Konten dari Pengguna
Jeda di Pasar Gede: Potret Seorang Bapak Tukang Becak
4 Desember 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Jeda di Pasar Gede: Potret Seorang Bapak Tukang Becak
Feature News Human-Interest yang menggambarkan pertemuan singkat tapi bermakna antara seorang mahasiwa dengan tukang becak.Yahfazhka Izzah Salsabila
Tulisan dari Yahfazhka Izzah Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sore itu, Pasar Gede sedang riuh dengan rutinitas yang akrab—suara tawar menawar pembeli, keramaian kendaraan yang lewat, hingga aroma mangga yang datang dari toko buah bagian depan pasar. Hari itu (07/10/2025) aku datang sebagai mahasiswa yang berburu foto untuk tugas fotografi, hanya berkeliling pasar dengan langkah ringan. Fokusku hanya satu: menemukan sudut yang menarik untuk disorot kamera.
Dua jam setelahnya aku baru selesai dengan kamera di tanganku, baterainya hampir habis. Aku duduk di depan kios yang sedang tutup, pikiranku beralih pada hal yang lebih sederhana: nanti pulangnya sekalian jajan apa ya buat makan malam?
Di tengah riuh kepalaku, tiba-tiba mataku tertuju pada pemandangan sunyi di bawah pohon mangga itu, bapak tukang becak. Beliau duduk diam, memandang jalanan yang ramai. Tatapan itu bukan gelisah, tapi tatapan tenang yang tampaknya sudah akrab dengan menunggu. Becak itu terlihat cukup tua, catnya memudar, namun tampak bersih terawat.
Lensa kamera yang sebelumnya sibuk mencari keindahan, kini fokus pada realitas yang terlihat. Bukan sekadar objek foto, tapi sebuah kacamata perbandingan. Aku melihat sepatu yang baru kubeli bulan lalu, lantas ke sandal jepit tipis yang dipakai Bapak itu. Tugasku hari ini hanya mencari foto untuk tugas kuliah, sementara tugas beliau mencari rezeki untuk keluarganya di rumah.
Aku spontan mengangkat kamera di tanganku. Momen itu begitu sederhana dan apa adanya. Tangan kasar, topi yang tampak lusuh, tapi sayang jika terlewatkan. Di tengah hiruk-pikuk pasar yang begitu sibuk, kehadiran bapak becak tampak kontras—sebuah jeda di tengah ritme kota yang berjalan begitu cepat.
Menatap hasil foto itu membuatku tersadar. Bahkan dari orang asing yang tak sengaja ku temui, aku belajar suatu hal. Nyatanya, di tengah tergesanya dunia ini berlari, masih ada orang-orang yang menjalani hidup dengan pelan, sabar dan sederhana.
Tugasku sore itu memang selesai. Tapi aku bukan hanya mendapatkan penilaian dari dosen. Lebih dari itu, aku mendapati momen kecil yang bermakna. Sejenak melihat lebih dekat kehidupan seseorang yang biasanya hanya lewat sekilas di depanku. Cerita sederhana tentang kesabaran menunggu dan kesetiaan sebuah becak untuk mengantarkan rezeki pada pemiliknya.

