Konten dari Pengguna

Cyborg dan Kesalahpahaman tentang Manusia

Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
3 Januari 2026 5:34 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cyborg dan Kesalahpahaman tentang Manusia
Narasi Historiografi Cyborg tampak tenang, informatif, bahkan reflektif. Ia menyajikan sejarah cyborg sebagai evolusi nyaris alamiah—dari astronaut NASA hingga kecerdasan buatan kognitif.
Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cyborg
zoom-in-whitePerbesar
Cyborg
Kritik Psikologi Humanistik, Positif, dan Transpersonal terhadap Narasi Cyborg
Narasi Historiografi Cyborg tampak tenang, informatif, bahkan reflektif. Ia menyajikan sejarah cyborg sebagai evolusi nyaris alamiah—dari astronaut NASA hingga kecerdasan buatan kognitif. Namun justru di sinilah problem dasarnya. Dari sudut pandang psikologi humanistik, psikologi positif, dan psikologi transpersonal, teks ini mengandung reduksionisme antropologis yang serius: manusia direduksi menjadi sistem adaptif, sementara dimensi makna, kesadaran, dan pertumbuhan batin dipinggirkan.
1. Kritik Psikologi Humanistik: Manusia Bukan Proyek Adaptasi Teknis
Psikologi humanistik—dari Abraham Maslow, Carl Rogers, hingga Rollo May—lahir sebagai kritik terhadap pandangan mekanistik tentang manusia. Bagi tradisi ini, manusia bukan sekadar makhluk yang bertahan hidup, apalagi dioptimalkan, tetapi makhluk yang mengaktualisasikan makna, nilai, dan kebebasan eksistensial.
Narasi cyborg dalam teks tersebut sejak awal dibingkai dalam logika adaptasi ekstrem: bagaimana tubuh dimodifikasi agar cocok dengan lingkungan luar angkasa, bagaimana fungsi biologis “dikendalikan otomatis tanpa disadari”. Dari kacamata humanistik, ini adalah bahasa dehumanisasi halus. Ketika ketidaksadaran (unconscious control) dipuji sebagai efisiensi, kita sedang menormalisasi hilangnya agency—sesuatu yang justru dianggap sakral oleh Rogers sebagai inti pribadi manusia.
Maslow menekankan bahwa puncak perkembangan manusia bukan efisiensi, melainkan self-actualization: kreativitas, keutuhan diri, dan pengalaman puncak (peak experiences). Namun dalam narasi cyborg, perkembangan manusia digeser menjadi peningkatan kapasitas teknis. Pertanyaannya tidak lagi “Who am I becoming?” melainkan “What can be upgraded?”—sebuah pergeseran yang, bagi psikologi humanistik, menandai krisis kemanusiaan.
2. Kritik Psikologi Positif: Kesejahteraan Bukan Optimalisasi Algoritmik
Psikologi positif modern—seperti yang dikembangkan oleh Martin Seligman, Ed Diener, dan Carol Ryff—berangkat dari data empiris tentang kesejahteraan manusia. Ironisnya, justru dari sudut ini, narasi cyborg tampak terlalu naif terhadap janji teknologi.
Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa kesejahteraan jangka panjang tidak ditentukan oleh kapasitas kognitif semata, tetapi oleh makna hidup, relasi bermakna, otonomi, dan kontribusi moral. Namun teks cyborg menggambarkan “cyborg kognitif” sebagai ekstensi memori dan pengambilan keputusan—seolah berpikir lebih cepat dan lebih banyak otomatis berarti hidup lebih baik.
Padahal data justru menunjukkan sebaliknya: ketergantungan kognitif pada sistem eksternal berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, penurunan sense of competence, dan erosi makna personal. Dalam bahasa psikologi positif, ini adalah illusory progress—kemajuan semu yang meningkatkan performa, tetapi menggerus flourishing.
Lebih problematis lagi, ketika algoritma mulai “menentukan apa yang kita lihat, baca, dan pikirkan”, maka salah satu pilar kesejahteraan—autonomy—terancam runtuh. Psikologi positif akan bertanya tegas: kesejahteraan siapa yang dioptimalkan? Individu, atau sistem?
3. Kritik Psikologi Transpersonal: Kesadaran Bukan Sekadar Fungsi Neural
Psikologi transpersonal—dari Stanislav Grof, Ken Wilber, hingga Roberto Assagioli—melangkah lebih jauh. Ia menolak asumsi implisit dalam narasi cyborg bahwa kesadaran identik dengan fungsi otak. Dalam teks tersebut, pikiran diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa diperluas, disimpan, dan dimediasi teknologi, seolah kesadaran hanyalah komputasi kompleks.
Bagi psikologi transpersonal, ini adalah kesalahan kategori ontologis. Kesadaran bukan produk teknologi biologis semata, melainkan medan pengalaman yang melampaui ego, melampaui identitas fungsional. Pengalaman mistik, transendensi diri, dan kesatuan eksistensial—yang telah diteliti lintas budaya—tidak dapat direduksi menjadi “cyborg kognitif”.
Ketika Ray Kurzweil berbicara tentang singularity dan lenyapnya batas manusia-mesin, psikologi transpersonal melihatnya bukan sebagai puncak evolusi, tetapi sebagai krisis spiritual modern: upaya menggantikan transendensi dengan akselerasi teknis. Di sini, teknologi berfungsi sebagai substitusi makna, bukan sarana pendalaman kesadaran.
4. Kritik Etis Bersama: Siapa yang Mendefinisikan “Upgrade”?
Ketiga aliran psikologi ini—meski berbeda—bertemu pada satu kritik etis fundamental: narasi cyborg gagal mempertanyakan siapa yang berhak mendefinisikan kemajuan manusia. Ketika “upgrade” menjadi norma sosial, manusia yang memilih untuk tetap organik, lambat, reflektif, dan kontemplatif berisiko dianggap usang.
Psikologi humanistik menyebut ini sebagai penyangkalan martabat personal. Psikologi positif melihatnya sebagai ancaman terhadap kesejahteraan autentik. Psikologi transpersonal membacanya sebagai keterputusan manusia dari dimensi terdalam dirinya.
Penutup: Dari “Menjadi Cyborg” ke “Menjadi Manusia”
Teks Historiografi Cyborg ditutup dengan pertanyaan: cyborg seperti apa yang ingin kita pilih untuk menjadi?
Dari perspektif psikologi humanistik, positif, dan transpersonal, pertanyaan itu perlu dibalik secara radikal: manusia seperti apa yang ingin kita pertahankan agar tidak hilang?
Jika teknologi memperpanjang tubuh dan pikiran, tetapi memperpendek kesadaran, makna, dan kebebasan batin, maka kita bukan sedang berevolusi—melainkan kehilangan arah. Dalam bahasa Carl Rogers, tantangan zaman ini bukan menjadi lebih canggih, tetapi tetap menjadi fully functioning human beings di tengah dunia yang semakin mesin. (**)
Trending Now