Konten dari Pengguna

Homesick: Rasa Rindu yang Mengajarkan Kita tentang Pulang dan Bertumbuh

Feronika Ely suryaningsih
Mahasiswi Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga
23 Oktober 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Homesick: Rasa Rindu yang Mengajarkan Kita tentang Pulang dan Bertumbuh
Homesick bukan hanya tentang kerinduan terhadap rumah, tetapi tentang perjalanan menemukan arti “pulang” di tengah proses menjadi dewasa dan berdamai dengan jarak.
Feronika Ely suryaningsih
Tulisan dari Feronika Ely suryaningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi perempuan rantau. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan rantau. Foto: Shutterstock
Ada satu hal yang tidak pernah benar-benar kita siapkan ketika memutuskan untuk merantau: rasa rindu yang diam-diam datang di sela-sela kesibukan.
Pada awalnya, segalanya terasa baru. Kota yang ramai, kamar kos yang sederhana, dan kebebasan untuk mengatur hidup sendiri menjadi hal yang menegangkan sekaligus membahagiakan. Rasanya seperti memegang kendali penuh atas kehidupan, sesuatu yang dulu hanya menjadi impian ketika masih tinggal di rumah. Namun perlahan, di tengah tumpukan tugas, hiruk pikuk jalan, serta suara hujan yang terdengar asing, muncul kekosongan kecil yang sulit dijelaskan. Rasa itu disebut homesick.
Homesick bukan sekadar rindu rumah. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, kerinduan terhadap rasa aman dan kehangatan yang dahulu begitu dekat. Kadang, ia muncul melalui aroma masakan yang mengingatkan pada dapur ibu, atau melalui lagu lama yang seketika membawa ingatan kembali pada masa kecil. Rasa itu hadir tanpa diundang, mengingatkan bahwa kita pernah memiliki tempat di mana segalanya terasa sederhana, hangat, dan penuh kasih.
Sayangnya, dalam dunia yang serba cepat ini, homesick sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Banyak yang mengira bahwa perasaan rindu berarti belum dewasa, belum cukup kuat untuk menghadapi kenyataan hidup. Kita membuka media sosial dan melihat orang lain tampak bahagia di perantauan: bekerja, berlibur, dan berkegiatan tanpa henti. Semua tampak baik-baik saja. Lalu, kita mulai bertanya dalam hati, “Apakah hanya aku yang merasa tidak betah?”
Padahal, bisa jadi di balik senyum digital yang ditampilkan, ada banyak orang yang merasakan hal yang sama: rindu, tetapi tidak tahu harus pulang ke mana.
Seiring waktu, aku belajar bahwa rumah tidak selalu berarti tempat. Rumah dapat berarti siapa pun atau apa pun yang membuat kita merasa diterima. Rumah dapat ditemukan dalam teman yang dengan tulus menanyakan kabar, dalam secangkir kopi pagi yang menenangkan, atau dalam rutinitas kecil yang memberikan rasa stabil di tengah ketidakpastian.
Rumah juga dapat berarti diri sendiri, versi diri yang perlahan berdamai dengan jarak, kesepian, dan perubahan.
Rasa rindu mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, mungkin memang bukan itu tujuannya. Sebab, rindu mengingatkan kita dari mana kita berasal, sekaligus menuntun kita menemukan makna “pulang” yang baru. Pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat lama, melainkan menemukan perasaan yang sama, rasa aman, hangat, dan diterima, di mana pun kita berada.
Homesick, pada akhirnya, merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Ia mengajarkan bahwa menjadi mandiri bukan berarti berhenti merindukan, dan menjadi dewasa bukan berarti menolak pulang. Sebab, sejauh apa pun langkah kita, akan selalu ada satu ruang kecil dalam hati yang berbisik pelan: aku rindu rumah.
Penulis : Feronika Ely Suryaningsih, Mahasiswi Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga
Trending Now