Konten dari Pengguna

Kelas Menengah Yang Terhimpit Ekonomi

Ferryal Abadi
Dosen FEB Universitas Esa Unggul / Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Bekasi
22 Oktober 2025 17:48 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Ferryal Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber : Ilustrasi ChatGBT 2025
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Ilustrasi ChatGBT 2025
Jumlah kelas menengah di Indonesia berkisar 50 juta penduduk berdasarkan data BPS 2024. Kelas menengah ini yang mampu menghidupkan perekonomian. Mereka adalah kaum pekerja mendapatkan gaji minimal sekitar 3,5 juta hingga 10 juta. Usia mereka sekitar 25 tahun hingga 40 tahun. Gaji yang mereka dapat di belikan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan untuk anak-anak mereka. Kelas menengah ini yang membeli makan di warung-warung makan pinggir jalan dan menggunakan transportasi umum atau motor untuk berangkat dan pulang kerja. Ada yang mampu membeli rumah dengan skema kredit atau menyewa kontrakan yang tidak jauh dari tempat mereka bekerja. Sehingga perekonomian di sekitar tempat tinggal mereka hidup seperti warung makan, minimarket, laudry dan ojek pangkalan.
Kelas menengah inilah yang membayar pajak. Dari mulai pajak penghasilan, PBB, pajak kendaraan atau pajak lainnya. Mereka yang membayar listrik, beli pulsa, kuota internet, bayar bpjs kesehatan dan bayar bpjs ketenagakerjaan. Kelas menengah ini juga yang diharapkan membantu keluarga, tetangga atau orang susah lainnya.
Tapi kelas menengah kita rapuh dan rawan menjadi turun ke kelas bawah atau miskin. Pendapatan yang mereka dapat tidak mampu untuk di tabung. Hasil gaji mereka bekerja dalam sekejap habis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitupun kelas menengah yang mempunyai usaha. Hasil usaha mereka pun habis untuk biaya operasional sehari-hari apalagi daya beli sedang menurun. Ketika perusahaan tempat mereka bekerja terkena krisis maka kelas menengah ini yang akan terkena PHK terlebih dulu.
Namun kelas menengah ini yang kurang diperhatikan oleh pemerintah padahal kelas menengah ini yang menjadi penggerak ekonomi. Bansos diberikan kepada kelas bawah atau miskin. Insentif pajak diberikan kepada kelas atas. Jika harga naik atau ekonomi tidak stabil maka kelas menengah ini yang paling berdampak. Seharusnya pemerintah juga memberikan insentif bagi kelas menengah seperti biaya pendidikan atau program sembako murah. Sekolah Rakyat gratis diperuntukan untuk masyarakat miskin ektrim sedangkan kelas atas pasti mampu untuk membiayai sekolah. Dan lagi-lagi kelas menengah harus membayar lebih.
Investasi untuk padat karya harus terus di capai. Tidak hanya investasi untuk membangun pabrik atau manufaktur tapi juga industri lainnya. Kelas menengah pada umumnya mempunyai pendidikan yang lebih baik dan mampu berpikir rasional. Pemerintah harus membuat harga sembako khususnya menjadi stabil. Gaji pertahun nya tidak naik signifikan dibanding kenaikan harga. Selain itu wirausaha terus di galakan. Posisi kelas menengah harus di bantu sehingga suatu saat meningkat menjadi kelas atas bukan malah turun menjadi kelas bawah atau jatuh miskin. Jika kelas menengah naik keatas maka perputarakan ekonomi akan lebih cepat dan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Ferryal Abadi
Dosen FEB Universitas Esa Unggul
Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Bekasi
Trending Now