadilan diukur dari pengurangan penderitaan nyata, bukan institusi ideal. Dilexi Te melengkapi sistem moral sekuler dengan mendorong belas kasihan praktis. Bagian dokumen ini dikutip di Forum Ekonomi Dunia 2025 saat membahas kecerdasan buatan etis, menunjukkan relevansi lintas agama dan lintas disiplin.
Dilexi Te bukanlah sekadar meditasi kepausan; ia merupakan manifesto moral global. Dokumen ini mendefinisikan ulang kemiskinan sebagai ketidakadilan struktural yang memerlukan perubahan sistemik, mempertanyakan kekosongan moral kapitalisme, dan mengusulkan etika cinta universal berbasis martabat manusia. Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan etika sosial tidak bertentangan: mencintai orang miskin berarti membangun kembali peradaban berdasarkan keadilan.
Di tengah era sekuler yang memprioritaskan utilitas daripada kemanusiaan, Dilexi Te menegaskan bahwa perkembangan sejati diukur bukan berdasarkan keuntungan, melainkan kemampuan untuk mencintai secara konkret.

