Konten dari Pengguna
Mengapa Sulit Move On? Fenomena Keterikatan Emosional Setelah Perpisahan
29 Oktober 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Sulit Move On? Fenomena Keterikatan Emosional Setelah Perpisahan
Publikasi ini mengulas mengapa banyak orang sulit move on setelah perpisahan, dengan menyoroti keterikatan emosional yang terbentuk selama hubungan dan pengaruhnya terhadap proses pemulihan.Fieza Kaysa
Tulisan dari Fieza Kaysa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir semua orang pernah mengalami perpisahan mendalam dalam hubungan cinta, yang merupakan pengalaman yang melibatkan perasaan. Namun, persepsi setiap orang bisa berbeda. Sementara beberapa orang cepat beradaptasi dan melanjutkan hidup, yang lain mengalami kehilangan, kesedihan, dan keinginan untuk kembali ke masa lalu.
Fenomena ini disebut sebagai kesulitan untuk move on. Dari perspektif biopsikologi, kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan perasaan atau kenangan, hal tersebut juga mencakup proses biologis di tubuh dan otak yang membentuk dan mempertahankan hubungan emosional (Gehl, 2023; Pohl et al., 2018).
Keterikatan Sebagai Mekanisme Biologis
Teori keterikatan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Jude Cassidi dan rekan-rekannya (2013), menjelaskan bahwa manusia secara biologis diciptakan untuk memiliki hubungan yang dekat dan aman dengan orang lain. Sejak bayi, kita bergantung pada kehadiran orang tua atau orang lain (Cassidy, 2013).
Hubungan romansa dipengaruhi oleh pola keterikatan ini yang terus berkembang. otak seseorang melihat pasangan mereka sebagai "figur aman" yang memberikan kenyamanan, kepercayaan, dan kestabilan emosional (Eisma et al., 2022).
Keterikatan ini terkait dengan proses di otak. Area otak seperti sistem limbik, terutama amigdala dan hipokampus, mengatur emosi. Di sisi lain, area seperti nucleus accumbens dan ventral tegmental area berhubungan dengan sistem penghargaan. Sistem ini aktif saat kita berinteraksi dengan orang yang kita cintai, yang menghasilkan kepuasan dan rasa terhubung yang mendalam. Dengan kata lain, cinta tidak hanya dialami secara emosional, tetapi juga diproses oleh otak melalui sistem yang sama yang menyebabkan kecanduan (Earp et al., 2013).
Hormon dan Kimiawi Otak di Balik Cinta dan Perpisahan
Hubungan romantis melibatkan sejumlah hormon yang memengaruhi emosi dan mood seseorang. Oksitosin, atau "hormon cinta", adalah salah satu hormon utama yang dilepaskan ketika kita berpelukan, berciuman, berhubungan seksual, atau bahkan berbicara dengan pasangan kita dengan kasih sayang.
Oksitosin memperkuat hubungan emosional dan rasa percaya antara dua orang. Oleh karena itu, penurunan kadar oksitosin saat hubungan berakhir dapat menyebabkan perasaan hampa, kesepian, dan rindu yang mendalam (Pohl et al., 2018).
Dopamin, seperti oksitosin, adalah komponen penting dalam hubungan romansa. Hormon ini berhubungan dengan sistem penghargaan otak dan bertanggung jawab atas rasa senang, dorongan, dan harapan kebahagiaan. Saat jatuh cinta, peningkatan dopamin menciptakan euforia dan rasa ketagihan terhadap pasangan.
Tetapi setelah perpisahan, sistem dopamin mengalami penurunan mendadak, yang menyebabkan gejala yang mirip dengan withdrawl pada pecandu zat adiktif, seperti rasa gelisah, kehilangan semangat, dan bahkan obsesi terhadap mantan (Earp et al., 2013; Pohl et al., 2018).
Sementara itu, hormon stres utama tubuh, kortisol, meningkat ketika seseorang mengalami kehilangan. Individu yang mengalami peningkatan kortisol mengalami kecemasan, kesulitan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi. Kadar kortisol yang tinggi dapat mengganggu keseimbangan hormon lain, memperburuk suasana hati, dan memperpanjang masa pemulihan emosional ketika stres berlangsung lama.
Interaksi antara kortisol dan oksitosin sangat penting. Meskipun oksitosin biasanya membantu menurunkan stres, kortisol menjadi dominan dan menyebabkan penderitaan emosional (Pohl et al., 2018).
Faktor Psikologis: Gaya Keterikatan dan Pola Pikir
Selain faktor biologis, faktor psikologis juga berpengaruh besar pada seberapa cepat seseorang dapat pulih dari putus asa. Menurut teori gaya keterikatan (attachment style), orang dengan gaya keterikatan aman (secure attachment) cenderung lebih mampu menerima kehilangan dan beradaptasi karena mereka percaya bahwa hubungan baru dapat dibangun kembali. Di sisi lain, orang dengan gaya keterikatan cemas (anxious attachment) lebih sering terjebak dalam ruminasi yang berkaitan dengan kenangan, kesalahan, atau harapan yang belum terpenuhi. S
edangkan individu dengan gaya menghindar (avoidant attachment) tampak tenang secara luar. Namun, mereka sering menyimpan stres biologis yang tersembunyi karena menekan emosi mereka (Gehl, 2023; Marshall, Bejanyan, & Ferenczi, 2013; Eisma et al., 2022; Cassidy, 2013).
Secara psikologis, berpikir tentang mantan dapat memperkuat reaksi biologis yang sudah ada. Ketika seseorang mengingat kenangan atau melihat foto mantan, otak mereka dapat melepaskan oksitosin dan dopamin kembali dalam jumlah kecil, membuat mereka merasa seperti "mengulang" hubungan itu secara internal. Karena otak terus diberi sinyal bahwa keterikatan tersebut masih relevan, proses penyembuhan menjadi lebih lama (Earp et al., 2013).
Fenomena Withdrawal Cinta
Beberapa penelitian dengan functional magnetic resonance imaging (fMRI) menemukan bahwa aktivitas otak orang yang baru saja putus cinta mirip dengan aktivitas otak pecandu yang mengalami withdrawal. Ketika seseorang kehilangan pasangan, otak mereka yang terbiasa dengan stimulus dopamin dan oksitosin menjadi kosong secara tiba-tiba.
Salah satu gejalanya dapat berupa keinginan untuk menghubungi mantan, rasa rindu yang sangat besar, atau bahkan kesulitan untuk menerima bahwa hubungan mereka telah berakhir. Dalam hal ini, move on sebenarnya mirip dengan detoksifikasi emosional, proses biologis di mana tubuh dan otak secara bertahap menyesuaikan diri dengan hilangnya sumber kenikmatan dan keterikatan lama (Earp et al., 2013).
Pemulihan dari Perspektif Biopsikologi
Pemulihan dari perpisahan membutuhkan pendekatan yang memadukan aspek biologis dan psikologis. Secara biologis, aktivitas fisik seperti berolahraga mengurangi kortisol dan meningkatkan endorfin, yang dapat membantu memperbaiki suasana hati. Hormon juga dapat diperbaiki dengan tidur yang cukup, makan makanan yang sehat, dan menghindari stres.
Individu yang mengalami kehilangan dapat memanfaatkan dukungan sosial, terapi kognitif, meditasi, refleksi diri, dan metode psikologis lainnya untuk memproses kehilangan dengan lebih sehat. Menyadari bahwa kesulitan move on adalah hasil interaksi alami antara otak dan emosi dan bukanlah tanda kelemahan, sehingga dapat meningkatkan sikap welas asih terhadap diri sendiri selama proses penyembuhan (Marshall et al., 2013; Eisma et al., 2022).
Kesimpulan
Kesulitan untuk move on setelah berpisah bukan hanya masalah emosional, hal tersebut juga karena interaksi biologis dan psikologis yang kompleks. Setelah berpisah, ketidakseimbangan hormon seperti kortisol, oksitosin, dan dopamin menyebabkan stres dan kerinduan.
Dari sudut pandang biopsikologis, memahami proses ini memungkinkan kita untuk memahami bahwa rasa sakit yang disebabkan oleh putus cinta bukanlah tanda kelemahan pribadi, itu adalah respons alami dari tubuh dan pikiran.
Dengan memahami ini, seseorang dapat menjadi lebih sabar dan penuh empati terhadap diri sendiri, yang memungkinkan otak dan hati untuk sembuh secara alami. Pada akhirnya, ini akan membantu seseorang menemukan keseimbangan emosional yang baru.

