Konten dari Pengguna

Menilik Gerakan Ikumen dan Rekonstruksi Peran Ayah dalam Perspektif Gender

Fania Tiara Berliana M
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga
22 Oktober 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menilik Gerakan Ikumen dan Rekonstruksi Peran Ayah dalam Perspektif Gender
Menantang patriarki lewat gerakan Ikumen. Saat ayah belajar hadir bukan sekadar mencari nafkah, tapi ikut membentuk dunia yang lebih setara.
Fania Tiara Berliana M
Tulisan dari Fania Tiara Berliana M tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Ayah dan Anak Bermain Bersama (Foto: IStockPhoto)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ayah dan Anak Bermain Bersama (Foto: IStockPhoto)
Dalam konteks masyarakat modern, isu kesetaraan gender tidak lagi terbatas pada upaya pemberdayaan perempuan. Isu ini juga menyoroti bagaimana laki-laki berperan dalam menghadirkan keseimbangan baru di dalam keluarga. Di Jepang dan Indonesia, dua negara yang sama-sama dipengaruhi sistem patriarki, peran ayah tengah mengalami pergeseran makna. Sosok ayah yang dahulu hanya dipandang sebagai pencari nafkah, perlahan berubah menjadi figur yang juga terlibat dalam pengasuhan dan pembentukan karakter anak. Pergeseran ini bukan semata soal peran, tetapi juga cara pandang baru terhadap hubungan keluarga yang lebih setara.
Dalam kajian gender, perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan sejatinya tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis, melainkan juga hasil dari konstruksi sosial. Teori peran sosial yang dikemukakan Alice Eagly (1987) menjelaskan bahwa masyarakat membentuk ekspektasi tertentu terhadap setiap gender, termasuk peran ayah dan ibu dalam rumah tangga. Sementara itu, konsep caring masculinities yang diperkenalkan oleh Karla Elliott (2016) menegaskan bahwa maskulinitas tidak harus diartikan sebagai kekuasaan dan ketegasan semata. Sebaliknya, kemampuan laki-laki untuk menunjukkan empati, kasih sayang, dan kepedulian justru mencerminkan bentuk maskulinitas baru yang lebih sehat dan manusiawi. Dalam konteks ini, keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dapat dipandang sebagai langkah penting untuk menyeimbangkan relasi gender yang selama ini timpang.
Gerakan Ikumen di Jepang
Fenomena tersebut tampak jelas di Jepang melalui kemunculan istilah ikumen. Istilah ini berasal dari gabungan ikuji yang berarti pengasuhan anak dan ikemen yang berarti laki-laki menarik. Menurut Indun, Dheandra, dan Septa (2019), istilah ini mulai dikenal sejak awal 2000-an dan makin populer ketika Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang meluncurkan Ikumen Project pada 2010. Program ini mendorong laki-laki Jepang untuk lebih aktif mengasuh anak dan mengambil cuti ayah. Langkah tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya mengubah persepsi masyarakat tentang peran laki-laki di rumah tangga.
Sebelum gerakan ini hadir, laki-laki Jepang lekat dengan citra salaryman yang bekerja tanpa henti, pulang larut, dan jarang berinteraksi dengan anak. Kondisi ini bahkan memunculkan istilah fatherless society, yaitu ketika ayah hadir secara fisik namun absen secara emosional. Melalui Ikumen Project, pemerintah Jepang berupaya membalikkan realitas tersebut. Kampanye publik, pelatihan pengasuhan, serta dukungan komunitas seperti Fathering Japan menjadi cikal bakal perubahan budaya yang menempatkan ayah sebagai figur yang hangat dan terlibat dalam keluarga.
Belakangan, perubahan itu mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan laporan The Japan Times (2024), sebanyak 30,1 persen ayah baru di Jepang telah mengambil cuti pengasuhan anak pada tahun fiskal 2023, angka tertinggi sepanjang sejarah. Pemerintah juga menyediakan tunjangan hingga 67 persen dari gaji selama masa cuti agar ayah tidak terbebani secara ekonomi. Kendati sebagian besar ayah masih mengambil cuti singkat, peningkatan ini menjadi sinyal positif bahwa keseimbangan peran dalam keluarga mulai mendapat tempat. Perlahan, masyarakat Jepang tengah bergerak dari budaya kerja maskulin menuju budaya keluarga yang lebih peduli.
Namun demikian, perubahan tidak terjadi secepat yang diharapkan. Budaya lembur yang masih kuat membuat banyak ayah enggan mengambil cuti panjang karena khawatir dinilai kurang berdedikasi. Alih-alih hanya mengandalkan kebijakan, perubahan paradigma sosial menjadi kunci utama agar nilai-nilai caring masculinities benar-benar melekat dalam kehidupan sehari-hari. Kendati belum sepenuhnya ideal, gerakan Ikumen telah membuka ruang baru bagi laki-laki Jepang untuk hadir di rumah tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ayah maupun kepala keluarga.
Fatherless dan Dinamika Peran Ayah di Indonesia
Di sisi lain, Indonesia menghadapi persoalan yang tak jauh berbeda. Budaya patriarki yang mengakar membuat pembagian peran domestik dan publik masih timpang. Laki-laki sering diidentikkan dengan ranah ekonomi, sedangkan perempuan dipersepsikan sebagai pengasuh utama. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2017, hanya sekitar 26,2 persen ayah yang benar-benar terlibat langsung dalam pengasuhan anak. Rendahnya keterlibatan tersebut berkontribusi pada munculnya fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah yang nyata. UNICEF (2021) bahkan mencatat sekitar 20,9 persen anak di Indonesia mengalami hal ini, baik karena perceraian, kematian, maupun pekerjaan ayah yang membuat mereka jauh dari rumah.
Kondisi tersebut membawa dampak serius. Studi yang dilakukan Nurjanah (2024) menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola emosi serta membangun rasa percaya diri. Tak hanya itu, beban ganda bagi perempuan juga semakin berat karena harus memikul tanggung jawab ekonomi dan domestik sekaligus. Dengan kata lain, absennya peran ayah bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi juga masalah sosial yang berakar pada ketimpangan gender.
Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah konkret melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang diluncurkan BKKBN pada 2025. Program ini mendorong ayah untuk terlibat aktif dalam pengasuhan, bahkan melalui langkah sederhana seperti mengantar anak di hari pertama sekolah. Sekilas tampak kecil, tetapi gerakan ini menjadi penanda penting bahwa kehadiran ayah memiliki dampak besar bagi tumbuh kembang anak. Lebih dari itu, GATI diharapkan menjadi cikal bakal perubahan sosial yang menumbuhkan kesadaran baru di kalangan laki-laki tentang pentingnya keseimbangan peran dalam keluarga.
Selain faktor kebijakan, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Ibrahim dan Chusniyah (2025) menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan dipengaruhi oleh kombinasi faktor psikologis, interpersonal, dan sosiokultural. Di antaranya, regulasi emosi, religiusitas, komunikasi, serta norma gender terbukti memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas hubungan suami istri. Studi tersebut menekankan bahwa religiusitas dan kesejahteraan psikologis dapat memperkuat komitmen pasangan dan menciptakan lingkungan keluarga yang lebih harmonis. Dengan kata lain, perubahan peran ayah tidak hanya bergantung pada kebijakan publik, tetapi juga pada nilai-nilai personal, komunikasi yang sehat, dan keharmonisan relasi dalam rumah tangga.
Menuju Keluarga yang Setara
Jika dibandingkan, Jepang dan Indonesia sama-sama sedang meniti jalan panjang menuju rekonstruksi peran ayah di tengah tekanan budaya patriarki. Bedanya, Jepang telah menata sistemnya melalui kebijakan yang mapan, sementara Indonesia masih membangun fondasi lewat pendekatan moral dan sosial. Alih-alih meniru secara mentah, Indonesia dapat belajar dari Jepang bahwa kebijakan publik dan kesadaran sosial harus berjalan beriringan agar perubahan benar-benar berakar.
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah bentuk kepedulian baru yang menguntungkan semua pihak. Perempuan mendapatkan ruang untuk berdaya, anak tumbuh dengan stabil secara emosional, dan laki-laki menemukan kembali sisi lembut kemanusiaannya. Dalam pandangan feminisme liberal, relasi yang setara bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi menjadikan perbedaan itu sebagai dasar untuk saling melengkapi.
Pada akhirnya, baik Jepang maupun Indonesia sama-sama tengah belajar membangun keluarga yang adil dan harmonis. Jepang masih berjuang melawan budaya kerja yang kaku, sementara Indonesia berusaha menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya peran ayah di rumah. Kendati jalannya berbeda, arah keduanya sama, yakni menuju keluarga yang lebih setara. Kesetaraan gender bukan hanya soal membuka peluang bagi perempuan, tetapi juga soal memberi ruang bagi laki-laki untuk kembali hadir.
Trending Now