Konten dari Pengguna

Historiografi Cyborg: Dari Astronaut NASA hingga Cyborg Kognitif Era AI (Bag I)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
30 Desember 2025 6:51 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Historiografi Cyborg: Dari Astronaut NASA hingga Cyborg Kognitif Era AI (Bag I)
Dalam pengertian ini, cyborg adalah organisme yang sebagian fungsi biologisnya diatur oleh sistem teknologi internal yang bekerja tanpa memerlukan kendali atau kesadaran terus-menerus dari subjeknya.
Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Historiografi Cyborg: Dari Astronaut NASA hingga Cyborg Kognitif Era AI (Bag I)
zoom-in-whitePerbesar
Istilah cyborg—singkatan dari cybernetic organism—lahir bukan dari film fiksi ilmiah, melainkan dari laboratorium sains. Pada 1960, dua ilmuwan Amerika, Manfred Clynes dan Nathan S. Kline, memperkenalkannya dalam artikel berjudul “Cyborgs and Space” yang terbit di jurnal Astronautics. Tujuannya sangat praktis: bagaimana manusia dapat bertahan hidup dalam misi luar angkasa jangka panjang.
Alih-alih membawa “Bumi mini” ke luar angkasa, Clynes dan Kline mengusulkan gagasan radikal: memodifikasi tubuh manusia agar mampu beradaptasi secara otomatis dengan lingkungan ekstrem. Dalam pengertian ini, cyborg adalah organisme yang sebagian fungsi biologisnya diatur oleh sistem teknologi internal yang bekerja tanpa memerlukan kendali atau kesadaran terus-menerus dari subjeknya.
Gagasan tersebut pada awalnya bersifat teknis dan utilitarian, berakar kuat pada kebutuhan astronautika. Namun, ia dengan cepat melampaui dunia kedirgantaraan dan membuka horizon baru tentang relasi manusia dan mesin.
Jauh sebelum teknologi benar-benar siap diwujudkan, imajinasi publik telah lebih dulu menjelajahinya. Sejak kisah-kisah awal tentang automata dan mekanisasi manusia dalam sastra seperti Frankenstein (abad ke-19) hingga film-film populer seperti Terminator, Blade Runner, dan RoboCop, figur cyborg tampil sebagai simbol kecemasan manusia modern: ketakutan akan hilangnya kemanusiaan, kaburnya identitas, dan masa depan yang dingin serta mekanistik.
Sementara itu, di dunia nyata, perkembangan paling konkret justru terjadi di bidang medis. Alat pacu jantung, implan koklea bagi tunarungu, serta prostetik canggih perlahan mengaburkan batas antara tubuh biologis dan mesin. Dalam pengertian fungsional, jutaan manusia kini hidup dengan sistem teknologi yang menyatu langsung dengan tubuh mereka—bukan untuk memperoleh kemampuan super, melainkan untuk memulihkan dan menopang fungsi dasar kehidupan.
Lompatan konseptual besar terjadi pada 1985 ketika Donna Haraway menerbitkan esainya yang berpengaruh, A Cyborg Manifesto. Di tangan Haraway, cyborg tidak lagi dipahami semata sebagai proyek teknologi, melainkan sebagai metafora politik dan budaya. Cyborg melambangkan runtuhnya batas-batas lama: antara manusia dan mesin, alam dan budaya, laki-laki dan perempuan.
Bagi Haraway, manusia modern yang hidup dalam jaringan teknologi pada dasarnya sudah bersifat “cyborgian”. Gagasan ini memberi pengaruh luas dalam studi feminisme, teori budaya, dan posthumanisme, meskipun juga menuai kritik karena dianggap terlalu optimistis terhadap potensi emansipatoris teknologi.
Dua dekade kemudian, konsep cyborg benar-benar memasuki tubuh manusia secara harfiah. Pada 1998, ilmuwan Inggris Kevin Warwick menanamkan chip RFID ke tubuhnya dalam proyek yang dikenal sebagai Cyborg 1.0. Pada 2002, melalui Cyborg 2.0, ia menghubungkan sistem sarafnya dengan komputer, memungkinkan sinyal saraf manusia berinteraksi langsung dengan mesin, bahkan—dalam skala terbatas—dengan sistem saraf manusia lain.
Eksperimen Warwick memicu kekaguman sekaligus kontroversi. Apakah ini terobosan ilmiah yang membuka masa depan baru, atau sekadar sensasi teknologi? Perdebatan tersebut menegaskan satu hal: hingga kini, definisi tentang apa yang disebut “cyborg” belum pernah sepenuhnya disepakati.
Sementara itu, futurolog Ray Kurzweil membawa wacana cyborg ke arah yang lebih spekulatif. Ia memprediksi terjadinya Singularity—titik di mana kecerdasan mesin melampaui kecerdasan manusia—sekitar tahun 2045. Dalam visinya, cyborg hanyalah tahap peralihan menuju masa depan di mana batas antara manusia dan mesin semakin menghilang. Bagi sebagian kalangan, gagasan ini berakar pada tren data dan komputasi; bagi yang lain, ia terdengar seperti nubuat eskatologis versi teknologi.
Hari ini, cyborg tidak lagi terbatas pada implan medis atau eksperimen laboratorium. Seniman Neil Harbisson, yang memiliki antena tertanam di kepalanya untuk menerjemahkan warna menjadi suara, diakui secara administratif oleh pemerintah Inggris, termasuk memperbolehkan perangkat tersebut tampil dalam foto paspor resminya. Di sisi lain, komunitas body modification secara sukarela menanam magnet, chip RFID, dan sensor eksperimental ke tubuh mereka.
Namun, revolusi paling luas justru terjadi tanpa operasi apa pun. Ketika manusia bergantung pada Google Maps hingga kehilangan orientasi spasial alami, menyimpan ingatan di ponsel, atau mengandalkan sistem seperti ChatGPT untuk membantu berpikir dan menulis, kita memasuki era cyborg kognitif. Integrasi manusia dan mesin kini berlangsung di tingkat pikiran, bukan semata-mata tubuh.
Teknologi AI (Akal Imitasi)—terutama model bahasa besar—berfungsi sebagai ekstensi memori, persepsi, dan pengambilan keputusan. Berbeda dari cyborg klasik ala Warwick, bentuk integrasi ini bekerja secara implisit dan pervasif. Algoritma tidak sepenuhnya menentukan pikiran manusia, tetapi semakin kuat memengaruhi apa yang kita lihat, baca, dan cara kita membentuk penilaian.
Di sinilah pertanyaan etis paling mendesak muncul. Jika teknologi semakin menyatu dengan tubuh dan pikiran manusia, bagaimana dengan agensi, martabat, dan kebebasan memilih? Siapa yang bertanggung jawab ketika sistem gagal? Dan siapa yang akan tertinggal ketika “peningkatan” teknologi perlahan berubah menjadi norma sosial baru?
Sejak tongkat pertama yang memperpanjang jangkauan tangan manusia hingga kecerdasan buatan yang memperpanjang daya pikir, teknologi selalu menjadi bagian dari kemanusiaan. Yang berubah bukanlah kenyataan bahwa manusia bersifat teknologis, melainkan seberapa dalam dan intim relasi tersebut.
Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah manusia akan menjadi cyborg?
Melainkan: cyborg seperti apa yang secara sadar ingin kita pilih untuk menjadi?
Apakah benar pertanyaannya seperti itu? Atau , seharusnya kita berpikir lebih kritis lagi? (Bersambung)
Trending Now