Konten dari Pengguna

Trilema Energi dan Kesiapan Indonesia Menuju Energi Terbarukan

Ferdian Ahya Al Putra
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Sebelas Maret
15 Juli 2025 18:44 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Trilema Energi dan Kesiapan Indonesia Menuju Energi Terbarukan
Membahas mengenai trilema energi dan upaya untuk beralih ke energi baru terbarukan
Ferdian Ahya Al Putra
Tulisan dari Ferdian Ahya Al Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Protes terhadap Perubahan Iklim di berbagai dunia. Foto: Unsplash/Tania MalrΓ©chauffΓ©
zoom-in-whitePerbesar
Protes terhadap Perubahan Iklim di berbagai dunia. Foto: Unsplash/Tania MalrΓ©chauffΓ©
Tahun 2025 telah memasuki tri semester ketiga, yang berarti periode ini seharusnya ditandai dengan musim hujan. Namun, baru-baru ini masyarakat dihadapkan pada banjir yang melanda di beberapa daerah seperi wilayah Jabodetabek.
Ketidakteraturan musim seperti yang terjadi saat ini merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim. Dilansir dari laman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perubahan iklim dimaknai sebagai perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang, yang bisa saja terjadi secara alami, karena perubahan aktivitas matahari atau letusan gunung berapi yang besar. Namun sejak akhir abad ke-19, aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.
Salah satu faktor penting yang menyebabkan perubahan iklim adalah penggunaan energi dalam skala besar. Sementara itu, hampir di setiap aspek kehidupan manusia bergantung pada penggunaan energi, mulai dari gas untuk memasak, listrik untuk mengisi daya peralatan elektronik, hingga minyak sebagai bahan bakar kendaraan. Situasi ini disebut sebagai trilema energi, dimana manusia dihadapkan pada posisi sulit untuk mengurangi penggunaan energi, sementara energi melekat dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Ketahanan Energi
Energi merupakan jantung bagi kehidupan manusia. Foto: Unsplash/Riccardo Annandale
Aspek pertama dalam trilema energi adalah energy security atau ketahanan energi. Ketahanan energi mengacu pada kapasitas suatu negara untuk memenuhi permintaan energi saat ini dan masa depan secara andal. Aspek ini juga mencakup efektivitas pengelolaan sumber energi domestik dan eksternal, serta keandalan dan ketahanan infrastruktur energi.
Menurut World Energy Council, Indonesia pada aspek ini mengalami pertumbuhan sebesar 54,95 pada tahun 2018 tumbuh menjadi 64,93 di tahun 2019. Angka ini terus menunjukkan tren positif pada 2020 yang tumbuh menjadi 66,73. Namun, pada tahun 2022, skor ketahanan energi di Indonesia turun menjadi 66,08. Data ini menunjukkan bahwa ketahanan energi di Indonesia masih fluktuatif, karena belum konsisten menunjukkan kenaikan.
Untuk memperkuat ketahanan energi, pemerintah Indonesia terus mendorong transisi ke energi baru terbarukan. Dilansir dari laman Kementerian ESDM, pada tahun 2025 ini pemerintah mematok target pencapaian bauran energi nasional dari Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23%.
Pemerataan Energi
Distribusi BBM ke berbagai wilayah di Indonesia. Foto: Kementerian ESDM
Ketahanan energi saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap energi. Aspek kedua ini merujuk pada kemampuan suatu negara untuk menyediakan akses universal terhadap energi yang andal, terjangkau, dan berlimpah untuk penggunaan domestik dan komersial. Ini mencakup akses dasar terhadap listrik dan bahan bakar yang ramah lingkungan dan terjangkau. Universal disini berarti negara harus memastikan bahwa masyarakat memiliki akses yang sama terhadap pasokan energi, termasuk terkait persamaan harga energi di berbagai wilayah Indonesia.
Kebijakan energi satu harga merupakan langkah yang diambil presiden Jokowi untuk menyamakan harga bahan bakar minyak (BBM) baik di Jawa maupun di luar Jawa. Dilansir dari laman Indonesiabaik, masyarakat di Papua pernah mengalami harga BBM sebesar Rp. 60.000 – Rp, 100.000 perliter. Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah mengeluarkan Permen ESDM Nomor 36 tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu dan Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan Secara Nasional.
Sementara skor untuk aspek ini sebesar 51,31 pada tahun 2022, dilansir dari laporan The World Trilemma Index. Skor ini tentu lebih rendah jika dibandingkan dengan aspek ketahanan energi. Dengan kata lain, aspek kesetaraan energi masih menjadi pekerjaan rumah yang lebih besar bagi pemerintah.
Informasi terbaru sebagaimana yang dikutip dari laman resmi pertamina, disebutkan bahwa pihaknya berupaya memastikan distribusi yang ideal. Pertamina telah menetapkan kuota subsidi BBM pada tahun 2025. Penetapan tersebut dilakukan melalui SK Kepala BPH Migas No. 66/P3JBT/BPH MIGAS/KOM/2024 untuk penyaluran BBM Bersubsidi Jenis Biosolar dengan kuota 17,3 Juta KL dan Pertalite dengan kuota 31,1 Juta KL.
Keberlanjutan Lingkungan
Pemanfaatan energi baru terbarukan. Foto: Diskominfo Pemprov Kalimantan Timur
Aspek ketiga dalam trilema energi yaitu keberlanjutan lingkungan. Aspek ini merujuk pada transisi sistem energi suatu negara menuju mitigasi dan menghindari potensi kerusakan lingkungan dan dampak perubahan iklim. Dimensi ini berfokus pada produktivitas dan efisiensi pembangkit energi, transmisi dan distribusi, dekarbonisasi, dan kualitas udara.
Aspek ini berkaitan dengan upaya negara untuk membangun dan menggunakan ekosistem energi terbarukan. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada penggunaan energi fosil. Hal ini dibuktikan dengan data di tahun 2021 dari BP Statistical Review of World Energy yang dikutip dari Whitepaper Datanesia, bahwa 82,3% berasal dari energi fosil (minyak bumi, gas alam dan batu bara). Sementara energi terbarukan sebagai energi primer baru menyentuh angka 17,7%. Sedangkan skor untuk aspek ini menurut world trilemma index berkisar di angka 63,7.
Potensi dan Upaya Pemerintah Beralih ke Energi Terbarukan
Asia Zero Emission Community (AZEC). Foto: Kementerian ESDM
Pemerintah Indonesia tengah melakukan berbagai upaya untuk beralih ke energi baru terbarukan. Menurut Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi dalam acara Focus Group Discussion tentang Supply-Demand Energi Baru yang digelar Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar, mulai dari mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW.
Sementara menurut Komisaris PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN), Eko Sulistyo dalam Talkshow bertajuk "Transisi Menuju Renewable Energy" yang digelar oleh Prodi Hubungan Internasional FISIP UNS, salah satu upaya PLN dilakukan melalui pengembangan PLTSa Putri Cempo Solo yang merupakan program strategis nasional (PSN). Selain itu, ia juga menuturkan bahwa pihaknya juga telah menjalin kerja sama internasional dengan berbagai aktor internasional seperti dengan Asian Development Bank (ADB).
Selain itu, Kementerian ESDM turut menjadi mitra dalam Asia Zero Emission Community (AZEC). Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi antar negara melalui platform tersebut, yang mana platform tersebut telah menyepakati berbagai upaya untuk mencapai net zero emission (NZE), termasuk terkait pembangunan dan penggunaan energi terbarukan. Kolaborasi ini juga sebagai upaya untuk melawan isu "free rider" dalam konteks perubahan iklim. Ini berarti bahwa semua pihak harus ikut aktif terlibat dalam upaya-upaya untuk menjaga lingkungan dan bumi, termasuk beralih ke energi baru terbarukan.
Trending Now