Konten dari Pengguna
Sulit Membuang Barang, Wajar atau Tanda Hoarding Disorder?
9 Januari 2026 6:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sulit Membuang Barang, Wajar atau Tanda Hoarding Disorder?
Menunda membuang barang terasa sepele. Namun di baliknya, hoarding disorder bisa diam-diam memengaruhi kesehatan mental dan ketenangan batin. #userstoryFanya Azzahra Imaniar
Tulisan dari Fanya Azzahra Imaniar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mulai mengalami kesulitan ketika harus membereskan barang. Rasa berat untuk memilah, keterikatan emosional pada benda tertentu, hingga kecemasan berlebih saat harus membuangnya sering dianggap sebagai sifat pribadi. Padahal, kondisi ini patut menjadi perhatian ketika mulai mengganggu kenyamanan, kebersihan, dan fungsi ruang hidup.
Hoarding disorder merupakan gangguan psikologis yang ditandai dengan ketidakmampuan menetap untuk membuang barang, terlepas dari nilai guna benda tersebut. Akibatnya, barang menumpuk secara berlebihan, hingga membuat ruang menjadi sempit, tidak tertata, dan berdampak pada kualitas hidup.
Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai kemalasan atau kurang disiplin, padahal sering berkaitan dengan kecemasan, pengalaman kehilangan, dan kesulitan mengelola emosi.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan hoarding dapat mulai berkembang sejak masa remaja hingga dewasa awal dan berdampak signifikan pada fungsi psikososial individu (Dozier et al., 2025).
Stres psikososial juga diketahui memperkuat keterikatan emosional seseorang terhadap barang-barang yang dimilikinya (Cromer et al., 2023). Dalam situasi hidup yang terasa tidak stabil, barang sering kali menjadi sumber rasa aman semu, sesuatu yang bisa dikendalikan ketika aspek lain dalam hidup terasa tidak pasti.
Secara teoritis, hoarding disorder dapat dipahami melalui model kognitifâpemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Frost dan Hartl. Kesulitan mengambil keputusan, lemahnya kemampuan mengorganisasi, dan keyakinan irasional terhadap barang membuat individu merasa takut kehilangan.
Dari sisi emosional, attachment theory menjelaskan bahwa barang dapat berfungsi sebagai pengganti rasa aman ketika kebutuhan afeksi dan relasi interpersonal tidak terpenuhi.
Dalam perspektif Islam, perilaku menimbun secara berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual. Rasulullah SAW bersabda, âKebersihan itu sebagian dari imanâ (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dan keteraturan bukan sekadar urusan fisik, melainkan juga bagian dari kualitas keimanan seseorang.
Al-Qurâan juga mengingatkan manusia agar tidak bersikap berlebihan dalam menjalani kehidupan. Allah SWT berfirman, âMakan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihanâ (QS. Al-Aâraf: 31). Prinsip ini menegaskan pentingnya keseimbangan, memiliki secukupnya, menyimpan seperlunya, tanpa keterikatan yang berlebihan.
Melalui pendekatan Bimbingan dan Konselingâkhususnya konseling agama Islamâpenanganan hoarding disorder tidak hanya diarahkan pada perubahan perilaku, tetapi juga pemulihan emosi dan penguatan makna hidup.
Menata ruang hidup dapat dimaknai sebagai bagian dari ibadah dan ikhtiar menata batin, sejalan dengan firman Allah SWT bahwa Dia mencintai orang-orang yang menyucikan diri (QS. Al-Baqarah: 222).
Pada akhirnya, tidak semua tumpukan barang menandakan gangguan psikologis. Namun, ketika ruang hidup terasa semakin sesak dan memunculkan kegelisahan, kondisi tersebut layak menjadi bahan refleksi. Sebab, menata ruang sering kali menjadi langkah awal untuk menenangkan jiwa.

