Konten dari Pengguna

Dari Pontianak ke Entikong: Menyusuri Jalan, Sawit, dan Batas Negara

Fathurrohman
Analis Kejahatan Narkotika, Penulis Cerita Perjalanan, ASN di BNN.
7 Desember 2025 12:43 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Pontianak ke Entikong: Menyusuri Jalan, Sawit, dan Batas Negara
Perjalanan Dari Pontianak ke Entikong: Menyusuri Jalan, Sawit, dan Batas Negara. Menikmati dan menemukan hikmah dari perjalanan setelah bertemu orang dan lingkungan dengan hikmahnya masing-masing.
Fathurrohman
Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
PLBN Entikong. Foto: koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
PLBN Entikong. Foto: koleksi pribadi
Pagi di Pontianak belum benar-benar matang ketika kami berempat menyelesaikan sarapan secukupnya. Jam baru menunjukkan pukul enam. Secangkir kopi, sepotong roti, dan beberapa suap nasi menjadi bekal awal sebelum kami check out dari penginapan.
Tidak ada waktu berlama-lama. Hari ini kami akan bergerak jauh: menuju Entikong, salah satu titik batas paling sibuk antara Indonesia dan Malaysia.
Pukul 06.30 perjalanan dimulai. Kota Pontianak perlahan ditinggalkan. Jalanan mulai sepi, lalu masuk ke ruas lintas antar-kabupaten yang panjang dan melelahkan. Tujuan awal kami adalah kantor Bea Cukai Entikong, sebuah simpul penting arus barang dan manusia di perbatasan.
Tak lama kemudian kami berhenti di Tugu Simpang Tanjung, satu pertigaan besar di jalur lintas Pontianak–Entikong–Sanggau. Di sanalah seorang kawan kami yang berdinas di wilayah Sanggau telah menunggu cukup lama.
Setelah bersalaman singkat dan memindahkan barang, perjalanan kembali dilanjutkan dengan formasi lengkap, lima orang.
Jalan yang kami lintasi hanya cukup untuk dua kendaraan berpapasan. Tidak lebih. Di kanan kiri, sebagian besar masih berupa hutan dan kebun, meski di beberapa titik telah berubah menjadi hamparan sawit yang panjang dan seragam.
Yang membuat perjalanan sedikit tegang adalah kebiasaan warga yang tidak menyukai bunyi klakson. Sementara kami, yang tidak terbiasa dengan kondisi jalan sempit dan motornya melaju tanpa menoleh, beberapa kali terpaksa menahan napas karena jarak yang sangat mepet.
Klakson menjadi dilema: dibunyikan dianggap tidak sopan, tidak dibunyikan berisiko bersenggolan.
Sesekali kami bercerita soal pahit-getir hidup yang kami tertawakan bersama-sama. Tentu saja yang paling utama adalah menjaga supir agar tidak mengantuk yang dapat berakibat fatal.
Sepanjang jalan, truk-truk bermuatan tandan buah sawit melintas tanpa henti. Konvoi panjang, siang dan malam. Di satu titik, saya terdiam cukup lama.
Pikiran saya melayang jauh ke Sumatra—tentang banjir besar yang belakangan kian sering terjadi, tentang sungai-sungai yang meluap karena hutan di hulunya telah lama berubah menjadi kebun sawit dan tambang.
Kalimantan Barat, seperti juga Sumatera, menyimpan luka alih fungsi hutan. Jutaan hektar lahan telah berubah menjadi perkebunan dan konsesi tambang. Hutan hujan tropis yang dulu menjadi penyangga air kini terbelah oleh jalan produksi.
Di sela-sela hamparan sawit yang kami lintasi seharian, saya merasa sedang melihat masa depan bencana yang pelan-pelan sedang dirancang tanpa kita sadari.
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit Kalimantan. (dok. Kementerian Koperasi dan UKM)
Kami menempuh perjalanan sekitar lima jam, dengan satu kali istirahat di Tugu Simpang Ampar. Kopi panas, camilan ringan, keperluan ke toilet, lalu kembali menyusun rencana di atas peta.
Tidak ada yang mewah. Istirahat hanya soal memberi tubuh kesempatan bernapas, sebelum kembali dicekoki pemandangan aspal, hutan sawit, dan birunya langit.
Memasuki wilayah Entikong, langit yang sejak pagi mendung akhirnya menumpahkan isinya. Hujan deras menyambut kami tepat di gerbang perbatasan. Seolah memberi salam dengan cara khas Kalimantan: tiba-tiba, deras, dan tanpa aba-aba.
Kami tiba di kantor Bea Cukai Entikong sekitar pukul 12.00 siang. Kami berbincang dengan seorang kawan yang hari ini menjadi kepala kantornya. Setelah sholat Dzuhur, kami melanjutkan perjalanan ke Tebedu, satu kawasan di Malaysia yang berbatasan langsung dengan Entikong.
Di titik inilah saya menyaksikan wajah lain perbatasan: warga Indonesia yang keluar masuk Malaysia dengan ritme harian yang nyaris tak putus.
Sebagian besar untuk bekerja, sebagian untuk membeli keperluan harian, dan tidak sedikit yang membawa pulang barang-barang kecil seperti minuman, cokelat, makanan ringan untuk dijual kembali di kampung.
Perbatasan bukan sekadar garis di peta. Ia adalah ruang hidup, tempat orang menggantungkan nafkah tanpa banyak pilihan.
Rekan kami di BC Entikong kerap bercerita soal aktivitas ilegal yang terjadi di daerah ini, terutama penyelundupan barang terlarang berupa narkotika.
Selepas makan siang di Tebedu, kami kembali ke wilayah Indonesia, melanjutkan perjalanan menuju Sanggau. Kali ini perjalanan tidak hanya melintasi jalan, tetapi juga menapak jejak sejarah.
Sanggau bukan wilayah biasa. Ia menyimpan jejak Kerajaan Sanggau, yang masih hidup hingga hari ini dalam bentuk simbolik dan kultural. Kami berkesempatan bertemu langsung dengan Raja Sanggau yang bergelar lengkap Pangeran Ratu Istana Surya Negara H. Gusti Arman.
Foto bersama Raja Sanggau, H. Gusti Arman. Foto: koleksi pribadi
Pertemuan singkat, sederhana, tetapi penuh makna. Sejarah tidak selalu tinggal di buku. Kadang ia masih duduk di ruang tamu, menyeduh teh, dan berbincang tentang masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Ada banyak perbincangan soal politik, termasuk dukungan politiknya beliau kepada presiden RI saat ini. Katanya, kerajaan tidak lagi memiliki kekuasaan apapun untuk menguasai tanah, rakyat, dan kekayaan alam yang dikandungnya.
Semuanya sudah diserahkan kepada NKRI. Semoga saja NKRI dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Sanggau adalah kabupaten yang luas, sangat luas. Tetapi seperti banyak daerah di luar Jawa, pembangunan belum merata. Akses jalan belum setara di semua wilayah. Internet tidak selalu hadir sebagai kebutuhan dasar.
Di beberapa titik, sinyal hilang begitu saja. Bagi sebagian orang mungkin ini gangguan kecil. Tetapi bagi masyarakat lokal, inilah kenyataan yang sudah lama mereka hadapi: hidup di wilayah besar dengan akses yang masih terbatas.
Perjalanan hari itu mengajari saya banyak hal. Tentang jalan yang sempit dan klakson yang tabu, tentang sawit yang menggerakkan ekonomi sekaligus menyiapkan risiko bencana, tentang perbatasan yang bukan garis mati, dan tentang daerah luas yang belum sepenuhnya tersentuh pemerataan.
Kalimantan Barat bukan sekadar rute yang kami lewati. Ia adalah fragmen Indonesia yang memperlihatkan paradoks dengan sangat jujur: kaya sumber daya, tetapi tidak selalu mudah mengakses kesejahteraan; berada di garis depan negara, tetapi kerap tertinggal dalam perhatian.
Dan di tengah hujan Entikong, sawit yang tak ada habisnya, serta sunyi jalan menuju Sanggau, saya kembali sadar: perjalanan bukan hanya tentang sampai, tetapi tentang memahami apa yang kita lintasi—dan apa yang perlahan kita abaikan.
Trending Now