Konten dari Pengguna
Yogyakarta dan Gelombang Lansia: Dari Risiko Demografi ke Kesempatan Ekonomi
28 September 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Yogyakarta dan Gelombang Lansia: Dari Risiko Demografi ke Kesempatan Ekonomi
Yogyakarta dan gelombang lansia, dari risiko demografi ke kesempatan ekonomi: Yogyakarta dapat menjadi contoh nyata bahwa populasi lansia tinggi tidak identik dengan beban. #userstoryFatikha Nuraziza
Tulisan dari Fatikha Nuraziza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Yogyakarta) dikenal dengan warganya yang bersikap tenang dan ramah. Selain itu, warganya dikenal hidup dengan slow living yang dipercaya merupakan salah satu faktor mereka memiliki umur yang lebih panjang dari penduduk di Indonesia pada umumnya. Hal ini sejalan dengan data BPS (2024) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2024, provinsi dengan angka harapan hidup (AHH) tertinggi di Indonesia adalah Yogyakarta dengan rincian angka harapan hidup laki-laki sebesar 73,66 per tahun, sedangkan perempuan sebesar 77,40 per tahun.
Lebih lanjut, pada tahun 2024, provinsi yang memiliki proporsi penduduk usia lanjut tertinggi juga masih dipegang Yogyakarta, yaitu sebesar 16,28%. Dengan kata lain, satu dari enam penduduk provinsi ini adalah penduduk usia lanjut. Oleh karena itu, tak heran apabila saat Anda berkunjung ke daerah ini, Anda akan bertemu dengan banyak penduduk usia lanjut atau yang lebih dikenal dengan lansia.
Banyaknya lansia di Yogyakarta menyebabkan terjadinya fenomena penuaan yang kerap dipandang dengan nada kekhawatiran. Kondisi ini memunculkan dua sisi mata uang: di satu sisi, tingginya jumlah lansia menimbulkan kekhawatiran sebagai beban ekonomi; di sisi lain, hal ini membuka peluang besar untuk menguji bagaimana lansia justru berpotensi menjadi aset ekonomi untuk menjadi pelopor pengembangan silver economy.
Secara nasional, dalam aspek ekonomi, lansia di Indonesia berperan penting pada tingkat rumah tangga. Pada tahun 2024, data BPS menunjukkan bahwa lebih dari separuh tenaga kerja di lapangan usaha sektor pertanian diserap oleh tenaga kerja lansia. Di samping itu, sebanyak 84,75% pekerja lansia bekerja di sektor informal dan didominasi oleh lansia berpendidikan rendah. Walaupun begitu, kontribusi ini dapat membantu menopang perekonomian keluarga. Bahkan, 53,91% lansia tercatat sebagai kepala rumah tangga, menunjukkan peran sentral mereka dalam keberlangsungan ekonomi keluarga.
Namun, tantangan nyata tetap ada. Lansia di Indonesia bekerja dalam kondisi rentan, dengan jam kerja panjang, tetapi penghasilan terbatas. Lansia perempuan menghadapi kerentanan ganda, penghasilan lebih rendah dibandingkan laki-laki, sekaligus terbatas pada pekerjaan domestik atau informal. Di pedesaan, pekerjaan lansia masih sangat bergantung pada pertanian yang cenderung berpenghasilan rendah. Tanpa intervensi kebijakan, situasi ini dapat memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi antargenerasi.
Meskipun demikian, besarnya jumlah lansia justru bisa menjadi potensi pasar baru. Lansia tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga konsumen aktif berbagai barang dan jasa. Permintaan akan layanan kesehatan, produk ramah usia, wisata berbasis budaya, hingga teknologi sederhana yang mendukung kemandirian lansia akan terus meningkat. Potensi pasar ini dapat mendorong lahirnya inovasi bisnis sekaligus memperkuat perekonomian daerah.
Dengan melihat peluang dan tantangan fenomena penuaan di tingkat nasional, Yogyakarta dapat memegang peranan strategis untuk memanfaatkan potensi yang ada. Fenomena penuaan penduduk di Yogyakarta sejalan dengan identitas daerah ini sebagai kota budaya dan pendidikan.
Banyak lansia yang masih aktif berkontribusi, baik di sektor UMKM, seni tradisi, pengajaran, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan. Dari pengrajin batik, seniman pedalangan, hingga pengajar bahasa Jawa, lansia di sini telah membuktikan bahwa usia lanjut tidak serta merta identik dengan ketidakproduktifan.
Sektor pariwisata dan budaya adalah ruang strategis bagi keterlibatan lansia di Yogyakarta. Lansia yang memiliki keterampilan tradisional dapat dilibatkan sebagai penggerak utama desa wisata, pengajar seni, atau pemandu wisata budaya. Dengan dukungan pelatihan digital, mereka bahkan bisa menjangkau pasar yang lebih luas melalui platform daring. Di titik inilah, pengalaman hidup lansia menjadi modal sosial dan ekonomi yang tidak ternilai.
Pemerintah daerah perlu mengambil langkah konkret agar lansia tidak terjebak dalam pekerjaan informal berupah rendah. Program reskilling dan upskilling bisa diarahkan ke bidang-bidang yang sesuai dengan kapasitas lansia, seperti kerajinan, kuliner, atau jasa pendididkan nonformal. Selain itu, penciptaan lapangan kerja ramah usia dengan jam kerja fleksibel dan berbasis komunitas sangat penting untuk menjaga produktivitas lansia tanpa mengorbankan kesehatan mereka.
Upaya lain yang perlu diperkuat adalah perlindungan sosial. Masih banyak lansia di Yogyakarta yang bekerja tanpa jaminan pensiun atau asuransi kesehatan yang memadai. Dengan memperluas cakupan jaminan sosial, mereka dapat merasa lebih aman secara ekonomi sekaligus lebih leluasa memilih pekerjaan yang bernilai tambah, bukan sekadar karena keterpaksaan ekonomi.
Jika kebijakan dan dukungan masyarakat beriringan, Yogyakarta dapat menjadi contoh nyata bahwa populasi lansia tinggi tidak identik dengan beban. Justru, dengan modal budaya yang kuat, solidaritas sosial, dan basis ekonomi kreatif, D.I. Yogyakarta mampu mengubah lansia menjadi kekuatan ekonomi baru. Lansia dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, sekaligus poros pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

