Konten dari Pengguna
Mungkinkah Makan Sembarangan Bisa Membuat Kamu Bodoh? Ini Alasannya!
4 November 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mungkinkah Makan Sembarangan Bisa Membuat Kamu Bodoh? Ini Alasannya!
Pola makan merupakan unsur penting dalam mencapai hasil akademis yang terbaik karena makanan memiliki dampak besar terhadap kemampuan kognitif. Pilihlah makanan yang dapat memaksimalkan potensimu!Felicia Ivena Adijaya
Tulisan dari Felicia Ivena Adijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mendekati ujian akhir, banyak siswa fokus untuk memilih tempat belajar yang optimal dan mengatur jadwal secara efektif. Namun, sering kali mereka lupa akan faktor penting lainnya, yaitu nutrisi. Diet merupakan unsur inti dalam mencapai hasil akademis yang terbaik. Pilihan makanan yang tepat dapat meningkatkan fokus, memori, dan ketenangan saat ujian, tetapi juga bisa terjadi sebaliknya apabila pemilihannya tidak tepat.
Siapa sangka bahwa makanan sangat berdampak pada kemampuan berpikir? Otak kita, walaupun hanya 2% dari berat badan, menggunakan sekitar 20% dari total energi tubuh untuk berfungsi. Oleh karena itu, pilihan makanan kita sangat memengaruhi fungsi dan struktur otak secara keseluruhan karena otak membutuhkan energi dalam jumlah yang besar dan makanan adalah sumber energi terbesar dalam tubuh kita. Apabila seseorang lapar sudah pasti bukan opsi yang baik untuk otak bekerja secara optimal, tetapi kenyang dengan kualitas nutrisi rendah juga tidak mendukung potensi berpikir yang maksimal.
Sebuah studi pada tahun 2014 di Australia menunjukkan bahwa pola diet makanan cepat saji pada umur 14 tahun memiliki hubungan negatif dengan kemampuan berpikir mereka saat berusia 17 tahun secara spesifik untuk memori dan emosi. Pola makan cepat saji bisa dihubungkan dengan asupan lemak jenuh, sodium, dan gula yang tinggi, tetapi rendah mikronutrien penting, seperti folat dan zat besi. Folat digunakan untuk perkembangan sel dalam otak dan zat besi yang sangat penting untuk peredaran oksigen ke otak yang juga mendukung keseluruhan fungsi kognitif.
Pengalaman dan pembelajaran disimpan sebagai memori dalam otak dan mengoneksikan di antara sel saraf yang terus beradaptasi dengan lingkungan. Makanan cepat saji sudah terbukti mengurangi neuroplastisitas (kemampuan otak untuk mengatur ulang struktur sebagai respons terhadap lingkungan yang dinamis). Hal ini esensial untuk kecepatan belajar hal baru dan membentuk memori. Oleh karena itu, pola diet makanan terproses, seperti mie instan dan makanan beku siap saji, bisa menurunkan kemampuan belajar siswa.
Ketika stres belajar untuk ujian, banyak siswa juga mengonsumsi makanan atau minuman manis seperti coklat, soda, dan permen. Hal ini terjadi karena stres bisa memicu keinginan seseorang untuk mengonsumsi makanan yang manis, sebagai respons otak terhadap kenaikan kebutuhan energi saat belajar. Tidak hanya itu, konsumsi gula dapat merangsang pelepasan hormon dopamin yang berkaitan dengan perasaan senang dan kepuasan sementara, mendukung motivasi dan semangat belajar. Namun, jenis cemilan sebagai sumber glukosa untuk aktivitas otak harus dipilih dengan baik karena makanan manis olahan dengan konten gula tambahan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan sugar crash.
Sugar crash adalah penurunan drastis dalam kadar gula darah setelah lonjakan energi sementara dari kelebihan konsumsi gula. Dampak fenomena ini adalah perasaan lelah, lesu, dan susah berkonsentrasi. Walaupun awalnya merasa lebih semangat untuk belajar, seiringnya waktu, efek ini akan membuat siswa mengantuk, mata menjadi berat sehingga sulit untuk fokus belajar. Tanpa fokus yang maksimal, produktivitas untuk menyerap informasi pasti turun dan sesi belajar akan menjadi lebih panjang dengan kurangnya progres yang signifikan.
Selanjutnya, makanan yang sering dianggap dapat menurunkan intelijen seseorang adalah MSG. Namun, apakah MSG benar-benar dapat membuat orang menjadi bodoh? Faktanya, belum ada bukti ataupun studi ilmiah yang menunjukkan bahwa MSG dapat menurunkan fungsi otak, sehingga aman untuk dikonsumsi sehari-hari. Jumlah konsumsi bumbu penyedap rasa ini tetap harus dijaga karena sama seperti makanan lain, segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak bagus untuk kesehatan kita.
Semua yang tersebut sebelumnya memberikan dampak negatif terhadap proses belajar, lalu apakah ada strategi diet yang dapat memaksimalkan potensi akademik siswa? Tentu ada, salah satu metode pola makan seimbang yang sudah terkenal adalah 4 sehat 5 sempurna. Memenuhi semua kebutuhan gizi sangatlah penting untuk mendukung fungsi otak, jadi jangan sampai lupa makan dalam persiapan untuk ujian karena mendapatkan nutrisi yang cukup sama pentingnya dengan waktu belajar.
Sebagai tambahan, ada juga beberapa makanan yang memiliki efek positif terhadap otak. Pertama, salmon, merupakan sumber terbaik untuk asam lemak omega-3; lemak sehat ini dapat memperbaiki struktur sel otak, sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan memori. Kedua, buah beri bisa menjadi cemilan saat belajar, sebagai alternatif sehat dari makanan manis olahan. Buah beri, seperti stroberi dan bluberi sangat kaya akan antioksidan. Senyawa tersebut dapat mengurangi inflamasi sel otak dan stres oksidatif, jadi mendukung kinerja memori. Terakhir, buah-buahan sitrus seperti jeruk dan lemon memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Vitamin C sangatlah penting untuk fungsi otak karena merupakan salah satu komponen untuk neurotransmiter (zat kimia yang mengirimkan sinyal di otak).
Masih ada banyak lagi makanan yang dapat mendukung proses belajar siswa dalam mengembangkan fungsi otak. Dengan berbagai pilihan makanan sehat, sebaiknya siswa tidak mengonsumsi terlalu banyak makanan cepat saji dan terproses yang mengandung kadar gula atau garam yang tinggi. Jagalah pola makan sehari-hari agar waktu belajar dapat berlangsung secara produktif dan efisien. Semangat berjuang untuk mencapai hasil yang memuaskan!

