Konten dari Pengguna

Sinergi Lintas Aktor dalam Mengatasi Permasalahan Sampah Organik

Ferdian Ahya Al Putra
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Sebelas Maret
2 September 2025 10:06 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sinergi Lintas Aktor dalam Mengatasi Permasalahan Sampah Organik
Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga menjadi Pupuk Kompos untuk Ekonomi Hijau
Ferdian Ahya Al Putra
Tulisan dari Ferdian Ahya Al Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Limbah rumah tangga. Sumber: Unsplash/Ella Olsson
zoom-in-whitePerbesar
Limbah rumah tangga. Sumber: Unsplash/Ella Olsson
Perubahan iklim merupakan persoalan yang menjadi perhatian berbagai negara, termasuk Indonesia. Jika dulunya pergantian musim terjadi 2 kali dalam setahun pada periode yang teratur, saat ini tidak ada yang dapat memastikan kapan musim kemarau maupun musim penghujan terjadi.
Situasi tersebut merupakan konsekuensi atau dampak dari perubahan iklim. Dilansir dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sektor limbah terutama sampah memberikan kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca dalam bentuk emisi metana (CH4) dan karbondioksida (CO2).
Menurut data dari databoks.id, Indonesia menghasilkan 33,8 juta ton sampah pada tahun 2024, dimana lebih dari separuhnya (50,8%) berasal dari rumah tangga. Bahkan, data ini baru mencakup 311 dari 514 kabupaten/kota, sehingga jumlah sebenarnya kemungkinan akan menjadi lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa sampah menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.
Menanggapi kondisi ini, grup riset Kajian Keamanan, Konflik, dan Perdamaian (K3P) Program Studi Hubungan Internasional, FISIP UNS bekerja sama dengan Kemas UNS, menyelenggarakan seminar kewirausahaan, dengan tajuk "Optimalisasi Pengolahan Limbah Organik Rumah Tangga menjadi Pupuk Kompos sebagai Solusi Lingkungan Berkelanjutan dan Peluang Wirausaha Hijau". Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Cabeyan, Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.
Sebuah penelitian yang ditulis Ariyanti, dkk (2021), menyebutkan pupuk kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses dekomposisi dengan bantuan organisme hidup seperti mikroorganisme dan cacing, dimana kompos mengandung berbagai macam nutrisi yang sangat berguna bagi tanah.
Sementara itu, menurut Mardwita, dkk (2019) dalam penelitian berjudul "Pembuatan Kompos Dari Sampah Organik Menjadi Pupuk Cair Dan Pupuk Padat Menggunakan Komposter", kompos dapat beperan sebagai kondisioner, pupuk, sumber humus dan pestisida alami untuk tanah, sehingga dapat membantu proses pertumbuhan tanaman apabila digunakan sebagai media tanam.
Praktik mengolah limbah organik menjadi kompos. Sumber: Dokumentasi Grup Riset
Oleh karena itu, kegiatan yang diselenggarakan oleh grup riset K3P dengan Kemas UNS tersebut bertujuan memberikan pemahaman bagi masyarakat setempat mengenai pemanfaatan dan pengolahan limbah rumah tangga menjadi pupuk kompos. Kegiatan tersebut diharapkan dapat mencegah masyarakat dalam mengelola sampah dengan cara yang tidak tepat, seperti pembakaran.
Kegiatan tersebut menghadirkan 3 pembicara dari unsur akademisi, pemerintah, dan aktivis lingkungan. Kegiatan tersebut menurut akademisi Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS), Afrizal Fajri, bertujuan untuk mendukung pengembangan ekonomi sirkuler di masyarakat yang memuat prinsip 3R, yaitu, Reduce, Reuse, Recycle.
"Prinsip reuse terlihat ketika limbah organik yang dianggap “sampah” digunakan kembali sebagai bahan baku untuk proses pengomposan. Daripada menjadi beban lingkungan, sisa dapur justru dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya baru.", jelas Afrizal.
"Selanjutnya, dalam tahap recycle, proses dekomposisi alami mengubah limbah organik tersebut menjadi kompos yang kaya nutrisi, sehingga bisa digunakan sebagai pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah di kebun, pot tanaman, maupun lahan pertanian", tambahnya.
Seminar kewirausahaan terkait pengolahan limbah rumah tangga di desa Cabeyan. Sumber: Dokumentasi Kemas UNS
Kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara masyarakat, akademisi, pemerintah, dan aktivis dalam upaya mengatasi persoalan sampah, khususnya melalui ekonomi sirkuler. Tentunya jangkauan sinergi tersebut perlu diperluas dengan melibatkan juga pihak swasta (investor) dan media untuk memberikan eksposure mengenai manajemen sampah.
Trending Now