Konten dari Pengguna
Bila Heidegger Membangun Metode Ilmiah
13 Agustus 2025 7:16 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Bila Heidegger Membangun Metode Ilmiah
Heidegger bukanlah sosok yang hanya berbicara tentang angka atau data. Ia akan mengajak kita menyelami pertanyaan yang lebih mendalam: apa makna keberadaan di balik semua ini? Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan kita sedang duduk di tepi sawah, ditemani angin sejuk, sambil merenungkan makna hidup, dunia, dan cara kita memahami alam semesta. Jika Martin Heidegger, filsuf eksistensial terkenal dengan karyanya Being and Time, bergabung dalam perbincangan ini, apa yang kira-kira akan ia sampaikan tentang sains?
Heidegger bukanlah sosok yang hanya berbicara tentang angka atau data. Ia akan mengajak kita menyelami pertanyaan yang lebih mendalam: apa makna keberadaan di balik semua ini? Ia akan merumuskan metoda ilmiah yang tidak sekadar berfokus pada pengukuran atau perhitungan, melainkan pada bagaimana manusia hidup dan berhubungan dengan dunia. Berikut adalah eksplorasi bagaimana Heidegger mungkin merumuskan ontologi, epistemologi, aksiologi, teleologi, teodiksi, dan metoda ilmiah dengan pendekatan yang lebih bermakna.
Ontologi: Dunia Yang Bermakna
Heidegger kerap bertanya: “Apa itu Being? Apa makna keberadaan?” Dalam konteks sains, ia akan menolak pandangan bahwa sains hanya berurusan dengan benda-benda yang dapat dilihat dan diukur, seperti pohon yang hanya dipandang sebagai kayu atau air yang direduksi menjadi H₂O. Bayangkan kita sedang duduk di bawah pohon mangga di sebuah desa.
Bagi Heidegger, pohon itu bukan sekadar kumpulan sel atau material kayu, melainkan sesuatu yang memiliki makna dalam kehidupan kita—mungkin sebagai tempat berteduh, berkumpul, atau bahkan menyimpan kenangan masa kecil. Inilah yang ia sebut Welt, dunia yang hidup dan bermakna bagi Dasein (manusia yang menyadari keberadaannya).
Heidegger akan menyatakan bahwa sains modern terjebak dalam Gestell, kerangka teknologi yang membuat kita memandang alam hanya sebagai sumber daya. Misalnya, hutan sering kali hanya dilihat sebagai lahan untuk proyek pembangunan, bukan sebagai bagian integral dari kehidupan kita. Ia akan mengajak kita menolak pandangan Cartesian yang memisahkan manusia dari dunia, dan menggantinya dengan konsep Being-in-the-world.
Dunia bukanlah sekumpulan objek di luar sana, melainkan tempat kita hidup, bernapas, dan merasa. Seperti yang pernah dikatakan Albert Einstein, “Kita harus memandang alam dengan penuh kekaguman, seperti seorang anak kecil.” Heidegger akan setuju, tetapi menambahkan bahwa kekaguman itu tidak hanya tertuju pada hukum fisika, melainkan pada makna keberadaan alam itu sendiri.
Epistemologi: Kebenaran Lebih dari Sekadar Data
Jika kita membahas bagaimana kita memperoleh pengetahuan, Heidegger akan menegaskan bahwa sains modern terlalu terpaku pada representasi, selalu menganggap kebenaran hanya soal kesesuaian antara fakta dan pengamatan. Misalnya, jika kita mengukur gravitasi dan hasilnya sesuai dengan teori Newton, kita menyebutnya “benar”.
Namun, bagi Heidegger, kebenaran adalah aletheia, proses pengungkapan sesuatu yang tersembunyi. Bayangkan kita sedang memandang bintang di langit malam. Sains modern mungkin hanya membahas spektrum cahaya atau jarak bintang, tetapi Heidegger akan mengajak kita untuk bertanya: “Apa yang diungkapkan bintang ini tentang keberadaan kita?”
Ia akan mendorong kita menggunakan Sorge—kepedulian—sebagai landasan pengetahuan. Seorang ilmuwan bukanlah mesin pengumpul data, melainkan manusia yang peduli, kagum, dan terhubung dengan dunia. Sebagai contoh, Gregor Mendel, bapak genetika, tidak hanya menghitung kacang polong di kebun biara, tetapi juga memiliki rasa ingin tahu yang mendalam, hampir seperti doa, untuk memahami rahasia kehidupan.
Epistemologi Heidegger akan mendorong sains untuk tidak hanya mengejar data, tetapi juga merangkul perasaan, intuisi, dan keterlibatan manusiawi. Seperti yang dikatakan Michio Kaku, “Sains adalah tentang menemukan cerita alam semesta.” Heidegger akan menambahkan bahwa cerita itu harus terhubung dengan kehidupan kita sebagai manusia.
Aksiologi: Sains yang Menghormati Keberadaan Alam
Sains modern sering kali membanggakan kemampuannya untuk “menaklukkan” alam—membangun bendungan, roket, atau kecerdasan buatan. Namun, Heidegger akan menyebut ini sebagai nihilisme teknologi, di mana kita melupakan nilai sejati alam. Bayangkan kita sedang berjalan di tengah hutan. Sains modern mungkin hanya memikirkan berapa meter kubik kayu yang dapat diambil.
Heidegger akan mengajak kita duduk, mendengarkan suara angin, dan merasakan hutan sebagai sesuatu yang hidup, bukan sekadar sumber daya. Inilah yang ia sebut Gelassenheit—keterlepasan yang penuh perhatian, sebuah sikap rendah hati yang membiarkan alam menampakkan dirinya.
Sebagai contoh nyata, kita bisa melihat Rachel Carson, penulis Silent Spring. Ia tidak hanya membahas dampak pestisida dari sudut pandang kimia, tetapi juga dari hati (bagaimana kematian burung akibat DDT merupakan kehilangan makna bagi kemanusiaan). Aksiologi Heidegger akan mendorong sains yang beretika: menghormati Being alam, bukan hanya mengejar efisiensi. Seperti yang pernah dikatakan Teilhard de Chardin, “Kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual, melainkan makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia.” Sains harus memiliki nilai yang selaras dengan jiwa manusia.
Teleologi: Sains dan Tujuan yang Melampaui Teknologi
Jika kita bertanya, “Untuk apa sains?”, Heidegger tidak akan menjawab, “Untuk menciptakan teknologi canggih.” Ia akan menyatakan bahwa tujuan sains adalah membuka ruang bagi kita untuk merenungkan Being dan tempat kita di dunia. Bayangkan kita sedang melihat foto galaksi dari teleskop Hubble. Sains modern mungkin berfokus pada hukum fisika atau komposisi bintang. Heidegger akan mengajak kita bertanya: “Apa arti keberadaan kita di tengah luasnya alam semesta ini?”
Ini sejalan perkataan Einstein: “Saya ingin tahu pikiran Tuhan; sisanya hanyalah detail.” Heidegger akan setuju, tetapi menegaskan bahwa tujuan sains bukan hanya memecahkan teka-teki kosmos, melainkan memperdalam pengalaman kita sebagai Dasein. Sains harus membangkitkan kekaguman, bukan hanya memberikan kekuatan untuk mengendalikan alam. Teleologi ini berfokus pada pencarian makna, bukan sekadar solusi praktis.
Teodiksi: Sains Dan Ketidaksempurnaan Dunia
Teodiksi biasanya membahas pembenaran atas keberadaan kejahatan di dunia. Dalam konteks sains, Heidegger mungkin akan bertanya: “Dapatkah sains menjawab mengapa hidup penuh dengan penderitaan atau ketidakpastian?” Ia menggunakan konsep Geworfenheit—keterlemparan—untuk menjelaskan bahwa kita “dilempar” ke dunia yang tidak selalu jelas atau adil. Misalnya, bayangkan seorang dokter yang berusaha menyembuhkan pasien kanker. Sains modern mungkin berfokus pada obat atau terapi, tetapi Heidegger akan mengingatkan: “Jangan lupa mempertanyakan makna penyakit ini bagi kehidupan pasien.”
Sebagai contoh, Jonas Salk, penemu vaksin polio, tidak hanya memikirkan formula kimia, tetapi juga dampaknya bagi kemanusiaan—mengurangi penderitaan anak-anak. Teodiksi sains Heidegger akan mendorong ilmuwan untuk tidak hanya mencari solusi teknis, tetapi juga merenungkan makna eksistensial dari penderitaan, kematian, dan keterbatasan manusia.
Metode Ilmiah Heidegger
Metode ilmiah ala Heidegger tidak akan kaku seperti panduan laboratorium. Ia akan mengajak kita menyelami dunia dengan hati dan pikiran terbuka. Bayangkan kita sedang mengamati petani menanam padi. Sains modern mungkin hanya mengukur kadar nitrogen di tanah. Heidegger akan berkata: “Amati padi itu dengan Gelassenheit. Apa yang diungkapkan padi ini tentang kehidupan, kerja keras, dan hubungan kita dengan bumi?”
Metode ilmiahnya mencakup langkah-langkah berikut:
1. Keterbukaan terhadap Being: Penyelidikan dimulai dengan sikap rendah hati. Jangan terburu-buru membuat hipotesis kaku. Misalnya, ketika mempelajari sungai, jangan hanya mengukur debit air, tetapi rasakan apa yang diungkapkan sungai tentang kehidupan di sekitarnya.
2. Refleksi Fenomenologis: Dengarkan dunia melalui intuisi dan perasaan, bukan hanya logika. Ini mirip dengan saat Isaac Newton mengamati apel jatuh, ia tidak hanya menghitung, tetapi merenungkan makna gravitasi dalam alam semesta.
3. Penolakan Gestell: Hindari mereduksi alam menjadi objek. Misalnya, ketika membangun bendungan, pertimbangkan pula maknanya bagi ikan, burung, atau masyarakat di sekitar sungai. Teknologi harus membantu mengungkap Being, bukan hanya menguasai alam.
4. Dialog Eksistensial: Ilmuwan harus terus bertanya tentang makna temuan mereka bagi kehidupan. Misalnya, fisika kuantum menunjukkan dunia penuh ketidakpastian. Heidegger akan menyatakan bahwa itu mencerminkan Geworfenheit kita, dunia yang tidak pernah sepenuhnya kita pahami.
5. Integrasi Makna Eksistensial: Hasil penelitian tidak hanya dinilai dari akurasi data, tetapi juga dari bagaimana temuan itu terhubung dengan kehidupan kita. Misalnya, penelitian tentang iklim tidak hanya membahas CO₂, tetapi juga rasa takut atau harapan manusia terhadap masa depan bumi.
Metode ini tidak akan memberikan jawaban pasti seperti sains modern, tetapi akan membuka ruang untuk kekaguman terhadap misteri dunia. Seperti yang dikatakan Michio Kaku: “Alam semesta adalah seperti perpustakaan raksasa, dan kita baru membaca satu halaman.”
Catatan Akhir
Jika Heidegger merumuskan metode ilmiah, ia akan mengajak kita memandang sains sebagai perjalanan untuk memahami Being, bukan sekadar mengumpulkan fakta. Ontologinya menjadikan dunia sebagai tempat yang hidup, bukan sekumpulan benda. Epistemologinya mencari kebenaran melalui hati dan pikiran, seperti yang dilakukan Mendel dan Newton. Aksiologinya menyerukan penghormatan terhadap alam, sebagaimana dicontohkan Carson.
Teleologinya menjadikan sains alat untuk mengagumi dunia, seperti pandangan Einstein. Teodisinya merenungkan penderitaan, seperti yang dilakukan Salk. Metode ilmiahnya adalah perbincangan penuh makna dengan alam, bukan sekadar pengukuran. Sains ala Heidegger tidak hanya membuat kita cerdas, tetapi juga bijaksana, membuat kita terbuka terhadap misteri keberadaan. (**)

