Konten dari Pengguna
Benarkah Semakin Tinggi Pendidikan Seseorang, Semakin Enggan Menikah?
24 Agustus 2025 9:26 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Benarkah Semakin Tinggi Pendidikan Seseorang, Semakin Enggan Menikah?
Mengapa individu berpendidikan tinggi cenderung menunda pernikahan? Menganalisis bagaimana fokus karir, kemandirian finansial, dan standar pasangan yang lebih tinggi mengubah pandangan pernikahan.Fikri Haekal Akbar
Tulisan dari Fikri Haekal Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah perbincangan sosial, muncul sebuah fenomena yang semakin kentara: individu dengan tingkat pendidikan tinggi, terutama mereka yang mengenyam pendidikan hingga jenjang pascasarjana, sering kali ditemukan belum menikah di usia yang secara dianggap "matang" untuk berumah tangga. Kalimat "semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tidak mau menikah" pun menjadi sebuah adagium yang sering terdengar.
Namun, apakah ini berarti pendidikan secara langsung membuat seseorang anti terhadap institusi pernikahan? Jawabannya tidak sesederhana itu. Ini bukanlah tentang penolakan mentah-mentah, melainkan sebuah pergeseran paradigma yang kompleks, didorong oleh faktor ekonomi, sosial, dan psikologis. Mari kita bedah alasan-alasan di baliknya.
Pergeseran Prioritas dan Fokus pada Karir
Bagi banyak orang, pendidikan tinggi adalah gerbang menuju karir yang mapan dan memuaskan. Proses menempuh pendidikan S1, S2, hingga S3 membutuhkan investasi waktu, tenaga, dan finansial yang tidak sedikit. Setelah lulus, fokus utama sering kali tertuju pada membangun karir, mencapai stabilitas profesional, dan meraih pencapaian pribadi.
Dalam hal ini, pernikahan tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan hidup atau prioritas utama, terutama bagi perempuan. Pernikahan dilihat sebagai salah satu bab dalam kehidupan yang bisa dijalani nanti, setelah fondasi karir dan pribadi sudah kokoh.
Kemandirian Finansial, Terutama bagi Perempuan
Secara historis, pernikahan sering kali menjadi jalan bagi perempuan untuk mencapai keamanan finansial. Pendidikan tinggi telah mengubah dinamika ini secara drastis. Perempuan yang berpendidikan tinggi memiliki peluang lebih besar untuk mandiri secara finansial. Mereka memiliki pendapatan sendiri, aset, dan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya.
Kemandirian ini menghilangkan faktor "kebutuhan" ekonomi dalam pernikahan. Keputusan untuk menikah menjadi murni didasarkan pada keinginan untuk menemukan pasangan yang setara dan cocok secara emosional dan intelektual, bukan lagi karena tekanan ekonomi.
Standar Pasangan yang Lebih Tinggi
Seseorang yang telah menginvestasikan banyak hal untuk pengembangan dirinya, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman hidup, cenderung memiliki standar yang lebih tinggi dalam memilih pasangan hidup. Mereka tidak hanya mencari cinta, tetapi juga kesetaraan intelektual, visi hidup yang sejalan, dan dukungan emosional yang matang.
Mereka mendambakan seorang "partner" berdiskusi dan bertumbuh bersama, bukan sekadar "suami" atau "istri" dalam peran rumah tangga. Proses menemukan pasangan yang memenuhi kriteria kompleks ini tentu membutuhkan waktu lebih lama dan membuat mereka lebih selektif.
Bagi generasi sebelumnya, tolok ukur kesuksesan sering kali disandingkan dengan "sudah menikah dan punya anak". Namun, bagi individu saat ini yang berpendidikan tinggi, definisi kebahagiaan dan kesuksesan telah meluas.
Kesuksesan bisa berarti mencapai posisi puncak dalam karir, melakukan perjalanan keliling dunia, menciptakan karya, atau memberikan kontribusi bagi masyarakat. Kebahagiaan tidak lagi hanya bersumber dari kehidupan rumah tangga, tetapi dari pemenuhan diri (self-actualization) dalam berbagai aspek kehidupan. Pernikahan dianggap sebagai pilihan yang harus menambah nilai kebahagiaan, bukan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan.
Pernikahan, dalam bentuk apa pun, menuntut kompromi. Individu yang terbiasa hidup mandiri, mengatur waktu dan keuangannya sendiri, mungkin merasa khawatir akan kehilangan otonomi dan kebebasan pribadi yang telah mereka nikmati. Mereka menghargai ruang pribadi dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Gagasan untuk harus terus-menerus bernegosiasi dan berkompromi dengan pasangan bisa menjadi salah satu faktor yang membuat mereka ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Penting untuk menggarisbawahi bahwa fenomena ini lebih akurat digambarkan sebagai penundaan pernikahan dan peningkatan selektivitas, ketimbang penolakan total. Banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi tetap memiliki keinginan untuk menikah. Namun, mereka tidak mau terburu-buru.
Studi bahkan menunjukkan bahwa pernikahan yang terjadi pada usia yang lebih matang dan di antara pasangan yang berpendidikan setara cenderung memiliki tingkat stabilitas yang lebih tinggi dan risiko perceraian yang lebih rendah. Ini mengindikasikan bahwa ketika mereka akhirnya memutuskan untuk menikah, keputusan tersebut didasari oleh pertimbangan yang sangat matang dan pilihan yang sadar.
Jadi, apakah semakin tinggi pendidikan membuat seseorang enggan menikah? Jawabannya adalah, pendidikan tinggi memberikan seseorang lebih banyak pilihan, kemandirian, dan kesadaran diri. Hal ini mengubah pernikahan dari sebuah "keharusan" menjadi sebuah "pilihan sadar". Fokusnya bergeser dari "kapan menikah" menjadi "menikah dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat, dan untuk alasan yang tepat."

