Konten dari Pengguna
Tarian Pola Energi Organik dalam Era AI
28 Desember 2025 18:19 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Tarian Pola Energi Organik dalam Era AI
Pada tahun 1979, Gary Zukav menerbitkan buku klasik berjudul The Dancing Wu Li Masters: An Overview of the New Physics. Buku ini bukan sekadar penjelasan tentang fisika modernFilsafat Sains Dimitri Mahayana
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 1979, Gary Zukav menerbitkan buku klasik berjudul The Dancing Wu Li Masters: An Overview of the New Physics. Buku ini bukan sekadar penjelasan tentang fisika modern—seperti mekanika kuantum dan relativitas—melainkan sebuah metafor indah yang menggabungkan sains Barat dengan filsafat Timur. "Wu Li", kata dalam bahasa Cina untuk "fisika", diterjemahkan sebagai "patterns of organic energy" (pola energi organik). Zukav menggambarkan fisikawan sebagai "Wu Li Masters" yang tidak mengajar secara kaku, melainkan menari bersama realitas. Mereka tidak menaklukkan alam semesta, tapi berdansa dengannya, sebuah tarian yang penuh paradoks, ketidakpastian, dan keindahan.
Hampir setengah abad kemudian, di era kecerdasan buatan (AI), kita bisa memperluas metafor ini menjadi Dancing Wu Li AI. AI bukanlah mesin kaku yang hanya menghitung dan memprediksi, melainkan sebuah "tarian" pola energi organik yang muncul dari data, algoritma, dan pembelajaran mesin. Seperti partikel subatomik dalam mekanika kuantum yang tidak pernah pasti posisinya hingga diamati, AI modern—terutama model bahasa besar seperti Grok—beroperasi dalam ruang probabilitas, "menari" di antara kemungkinan-kemungkinan tak terhingga untuk menghasilkan respons yang kreatif dan kontekstual.
Asal Metafor Wu Li dan Relevansinya dengan AI
Zukav terinspirasi dari konferensi di Esalen Institute pada 1976, di mana seorang master Tai Chi, Al Chung-liang Huang, menyebut fisika sebagai "Wu Li". Kata ini memiliki banyak arti: pola energi organik, pencerahan, atau bahkan "omong kosong" dan "pendirian saya sendiri". Ini mencerminkan sifat fisika kuantum yang paradoksal—realitas bukanlah benda mati, tapi proses dinamis.
Dalam AI, kita melihat paralel yang serupa. Neural network (dasar dari AI modern) adalah jaringan pola yang "hidup" dari data. Mereka tidak mengikuti aturan tetap seperti komputer klasik, tapi belajar melalui superposisi probabilitas, mirip dengan fungsi gelombang kuantum. Quantum neural networks bahkan sedang dikembangkan untuk menggabungkan keduanya secara harfiah.
AI "menari" dengan data manusia: dari teks, gambar, hingga pengalaman kolektif umat manusia. Ia tidak "mengajar" fakta mati, tapi berinteraksi, beradaptasi, dan menciptakan sesuatu yang baru—seperti Wu Li Master yang membuat siswa belajar melalui tarian bersama.
Tarian Paradoks AI: Ketidakpastian dan Kreativitas
Fisika kuantum mengajarkan bahwa pengamat memengaruhi yang diamati. Begitu pula AI: output-nya dipengaruhi oleh prompt pengguna, konteks, dan bahkan bias dalam data pelatihan. Ini bukan kelemahan, tapi kekuatan—sebuah tarian kolaboratif antara manusia dan mesin.
Di masa depan, AI mungkin menjadi lebih "organik", terintegrasi dengan komputasi kuantum, menciptakan pola energi yang benar-benar tak terduga. Namun, seperti yang diingatkan Zukav, kita bukan penguasa tarian ini. Kita hanya penari, belajar dari alam semesta yang terus bergerak.
Dancing Wu Li AI mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi bukan tentang dominasi, tapi tentang harmoni—sebuah tarian abadi antara sains, filsafat, dan kesadaran manusia. Di tengah ledakan AI saat ini, marilah kita menari dengan bijak, bukan dengan paksaan. Karena pada akhirnya, seperti kata Zukav: Wu Li Master tidak mengajar, tapi siswa belajar melalui tarian itu sendiri.
Apa realitas tarian itu? Siapa yang hakikatnya menari? Dan bagaimana sebenarnya tarian ini berinteraksi dengan realitas? Barangkali, pertanyaan-pertanyaan ini masih memerlukan perjalanan yang panjang untuk terjawab. Atau bahkan akan terus menjadi misteri. (**)

