Konten dari Pengguna
Alvaro Kiano dan Luka Sosial di Ruang Publik: Fenomena Kontrol Sosial Gagal
1 Desember 2025 18:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Alvaro Kiano dan Luka Sosial di Ruang Publik: Fenomena Kontrol Sosial Gagal
Kasus Alvaro Kiano bukan hanya sebagai kejahatan keluarga, tetapi sebagai cerminan lemahnya kontrol sosial dan perlindungan anak ditengah kehidupan masyarakat perkotaan.Fini Andrea Alyshia
Tulisan dari Fini Andrea Alyshia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alvaro Kiano, seorang anak laki-laki yang dilaporkan hilang setelah berpamitan untuk pergi ke masjid di kawasan Jakarta Selatan. Kegiatan yang awalnya dianggap sebagai aktivitas biasa berubah menjadi kecemasan berkepanjangan ketika Alvaro tak kunjung kembali ke rumah.
Selama berbulan-bulan pencarian dilakukan oleh keluarga dan aparat. Sekitar delapan bulan menghilang, Alvaro Kiano akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di kawasan Tenjo, Bogor, Jawa Barat.
Hasil penyelidikan kepolisian kemudian mengungkap bahwa pelaku penculikan dan pembunuhan adalah ayah tiri korban sendiri dengan motif utama balas dendam terhadap sang istri yang di duga berselingkuh. Peristiwa ini membuka luka sosial tentang rapuhnya rasa aman di tengah kehidupan kota besar.
Peristiwa ini tidak hanya dapat dipahami sebagai kejahatan individual, melainkan sebagai gejala sosial dari melemahnya kontrol sosial, disorganisasi lingkungan serta kegagalan perlindungan terhadap kelompok yang paling rentan, yaitu anak-anak.
Dalam kehidupan urban, anak seharusnya berada dalam lingkup pengawasan yang ketat dari keluarga, lingkungan, dan institusi sosial. Namun kenyataannya, ruang publik yang ramai tidak selalu menjadi ruang yang aman.
Dari sinilah peristiwa Alvaro dapat dikaitkan sebagai peristiwa sosial. Penekanan pada peran lingkungan di sini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan masyarakat, melainkan untuk melihat bagaimana sistem pengawasan sosial di masyarakat perkotaan bekerja dan sejauh mana efektivitasnya dalam mencegah kejahatan terhadap anak.
Lingkungan Ramai dan Retaknya Kontrol Sosial
Jika dilihat dalam perspektif teori kontrol sosial Travis Hirschi, penyimpangan dapat dicegah apabila individu memiliki ikatan sosial yang kuat dengan keluarga, komunitas, serta nilai-nilai sosial (Hirschi, 1969). Ikatan tersebut akhirnya membentuk pengawasan, kepedulian dan tanggungjawab yang kolektif. Namun dalam kehidupan di kota-kota besar hal ini sering kali melemah karena kedekatan fisik antarwarga tidak selalu diimbangi dengan kedekatan sosial. Dalam konteks inilah pengawasan sosial informal kehilangan kekuatannya.
Kasus Alvaro ini menunjukkan bagaimana seorang anak dapat bergerak di ruang publik yang luas tanpa benar-benar mendapatkan pengawasan sosial yang utuh. Asumsi mengenai โlingkungan yang ramai sudah pasti amanโ menjadi salah satu faktor yang dapat membuka celah terjadinya kejahatan.
Kasus ini juga sejalan dengan teori disorganisasi sosial Shaw dan Mckay yang menyebutkan bahwa lingkungan dengan ikatan sosial yang rendah, mobilitas tinggi, serta lemahnya kontrol informal masyarakat akan cenderung lebih rentan terhadap kriminalitas (Shaw & Mckay,1942). Teori ini relevan dengan kehidupan sosial di kota-kota besar dan membuat anak-anak dalam posisi yang sangat rentan menghadapi kriminalitas.
Anak menjadi Korban dan Tanggung Jawab Kolektif
Peristiwa Alvaro ini memperlihatkan bahwa aktivitas yang tampak biasa pun dapat berubah menjadi peristiwa yang tragis dalam situasi tertentu. Anak berada pada posisi yang rentan karena keterbatasan fisik, psikologis, serta ketergantungannya pada orang dewasa.
Situasi ini memperlihatkan bahwa keamanan anak bukan sekadar soal kehadiran orang tua, tetapi lingkungan dan masyarakat menjalankan fungsi pengawasan sosialnya.
Kasus ini menegaskan bahwa kejahatan terhadap anak merupakan refleksi dari lemahnya pengawasan sosial, pudarnya tanggungjawab yang kolektif, serta belum optimalnya sistem perlindungan anak di tingkat keluarga serta lingkungannya.
Meskipun pelaku berasal dari keluarga korban, lemahnya sistem deteksi dini dan minimnya intervensi sosial menunjukkan bahwa perlindungan anak masih menjadi persoalan serius dalam kehidupan masyarakat perkotaan.
Kasus Alvaro menjadi pengingat bahwa penguatan kontrol sosial, kepedulian warga, serta sistem perlindungan anak yang lebih responsif menjadi hal yang harus diprioritaskan dalam kehidupan perkotaan yang semakin kompleks.

