Konten dari Pengguna

Membedah Statement Nasaruddin Umar: Panggilan Jiwa Guru di Persimpangan Jalan

Fikri Haekal Akbar
Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
4 September 2025 16:28 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Membedah Statement Nasaruddin Umar: Panggilan Jiwa Guru di Persimpangan Jalan
Mengupas pernyataan Nasaruddin Umar "guru bukan pedagang". Sebuah refleksi tentang panggilan jiwa pendidik, membedakan tujuan utama mencerdaskan dengan tujuan mencari profit semata.
Fikri Haekal Akbar
Tulisan dari Fikri Haekal Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menteri Agama RI Prof. KH. Nasaruddin Umar (Gambar: Kemenag.go.id)
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Agama RI Prof. KH. Nasaruddin Umar (Gambar: Kemenag.go.id)
Sebuah pernyataan dari Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., sempat menjadi perbincangan akhir-akhir ini: "Kalau ingin cari uang, jangan jadi guru, tapi jadilah pedagang." Bagi sebagian guru, kalimat ini mungkin terdengar menyakitkan. Di saat banyak pendidik masih berjuang untuk mendapatkan upah yang layak, pernyataan ini bisa terasa seolah merendahkan profesi mereka.
Namun, jika kita berhenti sejenak dan mencoba memahami maksud di baliknya, kita akan menemukan sebuah perenungan yang sangat penting. Nasihat ini bukanlah hinaan, melainkan sebuah ajakan untuk melihat kembali ke dalam hati: apa sebenarnya motivasi utama menjadi seorang guru? Ini bukan soal melarang guru menjadi sejahtera, tapi sebuah pengingat agar tujuan utama pendidikan tidak bergeser dari mencerdaskan menjadi sekadar jual-beli ilmu.
Secara mendasar, ada perbedaan besar antara tujuan seorang guru dan seorang pedagang. Tujuan utama seorang pedagang adalah mencari keuntungan. Setiap barang yang dijual, setiap strategi pemasaran, semuanya diarahkan untuk menghasilkan laba. Ini adalah hal yang wajar dan penting untuk menggerakkan ekonomi.
Di sisi lain, tujuan utama seorang guru adalah "mencerdaskan" mengubah pola pikir, membentuk karakter, dan membantu siswa menemukan potensi terbaiknya. Keberhasilan seorang guru tidak diukur dari uang yang ia kumpulkan, melainkan dari perubahan positif yang terjadi pada murid-muridnya. Kebahagiaannya adalah saat melihat siswanya yang dulu pemalu kini berani bertanya, atau saat mendengar kabar bahwa mantan muridnya menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat.
Inilah inti dari nasihat Nasaruddin Umar. Ketika seorang guru mulai menjadikan gaji sebagai tujuan utamanya, tanpa sadar ia telah mengubah perannya. Ruang kelas yang seharusnya menjadi taman untuk menumbuhkan ide-ide cemerlang, berubah menjadi "toko" tempat ilmu diperjualbelikan. Murid dianggap sebagai "pelanggan" yang harus dilayani secukupnya sesuai bayaran, bukan sebagai tunas bangsa yang harus dirawat dengan sepenuh hati.
Jika mentalitas ini dibiarkan, dampaknya bisa sangat serius. Guru mungkin akan mengajar sekadarnya, hanya untuk memenuhi target kurikulum. Proses belajar tidak lagi menjadi dialog yang seru, melainkan hanya transfer informasi yang membosankan. Semangat untuk mendidik dengan tulus bisa padam, digantikan oleh hitung-hitungan untung-rugi.
Gagasan bahwa guru memiliki panggilan khusus bukanlah hal baru. Ribuan tahun lalu di Yunani kuno, hiduplah seorang filsuf bernama Socrates. Pada masanya, ada kelompok guru pintar yang disebut kaum Sofis. Mereka mengajar para bangsawan dan orang kaya dengan bayaran yang sangat mahal. Mereka, bisa dibilang, adalah "pedagang ilmu pengetahuan".
Socrates melakukan hal yang sebaliknya. Ia mengajar siapa saja, di mana saja, di pasar, di jalan, tanpa meminta bayaran. Tujuannya bukan untuk mengisi kantongnya sendiri, tetapi untuk mengajak orang lain berpikir, mencari kebenaran, dan menjadi manusia yang lebih baik. Bagi Socrates, mengajar adalah sebuah "panggilan jiwa".
Panggilan jiwa berbeda dari sekadar pekerjaan atau karier. Pekerjaan kita lakukan untuk mendapat uang. Karier kita bangun untuk mendapat jabatan dan status. Namun, panggilan jiwa adalah sesuatu yang kita lakukan karena kita merasa terpanggil untuk memberikan makna dan manfaat bagi orang lain.
Ketika Nasaruddin Umar membandingkan guru dan pedagang, ia seakan bertanya kepada setiap pendidik: "Apa yang membawamu ke profesi ini? Apakah sekadar pekerjaan, mengejar karier, atau karena sebuah panggilan jiwa?" Kesejahteraan materi tentu penting, tapi idealnya ia datang sebagai hasil dari pengabdian terbaik kita, bukan sebagai satu-satunya hal yang kita kejar.
Lalu, apakah guru harus hidup susah? Tentu saja tidak. Gagasan ini sama sekali bukan untuk menormalisasikan guru yang hidup dalam kekurangan. Seorang guru yang khawatir tentang cara membayar cicilan atau membeli kebutuhan pokok tidak akan bisa mengajar dengan tenang dan maksimal. Kesejahteraan guru adalah syarat mutlak agar mereka bisa fokus menjalankan tugas mulianya.
Perjuangan guru menuntut hak dan kesejahteraan adalah hal yang sangat sah dan harus didukung. Poin dari nasihat ini terletak pada urutan prioritas. Pertanyaannya adalah: Apakah kita berjuang agar sejahtera supaya bisa mendidik lebih baik? Atau, apakah kita mendidik semata-mata demi mengejar kesejahteraan?
Perbedaan tipis inilah yang menentukan kualitas seorang pendidik. Guru yang benar adalah melihat kesejahteraan sebagai alat untuk mengabdi lebih baik, bukan sebagai tujuan akhir dari pengabdian itu sendiri.
Ada sebuah pandangan filsafat yang mengatakan bahwa makna hidup itu tidak diberikan, tapi kita ciptakan sendiri melalui pilihan dan tindakan kita. Dengan memilih menjadi guru, seseorang sebenarnya sedang memilih untuk menciptakan warisan yang abadi. Warisan seorang pedagang mungkin berupa harta atau perusahaan. Namun, warisan seorang guru adalah generasi penerus yang cerdas, kritis, dan berakhlak mulia. Inilah "keuntungan" yang nilainya jauh melampaui materi.
Kesimpulannya, pernyataan Nasaruddin Umar berfungsi sebagai cermin. Ia mengajak para pendidik untuk merefleksikan kembali niat awal mereka terjun ke dunia pendidikan, di tengah berbagai tuntutan administrasi dan godaan materialisme.
Menjadi guru adalah sebuah pilihan sadar untuk berinvestasi pada aset paling berharga di sebuah negara: manusianya. Ini adalah profesi yang mulia, di mana "laba" terbesarnya adalah lahirnya generasi yang tercerahkan. Kesejahteraan finansial adalah hak dan sarana penting untuk menunjang tugas tersebut, tetapi ia tidak boleh menjadi berhala yang dipuja.
Nasihat ini adalah sebuah kompas moral yang mengingatkan kita semua bahwa jalan seorang guru adalah jalan seorang penabur benih. Mungkin ia tidak akan pernah sekaya pedagang sukses, tetapi dari tangannya akan tumbuh pohon-pohon peradaban yang buahnya akan dinikmati oleh seluruh bangsa. Itulah kekayaan sejati seorang guru.
Trending Now