Konten dari Pengguna
Hatiku Tertinggal Di Sana
2 Januari 2026 10:49 WIB
ยท
waktu baca 2 menitTulisan dari Yahfazhka Izzah Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku pulang, tapi tidak seutuhnya. Ada bagian dari diriku yang tertinggal di sana.
Aku 18 tahun saat itu, datang berbekal rasa syukur dan bahagia tiada tara. Bukan uang yang mengantarku sampai ke sini, melainkan doa, usaha, dan izin dari Allah.
Di usia semuda itu, aku merasa malu. Belum banyak kebaikan yang kulakukan, belum manfaat yang aku tebarkan, lantas bagaimana bisa balasannya sebahagia ini?
Pertama kali melihat kabah, seluruh doa yang telah kusiapkan hilang begitu saja. Tidak ada satupun keinginanku yang terucap. Hanya ada kata maaf dari seorang hamba kepada Tuhannya. Di antara jutaan manusia di sana, aku sadar satu hal. Aku bukan siapa-siapa di sini, tapi Allah memampukanku sampai ke sini.
Di sini, segala hal terasa lebih jujur. Doa dan rasa berserah yang begitu dalam.
Menjalani sepekan di haramain terasa berbeda dengan di Indonesia. Pikiranku tidak lagi penuh dengan masalah dunia, hanya tenang yang ada.
Perjalanan yang amat berkesan, utamanya bagi seluruh umat muslim di dunia. Tidak ada kebingungan dan keraguan, hanya ada keyakinan di sana.
Setelah kembali ke tanah air, aku menyadari sesuatu. Rindu itu tidak hilang setelah ditunaikan. Justru berubah semakin dalam setiap harinya, setiap waktunya.
Hari-hariku berjalan seperti biasanya. Tapi sekaranf, tiap kali aku merasa lelah. Aku rindu tempat itu. Aku rindu dengan hatiku yang masih tertinggal di sana. Tempat yang menerimaku pulang dengan begitu lapang dan sempurna.

