Konten dari Pengguna

Mengapa Matematika dan Sains Harus Rendah Hati: Sekali Lagi, Kurt Gödel (Bag I)

Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
12 Januari 2026 6:15 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengapa Matematika dan Sains Harus Rendah Hati: Sekali Lagi, Kurt Gödel (Bag I)
Kurt Gödel lahir pada 28 April 1906 di Brünn, Austria-Hongaria (kini Brno, Republik Ceko), dalam keluarga kelas menengah yang berkecukupan. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang sangat ingin tahu
Filsafat Sains Dimitri Mahayana
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengapa Matematika dan Sains Harus Rendah Hati: Sekali Lagi, Kurt Gödel (Bag I)
zoom-in-whitePerbesar
Kurt Gödel lahir pada 28 April 1906 di Brünn, Austria-Hongaria (kini Brno, Republik Ceko), dalam keluarga kelas menengah yang berkecukupan. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang sangat ingin tahu—keluarganya memanggilnya "Herr Warum" (Tuan Mengapa) karena ia tak pernah berhenti bertanya tentang segala hal.
Di Universitas Wina, Gödel awalnya belajar fisika teoretis, namun kemudian jatuh cinta pada matematika dan logika. Pada tahun 1920-an, dunia matematika sedang berada dalam euforia besar. Para matematikawan terkemuka seperti David Hilbert percaya bahwa matematika bisa dibangun sebagai sistem yang sempurna—sistem yang konsisten (tidak mengandung kontradiksi) dan lengkap (dapat membuktikan semua kebenaran matematika). Ini adalah mimpi besar: membangun fondasi matematika yang kokoh, tak tergoyahkan, seperti istana yang megah di atas batu karang.
Namun pada tahun 1931, ketika Gödel baru berusia 25 tahun, ia menerbitkan sebuah makalah yang mengguncang seluruh komunitas matematika. Makalahnya yang berjudul "Über formal unentscheidbare Sätze der Principia Mathematica und verwandter Systeme" (Tentang Proposisi yang Secara Formal Tidak Dapat Diputuskan dalam Principia Mathematica dan Sistem Terkait) mengumumkan sesuatu yang tak terduga: mimpi Hilbert tentang sistem matematika yang sempurna adalah mustahil. Lebih jelasnya, makalah Gödel menunjukkan bahwa cita-cita Program Hilbert—membangun satu sistem formal yang cukup kuat untuk aritmatika, sekaligus lengkap, konsisten, dan mampu membuktikan konsistensinya sendiri—tidak mungkin tercapai.
Gödel kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat, di mana ia menjadi profesor di Institute for Advanced Study di Princeton, bekerja berdampingan dengan Albert Einstein. Keduanya menjadi teman dekat, sering berjalan bersama mendiskusikan misteri alam semesta. Gödel meninggal pada tahun 1978, meninggalkan warisan intelektual yang mengubah cara kita memahami batasan-batasan pengetahuan manusia.
Teorema Ketidaklengkapan Pertama: Selalu Ada yang Tak Terbukti
Pernyataan sederhana: Dalam sistem matematika yang cukup kuat untuk mencakup aritmatika dasar, selalu ada pernyataan yang benar tetapi tidak dapat dibuktikan dalam sistem itu sendiri.
Mari kita pahami ini dengan analogi sederhana:
Bayangkan Anda memiliki sebuah buku peraturan untuk permainan catur. Buku ini berisi semua aturan yang mungkin Anda butuhkan. Sekarang, pertanyaannya: dapatkah buku peraturan itu sendiri membuktikan bahwa buku itu tidak mengandung kontradiksi? Gödel menunjukkan bahwa jawabannya adalah tidak—jika sistem itu cukup kompleks.
Contoh yang lebih konkret:
Pertimbangkan kalimat: "Kalimat ini tidak dapat dibuktikan."
• Jika kalimat ini bisa dibuktikan, maka pernyataannya salah (karena ia mengatakan tidak bisa dibuktikan), yang berarti kita telah membuktikan sesuatu yang salah—sistem kita kontradiktif!
• Jika kalimat ini tidak bisa dibuktikan, maka pernyataannya benar—dan kita punya kebenaran yang tidak bisa dibuktikan dalam sistem kita.
Ini seperti paradoks pembohong ("Saya sedang berbohong"), tetapi Gödel mengubahnya menjadi pernyataan matematika yang rigorous.
Makna filosofisnya , adalah ada kebenaran matematika yang kita tahu benar, tetapi tidak bisa kita buktikan menggunakan aturan-aturan sistem kita sendiri. Matematika lebih besar daripada sistem formal mana pun yang kita ciptakan untuk menangkapnya. Dengan kata lain, ada kebenaran matematika yang benar dalam arti objektif (misalnya dalam model standar bilangan bulat), tetapi tidak dapat dibuktikan dalam sistem formal tertentu. Apakah dan bagaimana manusia ‘mengetahui’ kebenaran itu merupakan persoalan filsafat, yang perlu dicari jawabannya lebih lanjut.
Teorema Ketidaklengkapan Kedua: Sistem Tak Bisa Membuktikan Konsistensinya Sendiri
Teorema Ketidaklengkapan Kedua menyatakan bahwa jika sebuah sistem cukup kuat dan konsisten, maka ia tidak dapat membuktikan konsistensinya sendiri dengan sarana internalnya.
Ini lebih mudah dipahami dengan analogi:
Bayangkan Anda seorang hakim di pengadilan. Anda tidak bisa berdiri sebagai saksi di kasus Anda sendiri untuk membuktikan bahwa Anda hakim yang adil. Anda memerlukan penilaian dari luar sistem (misalnya, hakim yang lebih tinggi).
Sebagai contoh konkret, jika sistem matematika bisa membuktikan "Saya konsisten (tidak akan pernah menghasilkan kontradiksi)," maka itu justru mencurigakan. Mengapa? Karena bahkan sistem yang kontradiktif pun bisa membuktikan apa saja—termasuk pernyataan bahwa dirinya konsisten!
Jadi, untuk benar-benar yakin bahwa sistem matematika kita konsisten, kita perlu keluar dari sistem itu dan menggunakan sistem yang lebih kuat—yang pada gilirannya juga tidak bisa membuktikan konsistensinya sendiri. (Bersambung)
Trending Now