Konten dari Pengguna
Hipertensi: Ancaman Senyap Anak Sekolah
22 November 2025 12:15 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Hipertensi: Ancaman Senyap Anak Sekolah
Pola hidup anak perlu mendapat perhatian lebih karena saat ini anak pun terkena permasalahan tekanan darah tinggi seperti yang dialami orang dewasa.Fathurrohman
Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sesekali saya mengantar anak-anak ke sekolah atau menengok anak yang saat ini tinggal di pesantren. Di antara puluhan wajah remaja yang mulai tumbuh, kadang muncul lintasan dalam pikiran: “Apakah anak-anak remaja sekarang ini benar-benar sehat?”
Sebagai orang yang dibesarkan di kampung, ragam makanan yang saya makan di masa kecil dulu cukup terbatas. Sebagian besarnya adalah masakan olahan rumah. Situasi yang sangat berbeda dengan saat ini.
Hari ini, saat saya mendengar cerita dari teman yang bekerja di puskesmas di Jakarta bahwa di usia sekolah anak-anak juga bisa memiliki tekanan darah tinggi, lintasan pikiran saya kembali kepada pertanyaan: “Apa yang anak-anak ini makan dan minum?”
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah satu jenis masalah yang dulunya adalah milik “usia matang”. Namun kini berbeda. Ini juga menjadi alarm laten bagi sistem kesehatan dan pendidikan kita.
Menyoal gaya hidup anak sekarang
Di kantin sekolah, pilihan anak-anak sekarang seringkali jatuh pada mie instan, sosis goreng, minuman manis kemasan, dan ragam makanan olahan dengan beragam jenis pengawet.
Semetnara di rumah, gadget lebih sering dipegang daripada kegiatan fisik. Di jam istirahat, anak-anak lebih banyak duduk daripada lompat, lari, bermain bola, dst.
Semua faktor masalah kesehatan yang hari ini muncul pada anak remaja seperti obesitas, konsumsi garam tinggi, dan kurang aktivitas adalah pintu masuk terbuka hipertensi. Itu belum dihitung dengan kondisi stres akademik
Ujian, tugas, tuntutan prestasi adalah masalah yang hari ini menjadi masalah umum. Kini, anak sekolah bersentuhan langsung dengan beban yang dulu kita anggap hanya untuk mahasiswa atau pekerja. Hormon stres seseorang bermain di balik layar tekanan darah.
Memanfaatkan sekolah
Sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung. Ini adalah medan pembentukan kebiasaan hidup. Karena itu, sekolah harus didesain dengan pendekatan kesehatan yang lebih baik. Sekolah bukan sekadar aktivitas menyelesaikan soal-soal pelajaran.
Ketika kantin sekolah masih bebas menjaja junk-food, olahraga siswa sekadar “pelengkap”, dan guru belum menjadi agen kesehatan, maka medan sekolah belum dimanfaatkan sebagai media belajar yang pro terhadap isu kesehatan.
Jika sejak usia sekolah anak sudah mengalami hipertensi, maka taruhan masa depan menjadi berat. Serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal hanya soal waktu.
Bonus demografi yang kita harapkan akan berbanding positif terhadap beban kesehatan. Investasi pendidikan akan sia-sia bila kesehatan generasi muda rapuh.
Membangun kepekaan kesehatan anak
Di laman msdmanuals.com atau Hypertension in Children – Pediatrics (MSD Manuals) Hipertensi disebutkan jika anak dengan tekanan darah tinggi seringkali terjadi tanpa gejala. Ini adalah situasi buruk karena alarm datangnya bahaya tidak bekerja.
Dus, “penyakit orang dewasa” datang lebih cepat karena gaya hidup anak sekarang mempercepat proses penyakit datang. Data lain juga menunjukkan jika obesitas anak terus naik. Padahal, obesitas adalah salah satu peta jalan menuju hipertensi.
Laman bmcpediatr.biomedcentral.com juga menyebutkan jika prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak dan remaja berusia 5-19 tahun di Indonesia meningkat empat kali lipat, dari 3,9% menjadi 15,4% antara tahun 1996 dan 2016.
Fokus langkah pencegahan
Di lingkungan sekolah, langkah pencegahan hipertensi sebenarnya dapat dimulai dari hal yang sederhana. Pengukuran tekanan darah seharusnya dilakukan secara rutin, bukan hanya tinggi badan dan berat badan seperti yang selama ini menjadi kebiasaan.
Selain itu, kantin sekolah perlu berbenah: pilihan makanan tinggi garam, gula, dan lemak harus dikurangi, digantikan dengan opsi buah, sayur, atau makanan yang lebih sehat.
Pelajaran PJOK pun harus kembali pada esensinya sebagai ruang bagi siswa untuk bergerak aktif. Minimal 150 menit aktivitas fisik per minggu seperti generasi 90-an seperti saya sebenarnya bukanlah angka ideal. Namun itu jauh lebih baik karena menjadi kebutuhan dasar bagi kesehatan tubuh anak.
Edukasi kesehatan juga harus diberikan secara rutin, bukan sekadar slogan “jaga kesehatan”, tetapi penjelasan praktis tentang bagaimana kebiasaan kecil seperti minum air yang cukup, banyak bergerak, atau mengurangi konsumsi garam dapat membantu menjaga tekanan darah tetap normal.
Pendekatan yang pro kesehatan juga perlu dilakukan di rumah dan peran orang tua menjadi sangat signifikan. Mereka harus mampu mengawasi pola makan anak, aktivitas fisik anak, dan penggunaan gadget. Orang tua harus menjadi sumber inspirasi untuk akktif bergerak.
Sementara di ranah kebijakan publik, pemerintah perlu hadir lebih tegas. Regulasi mengenai batas maksimal garam dalam jajanan sekolah penting untuk mencegah anak terpapar makanan yang tidak sehat sejak dini.
Program “Sekolah Sehat” perlu kembali disemarakkan selaras dengan progam Makanan Bergizi Gratis yang hari ini menjadi program prioritas pemerintah.
Program pun seharusnya tidak berhenti sebagai label atau slogan, tetapi diwujudkan melalui evaluasi nyata—meliputi program perbaikan gizi, menjaga kebersihan, pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik, hingga pemantauan tekanan darah siswa.
Jika abai di level kebijakan, maka mimpi Indonesia Emas tahun 2045 akan tetap menjadi mimpi.

