Konten dari Pengguna
Fenomena Inflasi IPK: Gelar Cum Laude Yang Dulu Prestise, Kini Biasa Saja?
23 Agustus 2025 20:22 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Fenomena Inflasi IPK: Gelar Cum Laude Yang Dulu Prestise, Kini Biasa Saja?
Tulisan ini menganalisis fenomena inflasi IPK di perguruan tinggi. Membedah penyebab struktural serta dampaknya terhadap devaluasi gelar akademik dan standar kompetensi lulusan di dunia profesional.Fikri Haekal Akbar
Tulisan dari Fikri Haekal Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seorang wisudawan melangkah turun dari panggung, menggenggam ijazah dengan predikat cumlaude. Rasa bangga membuncah. Namun, saat ia melihat sekeliling, puluhan, bahkan ratusan teman-temannya juga merayakan pencapaian yang sama. Di dunia kerja, para perekrut dibanjiri CV dengan IPK di atas 3.50. Prestasi yang dulu dianggap luar biasa kini terasa seperti standar baru.
Selamat datang di era Inflasi IPK. Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah tren global di mana rata-rata nilai mahasiswa terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Pertanyaannya bukan lagi "siapa yang cumlaude?", tetapi "siapa yang tidak?".
Namun, apakah ini berarti generasi sekarang jauh lebih pintar dari generasi sebelumnya? Atau jangan-jangan, ada sebuah "mesin" tak terlihat di balik sistem pendidikan kita yang sedang bekerja, membuat angka-angka tampak indah namun secara perlahan menggerus nilai dari kerja keras itu sendiri? Mari kita bahas.
Mesin Tak Terlihat di Balik Angka Sempurna
Inflasi IPK bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah hasil dari berbagai tekanan kuat yang mengubah cara kerja universitas. Ada beberapa kekuatan utama yang mendorong mesin inflasi ini.
Pertama, adalah transformasi kampus menjadi 'pasar'. Di zaman sekarang, universitas tidak hanya bersaing soal kualitas riset, tetapi juga bersaing untuk mendapatkan "pelanggan", yaitu mahasiswa. Ketika mahasiswa dipandang sebagai pelanggan yang membayar mahal, kepuasan mereka menjadi prioritas utama. Hal ini menciptakan tekanan halus pada para dosen. Dosen yang dikenal "sulit" atau memberikan nilai sesuai kurva normal yang ketat bisa mendapatkan ulasan buruk dari mahasiswa. Ulasan buruk ini bisa berdampak pada karier mereka. Demi menjaga citra positif dan tingkat kelulusan yang tinggi, budaya memberi nilai yang lebih "murah hati" pun tumbuh subur.
Kedua, adalah perlombaan peringkat dan akreditasi. Setiap universitas ingin terlihat hebat di mata dunia. Mereka berlomba-lomba untuk naik di papan peringkat nasional maupun internasional. Salah satu metrik yang sering dijadikan tolok ukur adalah "keberhasilan mahasiswa", yang sering kali diterjemahkan menjadi IPK rata-rata lulusan yang tinggi. Demi mengejar angka-angka cantik untuk laporan akreditasi atau brosur promosi, standar penilaian bisa jadi tanpa sadar diturunkan. Ini seperti sebuah kontes kecantikan di mana semua kontestan diberi polesan agar tampak sempurna di atas panggung.
Ketiga, meski niatnya baik, perubahan metode belajar juga ikut andil. Sistem penilaian modern yang lebih bervariasi, melalui tugas kelompok, presentasi, dan proyek memang lebih baik daripada sekadar ujian akhir. Namun, sistem ini juga bisa lebih mudah dieksploitasi. Mahasiswa bisa lebih fokus pada "cara mendapatkan nilai A" sesuai rubrik daripada benar-benar memahami substansi materi secara mendalam.
Ketika Nilai Kehilangan Nilainya
Mungkin ada yang berpikir, "Apa salahnya dengan nilai bagus? Bukankah itu memotivasi?" Masalahnya, ketika sesuatu yang langka menjadi umum, nilainya akan jatuh. Inilah yang terjadi pada IPK.
Dampak paling nyata terasa di dunia kerja. Anggap saja IPK adalah 'mata uang' untuk 'membeli' kesempatan kerja. Dulu, memiliki IPK 3.80 ibarat memiliki sebatang emas, langka dan sangat berharga. Perekrut bisa dengan mudah mengidentifikasi talenta terbaik. Kini, akibat inflasi, IPK 3.80 lebih mirip selembar uang seratus ribu rupiah. Banyak yang memilikinya, sehingga nilainya tidak lagi istimewa. Akibatnya, perekrut tidak bisa lagi percaya pada IPK sebagai satu-satunya saringan. Mereka harus mencari "mata uang" lain: pengalaman magang, portofolio proyek, sertifikasi, atau bahkan dari universitas mana kandidat berasal, sebuah praktik yang bisa melanggengkan elitisme.
Fenomena ini juga menciptakan ilusi 'semua juara'. Di permukaan, banyaknya lulusan cumlaude terlihat seperti sebuah kesuksesan besar. Namun, di baliknya ada sebuah ironi. Sistem ini sebenarnya tidak adil bagi mahasiswa yang benar-benar brilian dan bekerja super keras. Prestasi mereka yang sesungguhnya kini tersamarkan di tengah lautan lulusan ber-IPK tinggi lainnya. Di sisi lain, sistem ini bisa memberikan rasa percaya diri yang palsu kepada lulusan yang mungkin belum sepenuhnya siap menghadapi tantangan dunia nyata yang tidak mengenal rubrik penilaian.
Lebih jauh lagi, inflasi IPK menciptakan jebakan psikologis. Ketika nilai 'A' menjadi standar, mendapatkan nilai 'B' terasa seperti sebuah kegagalan. Mahasiswa menjadi takut mengambil risiko. Mereka lebih memilih mata kuliah yang "aman" dan dosen yang dikenal gampang memberi nilai, daripada menantang diri di kelas yang sulit namun bisa memperkaya wawasan. Rasa ingin tahu dan keberanian untuk gagal, yang merupakan inti dari pembelajaran, perlahan tergantikan oleh kecemasan untuk menjaga transkrip tetap sempurna.
Pada akhirnya, inflasi IPK adalah sebuah cermin bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa nilai dari pendidikan bukanlah angka yang tertera di ijazah, melainkan kedalaman pemahaman, ketajaman analisis, dan kemampuan beradaptasi yang kita bawa ke dunia nyata. Sudah saatnya kita bersama-sama memastikan bahwa gelar yang kita raih dengan susah payah benar-benar bernilai.

