Konten dari Pengguna

Membangun Desa Bersinar

Fathurrohman
Analis Kejahatan Narkotika, Penulis Cerita Perjalanan, ASN di BNN.
13 September 2025 12:38 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Membangun Desa Bersinar
Desa Bersinar kini meluas menjadi Sekolah Bersinar, Kampus Bersinar, dan Komunitas-komunitas Bersinar. Desa Bersinar harus dibangun dengan basis yang kuat dan mengacu pada sumber daya desa tersebut.
Fathurrohman
Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kampung padat Jakarta. Sumber: kumparan.com
zoom-in-whitePerbesar
Kampung padat Jakarta. Sumber: kumparan.com
Desa Bersinar yang menjadi akronim dari Desa Bersih dari Narkoba hari ini telah menjadi akronim yang cukup dikenal luas. Desa Bersinar kini meluas menjadi Sekolah Bersinar, Kampus Bersinar, dan Komunitas-komunitas Bersinar.
Desa adalah entitas pemerintahan di tingkat terendah. Desa dibangun dengan struktur sosial, politik, ekonomi, dan nilai-budaya yang khas. Entitas Desa dipengaruhi oleh beragam faktor, baik yang bersifat alamiah atau bersumber dari eksternal.
Keragaman desa ini akan mudah kita fahami jika kita memahami bagaimana tampak muka dan isi desa di daerah pesisir/nelayan, pertanian, perkebunan, pegunungan, kepulauan, perkotaan, perindustrian, dan keragaman lanskap lainnya. Belum lagi kalau tengok bagaimana desa-desa bertautan dengan budaya etnisitas yang khas seperti di Bali, Sumatera Barat, Maluku, Papua, dan seterusnya.
Dalam konteks Desa Bersinar, lalu bagaimana konsep Bersinar diterapkan di desa-desa dengan ke-khasan dan kompleksitas yang berbeda. Konsep ini pada akhirnya akan direkonseptualisasi dalam praktik.
Standarisasi Desa Bersinar akan berhadapan dengan tantangan dan mau tidak mau harus dimodifikasi dengan situasi di lapangan. Konsep Desa Bersinar pada akhirnya akan berhadapan dengan tema-tema yang berbeda dan menjadi tematik.
Saya telah keluar-masuk ke beberapa kampung atau wilayah tertentu yang menjadi area peredaran narkoba, situasinya berbeda antara satu dengan lain. Mengelola sebuah desa atau kampung narkoba di Kampung Kiapang atau Kampung Boncos di Jakarta Barat, akan berbeda dengan mengelola kampung narkoba lainnya.
BNN, sebagai pihak luar, akan mempunyai tantangan yang rumit ketika akan melakukan intervensi di kampung-kampung narkoba tersebut. Mengubah kampung atau desa atau komunitas akan berdampak lebih besar dan bertahan lama jika aktor perubahan adalah masyarakat kampung, desa, atau komunitas itu sendiri.
Salah satu sumber air (umbul) yang dimanfaatkan menjadi area wisata di Desa Ponggok. Sumber: Anwar sadad/Shutterstock
Belajar dari Desa Ponggok
Hari ini, saya berkunjung ke Desa Ponggok di Klaten. Saya menginap di penginapan yang sangat nyaman dengan fasilitas kolam renang yang airnya mengalir jernih 24 jam.
Pagi-pagi sekali saya diajak keliling di seantero Desa Ponggok oleh rekan saya yang bekerja di BNNP Jawa Tengah. Saya sungguh menikmati saat menyusuri jalan-jalan desa yang tertata rapih. Di beberapa sudut, terdapat umbul atau kolam yang bersumber dari mata air alami. Saya juga melihat warga, termasuk ibu-ibu paruh baya, berenang di pagi buta di umbul-umbul tersebut. Mereka asik sekali berenang, menikmati jernihnya mata air.
Saya lalu mendengarkan penjelasan dari Kepala Desa Ponggok. Saya belajar banyak hal, terutama soal praktik dari teori pemberdayaan baik yang saya pernah belajar di masa kuliah ataupun yang dijelaskan oleh narasumber dalam FGD.
Apa yang terjadi di Desa Ponggok menggambarkan praktik nyata dari teori pemberdayaan yang dikemukakan oleh Rappaport (1981), yang menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata-mata ditentukan oleh penyediaan sumber daya dari pihak luar, tetapi oleh kemampuan komunitas untuk mengontrol dan memanfaatkan sumber daya tersebut bagi kepentingan mereka sendiri.
Para pengelola Desa yang berada di kaki gunung Merapi ini memulai dari mana membangun manusianya. Ketersediaan dana desa atau segala suntikan dana dari pemerintah pusat biasanya akan berakhir pada pembangunan fisik, bukan membangun manusianya. Di des aini, pendekatan yang digunakan berbeda.
Perlu dicatat, Kepala Desa Ponggok ini juga pernah mempunyai pengalaman menjadi penyalahguna narkoba. Tapi pria yang terpilih menjadi kepala desa dua kali berturut-turut ini bukan hanya bertobat dari penyalahgunaan narkoba, tapi sadar betul bagaimana memulai membangun desanya.
Pak Kades memulai dengan mendatangkan ahli untuk melihat potensinya. Katanya, dia tahu sebenarnya bagaimana potensi desanya, tapi akan lebih berdampak kalau melibatkan ahli yang akan lebih di dengar warganya. Ini adalah pendekatan yang cerdas, menggunakan tangan pihak lain untuk tujuan mewujudkan misinya.
Dari para ahli inilah, masyarakat merespon kebijakan desa dengan memanfaatkan sumber daya alam berupa sumber mata air atau biasa disebut umbul. Umbul inilah yang didesain menjadi wisata renang, wisata ikan air tawar, wisata pertanian, wisata botani, dan wisata-wisata lainnya.
Program kepala desa tersebut terintegrasi dalam satu sistem yang disesuaikan dengan potensi desa misalnya corporate farming, dst. Dengan daya ampu yang tinggi tersebut, masyarakat desa mendapatkan manfaat dalam bidang pendidikan (program satu KK satu sarjana), kesehatan (BPJS Gratis), atau bidang ekonomi (wisata).
Desa Ponggok kini terlepas dari masalah rentenir, narkoba, atau masalah sosial lainnya. Apa yang terjadi di Desa Ponggok adalah contoh terbaik dalam menyelesaikan masalah desa.
Tentu saja tidak bisa dibandingkan secara literal dengan desa-desa lainnya. Tapi soal cara desa mengelola masalah, mencari masalah, dan menyajikan solusinya adalah contoh baik yang harus ditiru.
Salah satu sudut tempat penyalahgunaan dan peredaran di Kampung Boncos, Palmerah, Jakarta Barat. Foto: Polres Jakarta Barat pada saat penggerebekan
Konseptualisasi Desa Bersinar
Desa Bersinar atau Desa Bersih dari Narkoba yang hari ini sudah menjadi agenda prioritas BNN dan bahkan dukungan aktif beberapa Kementerian dan Lembaga pusat harus ditempatkan ulang pada perspektif mengelola akar masalah desa.
Peredaran narkoba di sebuah desa atau wilayah tertentu cenderung terjadi karena persoalan ekonomi warganya. Ketidakmampuan lepas dari masalah ekonomi berbanding lurus dengan kualifikasi masyarakatnya dalam mencari pekerjaan yang halal.
Program Desa Bersinar, terutama di kampung narkoba, akan menjadi imajinasi belaka jika tidak mampu memahami akar masalah sosial-ekonominya. Karena itu, menghubungkan beragam program berbasis desa adalah cara terbaik mengentaskan masalah sosial, termasuk masalah penyalahgunaan dan peredaran narkoba.
Satu waktu, saat berkunjung ke salah satu kampung narkoba di Jakarta, saya menghampiri sekumpulan anak-anak yang bermain layang-layang. Saya bertanya soal apakah mereka tahu di kampungnya terjadi peredaran narkoba. Jawabnya tahu dan bahkan menunjuk lokasi tempat transaksi narkoba.
Di tempat yang dia tunjuk tersebut, saya menyaksikan sampah plastik klip bening ukuran kecil, tutup botol dengan dua lubang, dan sedotan yang berceceran di mana-mana. Ceceran sampah tersebut adalah bekas alat konsumsi narkoba jenis sabu yang disebut bong.
Saya kemudian kembali melihat sekitar enam anak yang sedang berlarian menarik benang layangan, membayangkan nasib mereka beberapa tahun ke depan, apakah kembali terjebak dalam lingkaran setan kejahatan narkoba seperti sebagian warga di tempatnya tinggal. Semoga tidak.
Menjadikan area tempat tinggal mereka sebagai bagian dari program Desa Bersinar adalah kemuliaan karena akan mengangkat masalah narkoba yang menjerat turun-temurun daerah tersebut. Itu semua bisa terjadi, jika pihak berwenang dan pengelola program mampu mengangkat akar masalahnya.
Seperti yang saya saksikan hari ini, kepala apartur Desa Ponggok mampu memahami akar masalah dan sumber solusinya. Lagi-lagi bukan membandingkan secara literal potensi Desa Ponggok dengan desa-desa lainnya, tapi ini soal bagaimana mengelola masalah, mengelola sumber daya, dan mengelola solusi terbaiknya.
Trending Now