Konten dari Pengguna

Historiografi Cyborg: Dari Astronaut NASA hingga Cyborg Kognitif Era AI (End)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
1 Januari 2026 4:26 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Historiografi Cyborg: Dari Astronaut NASA hingga Cyborg Kognitif Era AI (End)
Pada mulanya, cyborg adalah solusi teknis. Pada 1960, Manfred Clynes dan Nathan Kline membayangkan tubuh manusia yang dimodifikasi agar sanggup bertahan di luar angkasa.
Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Manfred Clynes (Foto: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Manfred Clynes (Foto: Unsplash)
Pada mulanya, cyborg adalah solusi teknis. Pada 1960, Manfred Clynes dan Nathan Kline membayangkan tubuh manusia yang dimodifikasi agar sanggup bertahan di luar angkasa. Teknologi hadir sebagai penopang kehidupan, bukan pengganti kemanusiaan.
Namun enam dekade kemudian, kita menyadari sesuatu yang lebih mendasar: teknologi tidak lagi berhenti sebagai alat. Ia telah menjadi lingkungan eksistensial—cara manusia hadir, berpikir, merasa, dan memahami dunia.
Cyborg hari ini bukan sekadar implan atau chip di bawah kulit. Ia adalah kondisi hidup. Dan di titik inilah kritik filsafat menjadi penting. Barangkali melalui filsafat , ada suatu jalan tengah.
Kita tidak ingin menolak teknologi, namun kita ingin merangkulnya sembari menyelamatkan diri dari reduksi diri.
Heidegger: Ketika Manusia Berhenti Bertanya, Dunia Menjadi Gudang
Martin Heidegger pernah memperingatkan: bahaya teknologi modern bukan terletak pada mesinnya, melainkan pada cara ia menyingkap realitas. Teknologi modern memaksa dunia hadir sebagai sesuatu yang siap pakai, siap hitung, siap eksploitasi.
Cyborg adalah puncak dari apa yang ia sebut Gestell, kerangka yang menjadikan manusia bukan lagi penanya tentang makna, melainkan sumber daya biologis yang harus dioptimalkan.
Tubuh menjadi platform.
Saraf menjadi saluran data.
Pikiran menjadi node komputasi.
Yang paling berbahaya bukan kontrol, melainkan kontrol yang tak lagi disadari. Ketika teknologi bekerja “tanpa kita sadari”, keheranan ontologis—rasa takzim manusia pada keberadaan—pelan-pelan menguap.
Habermas: Rasionalitas yang Kehilangan Percakapan
JĂŒrgen Habermas melihat modernitas sebagai pertarungan antara dua rasio: rasio instrumental dan rasio komunikatif. Yang satu mengejar efisiensi, yang lain mencari pengertian.
Cyborg kognitif—melalui AI dan algoritma—menandai kemenangan rasio instrumental atas ruang batin manusia. Ketika algoritma menyaring wacana, rekomendasi menggantikan pertimbangan, dan opini dibentuk oleh mesin prediksi, dialog sejati kehilangan tempatnya.
Kita menjadi efisien, tetapi kurang reflektif.
Terhubung, tetapi kurang saling memahami.
Pertanyaannya sederhana sekaligus menakutkan: di mana ruang persetujuan rasional jika kesadaran kita sendiri telah dimediasi sistem?
Gadamer: Makna yang Tak Lagi Dihidupi
Bagi Hans-Georg Gadamer, memahami bukan soal mengolah informasi, melainkan perjumpaan hidup antara manusia, tradisi, dan sejarah. Pemahaman lahir dari dialog, bukan dari perhitungan.
Namun dalam epistemologi cyborg, makna tidak lagi dipahami—ia diperkirakan, dihasilkan, lalu diranking. Yang hilang bukan kebenaran faktual, melainkan pengalaman memahami itu sendiri.
Kebijaksanaan praktis, prasangka produktif, dan intuisi manusia direduksi menjadi data latih. Kita tahu semakin banyak, tetapi mengerti semakin sedikit.
Buber: Dari Kehadiran ke Interaksi
Martin Buber membedakan relasi Aku–Engkau dan Aku–Itu. Relasi sejati menuntut kehadiran, bukan sekadar fungsi.
Namun budaya cyborg memperluas relasi Aku–Itu hingga manusia itu sendiri. Tubuh menjadi antarmuka, emosi menjadi sinyal, relasi menjadi transaksi.
Ketika perjumpaan dimediasi sistem yang selalu mengobjektifikasi, kehadiran eksistensial memudar. Kita saling terkoneksi, tetapi jarang sungguh hadir.
Lyotard dan Derrida: Ketika Performa Menggantikan Makna
Jean-François Lyotard mengingatkan bahwa masyarakat modern tunduk pada logika performativitas: yang bernilai adalah yang cepat, efektif, dan produktif. Cyborg adalah subjek ideal dunia ini.
Namun Jacques Derrida mengingatkan: makna selalu tertunda, selalu rapuh, selalu terbuka. Bahaya cyborg bukan karena ia ambigu, melainkan karena ia berpura-pura menghapus ambiguitas—menjanjikan transparansi total, kendali penuh, dan kehadiran instan.
Di situlah metafisika baru lahir: bukan metafisika makna, melainkan metafisika kontrol.
Foucault dan Chomsky: Kekuasaan yang Masuk ke Pikiran
Michel Foucault mungkin akan menyebut era ini sebagai neuro-politik: kekuasaan yang bekerja bukan dengan larangan, melainkan dengan pengaturan atensi, kebiasaan, dan hasrat.
Noam Chomsky menambahkan sisi gelapnya: ketika bahasa—alat kebebasan manusia—dimediasi sistem yang dikendalikan kepentingan ekonomi dan politik, manipulasi tidak lagi terasa sebagai penindasan, melainkan sebagai kenyamanan.
Cornel West dan Charles Taylor: Tanpa Jiwa, Tanpa Makna
Cornel West mengingatkan: teknologi tanpa cinta hanya akan memperdalam ketimpangan. Augmentasi tidak otomatis membawa keadilan. Pertanyaannya bukan apa yang bisa dilakukan cyborg, tetapi untuk siapa dan dengan harga moral apa.
Charles Taylor melihat masalah yang lebih dalam: erosi makna. Ketika diri dipahami sebagai proyek optimasi, autentisitas berubah menjadi performa, dan hidup kehilangan orientasi transenden.
Penutup: Rasionalitas yang Perlu Belajar Mencintai Lagi
Cyborg bukan musuh. Ia adalah cermin.
Cermin dari modernitas yang terlalu lama memuja efisiensi dan melupakan makna.
Pertanyaannya bukan apakah kita akan menjadi cyborg—kita sudah berada di dalamnya. Pertanyaannya adalah: apakah rasionalitas kita masih memberi ruang bagi keheningan, keraguan, cinta, dan kebijaksanaan?
Romantisisme rasional bukan penolakan teknologi. Ia adalah seruan agar akal kembali bersahabat dengan jiwa. Agar manusia tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak. Tidak hanya terhubung, tetapi sungguh hadir.
Di sanalah masa depan manusia—jika masih ingin disebut manusia—dipertaruhkan. (**)
Trending Now