Konten dari Pengguna
Mendaki Ciremai, Belajar Arti Pulang yang Sesungguhnya
7 Desember 2025 8:58 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Mendaki Ciremai, Belajar Arti Pulang yang Sesungguhnya
Gunung Ciremai, atap Jawa Barat, patut untuk didaki bersama keluarga. Jalur sadarehe patut dicoba karena penuh tantangan. Pendakian yang sungguh memberi anda kesabaran.Fathurrohman
Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di libur sekolah kali ini, sesuai dengan itinerary yang disusun, kami meninggalkan Jakarta selepas sholat Jumat menuju Kuningan, tempat di mana anak saya masih berada di pondok. Kami menjemputnya lalu meneruskan perjalanan menuju Majalengka.
Sore yang tampak cerah, lebih cerah dari beberapa hari sebelumnya yang terus-menerus turun hujan. Panther Touring tua yang kami tumpangi meluncur pelan menembus perjalanan antar kota yang ramai.
Di dalam mobil itu, duduk tujuh orang: saya, istri, tiga anak laki-laki kami yang duduk di SMA, SMP, dan SD, serta dua orang teman yang siap menemani kami menyusuri tubuh raksasa bernama Gunung Ciremai—atap tertinggi Jawa Barat.
Sejak awal, ini bukan soal puncak. Ini tentang perjalanan kecil sebuah keluarga untuk belajar sabar, belajar menunggu, dan belajar tetap saling memilih di tengah lelah.
Jalur Sadarehe dan Malam yang Tenang
Kami memilih jalur Sadarehe, jalur pendakian baru di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yang konon dikenal ramah bagi pendaki pemula dan keluarga. Perjalanan darat dari Jakarta menuju wilayah Kuningan memakan waktu sekitar enam hingga tujuh jam.
Perjalanan menuju basecamp Sadarehe yang berada di Majalengka adalah perjalanan yang khas. Jalanan meliuk-liuk dan kita perlu tahu bahwa google map tidak selalu pintar memilih jalur. Semakin mendekati kaki gunung, jalanan menyempit, udara mengeras dinginnya, apalagi di waktu sore dan malam hari. Kami sudah berada di perkampungan kaki gunung.
Di sekitar basecamp Sadarehe, suasana cukup ramai. Tapi sayang, akses internet dibatasi dan kita “dipaksa” untuk membeli kuota khusus melalui penjual akses internet lokal. Saya belum faham kenapa provider telekomunikasi mematikan akses internetnya di area ini. Mau tidak mau, kami membeli voucher internet untuk keperluan komunikasi.
Penginapan sederhana milik warga tersedia—bersih, hangat, dan penuh keramahan. Malam itu kami gunakan untuk mengecek semua perlengkapan: tenda, logistik, jas hujan, obat-obatan, dan air. Anak-anak tampak bersemangat.
Istri saya tersenyum, meski jelas menyimpan sedikit gugup. Yang pasti, kami harus istirahat maksimal, tidur dengan lelap.
Langkah Pertama Menuju Langit
Pendakian dimulai pukul 09.30 pagi. Langit cerah, jalur masih bersahabat. Kami memulai dengan menumpang mobil pick up menuju pos pendakian pertama. Seru!!
Hutan Sadarehe terasa teduh, tanahnya padat, langkah-langkah awal terasa ringan. Anak-anak berjalan di depan dengan riang, sesekali tertawa, seperti belum benar-benar menyadari bahwa mereka sedang mendaki gunung tertinggi di provinsi ini.
Pos demi pos kami lewati dengan semangat. Berbagai bentuk tanjakan kami lalui, sesekali harus memegang tali untuk tetap bisa tetap mendaki.
Kami berhenti di Pos 4. Makan bersama, minum, lalu sholat berjamaah dilakukan dalam suasanan syahdu. Di tengah hutan, jauh dari suara klakson dan notifikasi ponsel, kami bersujud bersama, kami bersyukur.
Saya menatap wajah anak-anak saya: keringat mengalir di dahi mereka, lelah mulai terasa, tetapi tidak ada yang mengeluh. Mungkin lebih tepatnya, anak-anak ini tampak tidak punya rasa Lelah.
Di pos 7 (Tanjakan Cita-Cita), semangat harus dipompa lebih banyak karena tanjakan yang menantang. Kami kuat dan saling menguatkan, perjalanan keluarga yang utuh.
Semakin mendekati Pos 8 – Kawah Burung, lanskap mulai berubah. Pepohonan menghilang, vegetasi pendek mendominasi. Langit terbuka lebar. Dari ketinggian, wilayah Kuningan, Majalengka, hingga Cirebon tampak seperti bentangan peta raksasa tanpa bingkai. Angin dingin menusuk tulang, tetapi keindahannya menyalakan ulang semangat.
Kami tiba di Kawah Burung sekitar pukul 16.00. Sesekali rinai hujan menyapa. Tenda segera berdiri. Suhu turun cepat. Tiga anak saya tampak membuat konten, diselingi tawa dan diskusi aksi. Bonding tampak terealisasi.
Malam datang bersama bintang-bintang yang memenuhi langit. Anak-anak menggigil dalam jaket tebal mereka, tetapi wajah mereka menyimpan senyum yang sulit dijelaskan. Kami makan malam dengan menu Istimewa yang dibuat rekan kami, lalu tidur dengan tubuh lelah dan hati yang penuh.
Subuh di Atap Jawa Barat
Kami bangun sebelum fajar. Setelah sholat Subuh, langkah kembali berlanjut menuju puncak dalam gelap. Jalur semakin terjal. Nafas memendek. Tapi ketika matahari perlahan mengusir gelap, kami seperti berdiri di atap Jawa Barat. Lautan awan terbentang di bawah kaki, kota-kota tampak kecil seperti titik-titik kehidupan dari ketinggian.
Di puncak Ciremai, kami berdiri bukan sebagai pendaki hebat, tetapi sebagai keluarga kecil yang berhasil memeluk batas diri masing-masing.
Dari kejauhan terlihat puncak jalur Apuy dan Linggarjati, mengingatkan bahwa gunung ini dilalui banyak langkah dan banyak cerita. Kami berfoto sepuasnya—bukan sekadar mengabadikan wajah, tapi juga mengunci waktu.
Sekitar pukul 08.00 pagi, kami kembali ke area camping. Packing dilakukan cepat. Kami tahu, perjalanan turun sering kali lebih berat dari perjalanan naik.
Turun yang Lebih Menguras Hati
Dan benar saja. Turunan terasa panjang dan menguras tenaga. Air menipis. Kaki mulai gemetar. Di sekitar Pos 4, istri saya tampak merasa kelelahan hebat. Langkahnya melambat. Semangatnya tampak goyah. Saya berjalan di sampingnya, sesekali memegang tangannya. Anak kami pun turut menyemangatinya.
Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada yang menyalahkan. Di titik itu, kami seperti sedang diuji bukan oleh gunung, tetapi oleh kesabaran kami sendiri sebagai keluarga.
Kami akhirnya tiba di bawah dengan tubuh sangat letih, pakaian basah oleh keringat, dan botol air minum yang tak bersisa. Tetapi rasa lega datang dengan cara yang sulit dijelaskan. Kami pulang sebagai keluarga yang sama, dengan cerita perjalanan yang lebih bermakna.
Ciremai dan Makna Pulang
Ciremai tidak memberi kami piala. Tidak juga peduli dengan sertifikat. Yang ia beri jauh lebih halus: cara untuk saling menjaga dan membersamai. Ia mengajarkan bahwa keluarga bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang tetap tinggal ketika yang lain hampir menyerah.
Di gunung itu kami belajar bahwa pulang bukan soal kembali ke rumah, melainkan kembali dalam keadaan lebih utuh sebagai manusia, dan sebagai keluarga.
Kami datang ke Ciremai membawa ransel. Kami pulang membawa yang jauh lebih berat: rasa syukur yang tumbuh diam-diam di dada.

