Konten dari Pengguna

Pantai Drini: Saat Ombak Membisikkan Arti Keikhlasan

Feronika Ely suryaningsih
Mahasiswi Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga
23 Oktober 2025 8:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pantai Drini: Saat Ombak Membisikkan Arti Keikhlasan
Di antara pasir putih dan ombak biru, penulis menemukan makna baru tentang keindahan, rasa syukur, dan pentingnya menjaga alam. #userstory
Feronika Ely suryaningsih
Tulisan dari Feronika Ely suryaningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi.
Ada yang berbeda dari laut. Ia tidak pernah benar-benar diam, tetapi selalu menenangkan. Mungkin karena di setiap deburan ombaknya tersimpan kisah tentang kesabaran dan kebebasan. Saya merasakan hal itu ketika pertama kali menjejakkan kaki di Pantai Drini, salah satu pantai yang terkenal di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perjalanan menuju pantai ini cukup panjang. Jalanan yang menanjak dan berkelok khas perbukitan karst sempat membuat tubuh lelah. Namun, pemandangan di sepanjang perjalanan seolah menjadi hiburan tersendiri. Bukit-bukit batu kapur berdiri gagah di kanan dan kiri jalan, sawah hijau membentang, dan udara yang bersih membuat napas terasa lebih lapang. Semua rasa lelah itu perlahan tergantikan oleh rasa kagum.
Sesampainya di Pantai Drini, pemandangan yang tersaji membuat saya terdiam sejenak. Hamparan pasir putih yang bersih, air laut berwarna biru jernih, dan langit yang seolah menyatu dengan cakrawala menciptakan suasana yang menenangkan. Saya melepas alas kaki dan berjalan perlahan di tepi air, membiarkan ombak kecil menyentuh kaki. Sensasi pasir hangat dan angin laut yang lembut seolah menjadi terapi bagi pikiran yang penat oleh rutinitas.
Pantai Drini tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga suasana yang hangat. Anak-anak berlarian di tepi pantai sambil tertawa riang, pasangan muda berfoto di bawah payung warna-warni, dan aroma hidangan laut bakar tercium dari deretan warung di pinggir pantai. Semuanya berpadu menjadi harmoni yang sederhana, tetapi memikat.
Sumber: Dokumentasi Pribadi.
Namun, di tengah keindahan itu, saya melihat sesuatu yang membuat hati sedikit terusik, beberapa sampah plastik yang tertinggal di pasir. Pemandangan kecil itu menjadi pengingat bahwa keindahan alam tidak akan bertahan tanpa kesadaran manusia untuk menjaganya. Kita sering datang untuk menikmati, tetapi lupa untuk merawat. Padahal, menjaga alam sesungguhnya adalah bentuk terima kasih paling nyata atas ketenangan yang diberikannya.
Saya memungut beberapa sampah kecil yang terlihat di sekitar dan membuangnya ke tempat yang tersedia. Tindakan sederhana itu mungkin tidak berarti besar, tetapi cukup untuk membuat hati terasa lebih tenang. Seolah-olah alam membalasnya dengan semilir angin sore yang lembut.
Menjelang senja, saya naik ke bukit kecil di sisi timur pantai. Dari atas, pemandangan laut tampak luar biasa indah. Ombak memantulkan cahaya matahari yang perlahan tenggelam, menciptakan gradasi warna jingga keemasan di permukaan air. Saya duduk diam, menikmati ketenangan yang jarang saya temukan di tengah kesibukan.
Di Pantai Drini, saya belajar bahwa keindahan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Terkadang, ia hadir dalam kesederhanaan yang tulus. Bahwa perjalanan bukan sekadar tentang tempat yang kita datangi, tetapi tentang perasaan yang tumbuh di dalam diri. Dan mungkin, laut tidak hanya mengajarkan tentang keindahan, tetapi juga tentang cara untuk diam, bersyukur, dan menemukan kembali arti β€œtenang”.
Trending Now