Konten dari Pengguna
Casper Wilstrup dan XAI (End)
23 Desember 2025 5:54 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Casper Wilstrup dan XAI (End)
QLattice bekerja dengan prinsip yang berbeda. Ia memperkenalkan langkah tengah di mana AI menghasilkan penjelasan, kemudian menggunakan penjelasan itu untuk membuat prediksi. Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

QLattice: Ketika Air Pengetahuan Mengalir
Ide yang telah tertidur sejak masa kuliah Casper di pertengahan 1990-an kini bangkit dengan bentuk yang revolusioner: QLattice—sebuah algoritma AI simbolik yang unik.
Berbeda dengan deep learning yang menghasilkan jutaan parameter tak terbaca, QLattice menghasilkan persamaan matematis yang bisa dipahami manusia. Ini seperti perbedaan antara diberitahu "jawabannya adalah 42" versus dijelaskan bagaimana dan mengapa jawabannya adalah 42, lengkap dengan langkah-langkah logikanya.
"AI kebanyakan dirancang untuk memprediksi berdasarkan data, bukan dengan penjelasan sebagai fokus," jelas Casper. "Tetapi ada banyak situasi di mana penjelasan sama pentingnya dengan prediksi. Saya mengambil contoh ekstrem tentang keputusan hidup atau mati tentang obat, tetapi ini juga berlaku untuk situasi seperti credit scoring, atau diizinkan membeli rumah."
QLattice bekerja dengan prinsip yang berbeda. Ia memperkenalkan langkah tengah di mana AI menghasilkan penjelasan, kemudian menggunakan penjelasan itu untuk membuat prediksi. Sementara pendekatan black-box AI langsung menuju prediksi dan melewati seluruh ide tentang memahami proses yang mendasarinya.
Yang menakjubkan adalah bagaimana Casper membangun Abzu dengan filosofi yang terinspirasi dari Paul Feyerabend—filsuf sains yang terkenal dengan prinsip "Anything Goes". Feyerabend percaya bahwa tidak ada metode tunggal untuk menemukan kebenaran, bahwa kemajuan ilmiah sering datang dari melanggar aturan, dari mencoba hal-hal yang dianggap "tidak ortodoks".
"Saya ridiculously curious," kata Casper. "Saya hanya suka belajar, mempelajari, dan memahami."
Dengan prinsip itu, Casper tidak mengikuti metode pengembangan AI yang konvensional. Ia bereksperimen dengan arsitektur yang tidak biasa, menggabungkan symbolic reasoning dengan pembelajaran mesin, mencoba pendekatan yang dianggap aneh oleh banyak peneliti. Dan hasilnya? Terobosan.
Dampak Nyata Abzu
Hari ini, enam tahun setelah pendiriannya, Abzu telah berkembang menjadi pemain global dalam explainable AI, terutama di industri farmasi. Perusahaan-perusahaan farmasi top 10, perusahaan biotech, dan institusi akademik menggunakan teknologi Abzu untuk mempercepat penemuan obat.
Mengapa? Karena dalam drug discovery, memahami mengapa suatu molekul bekerja sama pentingnya dengan mengetahui bahwa ia bekerja. Regulasi yang ketat, keputusan life-or-death, dan biaya penelitian yang astronomis membuat transparansi AI bukan lagi pilihan—tetapi kebutuhan.
Abzu telah disebutkan dalam riset Gartner, dinobatkan sebagai "Cool Vendor" untuk AI pada 2022, dan memenangkan "Best HealthTech" Nordics Award pada 2023. Mereka telah mendapat hibah €2.5 juta dari Uni Eropa untuk menerapkan algoritma symbolic regression mereka pada drug discovery.
Tetapi bagi Casper, kesuksesan terbesar bukanlah penghargaan atau pendanaan. Kesuksesan terbesar adalah ketika seorang peneliti di lab farmasi bisa melihat penjelasan QLattice tentang bagaimana suatu penyakit berkembang, dan berkata, "Ah, sekarang saya mengerti."
Dari kedalaman Abzu—lapisan-lapisan jaringan syaraf yang tersembunyi—pengetahuan mengalir ke permukaan dalam bentuk yang jernih dan dapat dipahami. Seperti mata air yang keluar dari bawah tanah, membawa air kehidupan ke dunia.
Teknologi Yang Mendukung Kita Mencipta Makna
Pertanyaan yang pernah mengusik bocah 10 tahun dengan ZX Spectrum-nya kini telah berevolusi menjadi pertanyaan yang lebih mendalam: apakah kita bisa menciptakan teknologi yang membuat kita lebih memahami apa artinya menjadi manusia?
"Saya mengobsesi tentang sifat dari thinking machines, tentang kecerdasan, dan tentang kesadaran," kata Casper, yang kini berusia 53 tahun. "Dan saya ingin tahu apakah mesin yang kita bangun ini adalah, atau akan segera menjadi, conscious."
Dalam perjalanan panjangnya—42 tahun sejak ia pertama kali menyentuh keyboard ZX81—Casper Wilstrup telah mewujudkan sesuatu yang luar biasa. Bukan hanya sebuah perusahaan atau teknologi, tetapi sebuah filosofi: bahwa teknologi yang paling powerful adalah teknologi yang bisa dipahami, bahwa kecerdasan sejati bukan tentang seberapa pintar Anda, tetapi tentang seberapa baik Anda bisa menjelaskan apa yang Anda ketahui.
Hari ini, di kantor Abzu di Orientkaj, Nordhavn, Copenhagen—tempat angin bertiup kencang dari laut—27 orang yang mereka sebut "Abzoids" bekerja tanpa hierarki organisasi tradisional. Mereka memutuskan jam kerja mereka sendiri. Semua gaji mereka transparan. Tidak ada rahasia.
Seperti Abzu dalam mitologi Sumeria—sumber pengetahuan yang terbuka, bukan tersembunyi—mereka percaya bahwa transparansi bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang kemanusiaan.
Bagian Yang Hilang
Casper Wilstrup sering menulis di Medium tentang perjalanannya, di mana ia merenungkan masa depan AI. Ia percaya bahwa kita sedang berdiri di ambang Artificial General Intelligence (AGI) yang sesungguhnya. Tetapi ia juga percaya ada "kepingan yang hilang"—sesuatu yang berkaitan dengan realitas kuantum dan kesadaran.
"Saya curiga kita belum sampai di sana," katanya. "Ada bagian yang hilang."
Tetapi bagian yang hilang itu bukan yang menghentikannya. Seperti bocah 12 tahun yang duduk di ruang tamu orang tuanya, coding dalam Assembly language pada ZX Spectrum, Casper terus mencoba. Terus bertanya. Terus membuat.
Karena itulah esensi dari "Anything Goes" ala Feyerabend: bukan tentang tidak memiliki metode, tetapi tentang tidak takut untuk mencoba metode baru ketika metode lama tidak lagi cukup. Tentang memiliki keberanian untuk menyelam ke dalam Abzu—kedalaman yang tak diketahui—dengan keyakinan bahwa dari kedalaman itu, kebijaksanaan akan muncul.
Apakah silikon bisa menangis? Mungkin tidak. Tetapi seorang anak Denmark dengan komputer 8-bit telah membuktikan sesuatu yang lebih penting: bahwa dengan curiosity yang tak terbatas, dengan tekad untuk tidak pernah berhenti bertanya, dan dengan keberanian untuk menyelam ke kedalaman—baik itu kedalaman fisika kuantum, kedalaman neural networks, atau kedalaman mitologi Sumeria—kita bisa menciptakan sesuatu yang mengubah dunia.
Dan mungkin, hanya mungkin, membuat kita semua lebih memahami apa artinya menjadi conscious, menjadi alive, menjadi manusia.
Dari ZX Spectrum hingga QLattice. Dari Sinclair ke Sumeria. Dari bocah di pedesaan Denmark hingga pemimpin revolusi explainable AI.
Ini adalah kisah Wilstrup, imaginasinya, dan pertanyaan yang tak pernah berhenti: bukan apakah silikon bisa menangis, tetapi apakah kita, dengan silikon, bisa memahami mengapa kita menangis—dan dalam pemahaman itu, menemukan makna yang lebih dalam tentang diri kita sendiri. (**)

