Konten dari Pengguna
SUGA BTS Luka yang Menyembuhkan
23 Juni 2025 14:52 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
SUGA BTS Luka yang Menyembuhkan
Dari luka batin hingga ruang penyembuhan. SUGA BTS tak hanya menulis lagu tentang depresi, tapi juga mendirikan pusat perawatan untuk anak autis. Fitria Rizki Wijaya
Tulisan dari Fitria Rizki Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika SUGA BTS atau Min Yoongi mengumumkan bahwa ia mendirikan pusat perawatan untuk anak-anak dengan spektrum autisme, publik menyoroti nominal sumbangannya: 5 miliar KRW. Tapi jika kita menengok lebih dalam, bukan angka yang terpenting, melainkan mengapa ia melakukannya.
Inilah kisah tentang bagaimana luka pribadi menjelma menjadi empati kolektif. Bagaimana pengalaman depresi, trauma, dan kelelahan mental tidak hanya diolah menjadi musik, tetapi ditransformasikan menjadi tindakan nyata yang menyentuh kehidupan banyak orang.
Depresi dan Amigdala: Saat Musik Menyentuh Luka
Dalam lagu Amygdala, SUGA berbicara tentang trauma masa kecil, termasuk kecelakaan ibunya dan penyakit serius ayahnya. Amigdala sendiri adalah bagian otak yang berperan dalam mengatur rasa takut, ancaman, dan respons emosional ekstrem.
Menurut teori neuropsikologi, pengalaman traumatis tersimpan dalam memori emosional di amigdala, bukan hanya di bagian rasional otak (prefrontal cortex). Maka, ketika trauma diungkapkan melalui musik, hal itu menjadi proses penting dalam trauma healing. Ini sejalan dengan pendekatan psikoterapi berbasis seni (art therapy), di mana seni berfungsi sebagai jembatan antara emosi dan kesadaran.
โAku tahu ini akan menyakitkan, tapi aku tetap harus menekan tombol itu,โ tulis SUGA dalam Amygdala, menggambarkan keberaniannya menyentuh kembali luka lama.
Self-Disclosure: Keberanian Mengungkapkan Luka
Dalam berbagai lirik dan wawancara, SUGA tak ragu membicarakan soal depresi, gangguan kecemasan, hingga keraguan eksistensial. Ini disebut dalam psikologi komunikasi sebagai self-disclosure, yaitu pengungkapan aspek pribadi dan emosional seseorang untuk menciptakan koneksi yang lebih dalam.
Menurut psikolog Sidney Jourard, self-disclosure adalah langkah awal menuju keintiman emosional dan pemulihan. Ketika seseorang seperti SUGA membuka dirinya kepada jutaan pendengar, itu bukan kelemahan, melainkan bentuk keberanian yang justru memperkuat ikatan dengan pendengarnya (ARMY).
Dalam suratnya kepada ARMY pada Juni 2025, SUGA menulis:
โAku belum pernah menoleh ke belakang karena selama ini terus berlari.โ
Kalimat ini adalah bentuk refleksi eksistensial, yang dalam psikologi humanistik dianggap sebagai tanda pertumbuhan psikologis (personal growth). Carl Rogers menyebut proses ini sebagai "menjadi diri sejati", di mana seseorang mulai berdamai dengan keutuhan dirinya, termasuk luka-luka yang dulu disembunyikan.
Komunikasi Empatik dan Terapeutik
Pilihan SUGA untuk menulis langsung kepada penggemar, bukan melalui manajemen atau media, menunjukkan bentuk komunikasi empatik yang kuat. Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi menciptakan ruang dialog emosional.
Teori komunikasi interpersonal Joseph DeVito menyebutkan bahwa komunikasi yang bermakna dibangun lewat tiga elemen: keterbukaan, empati, dan keaslian. Tiga hal inilah yang muncul dalam surat SUGA. Ia tidak berbicara sebagai idola yang sempurna, melainkan manusia yang rapuh dan sedang belajar menjadi utuh.
โAku minta maaf karena sudah membuat khawatir, dan merasa bersalah karena member lain harus memikul beban tanpaku.โ
Ini adalah bentuk komunikasi terapeutik, di mana bahasa menjadi alat penyembuh, baik bagi pengirim maupun penerimanya.
Dari Trauma ke Empati Sosial: Pusat Perawatan Autisme
Empati SUGA tidak berhenti di kata-kata. Ia bertindak. Ia membangun Pusat Perawatan Minimal untuk anak-anak autis, setelah sebelumnya berdiskusi langsung dengan Profesor Chun Geun-Ah, psikolog anak dari Rumah Sakit Severance.
Dalam psikologi sosial, tindakan seperti ini merupakan komitmen empatik afektif, ketika seseorang terdorong melakukan sesuatu bukan karena kewajiban moral atau kepentingan sosial, tetapi karena kedalaman emosional yang ia rasakan terhadap penderitaan orang lain.
SUGA tak asing dengan rasa keterasingan. Anak-anak autis pun kerap terasingkan dari sistem sosial yang tidak inklusif. Mungkin di sinilah empatinya tumbuh, karena ia tahu rasanya hidup di dunia yang terlalu bising untuk bisa dimengerti.
"Saya merasa musik bisa menjadi bagian yang berharga... Semoga lebih banyak anak menjadi bagian dari masyarakat kita."
Ini bukan sekadar pernyataan. Ini adalah visi: menjadikan musik sebagai ruang aman, dan menjadikan dunia lebih manusiawi.
Ketulusan yang Menyembuhkan
SUGA BTS adalah bukti nyata bahwa komunikasi bisa menyembuhkan. Bukan komunikasi yang disusun oleh humas, bukan narasi pencitraan yang disusun oleh agensi. Tapi kata-kata yang datang dari ruang luka, yang diolah menjadi kekuatan.
Ia mengubah depresi menjadi lagu. Trauma menjadi ruang belajar. Dan sekarang, ia menjadikan empatinya sebagai jembatan bagi anak-anak yang selama ini terpinggirkan.
Dalam dunia yang penuh kecepatan, di mana luka sering ditutup rapat agar tidak terlihat lemah, SUGA memilih menoleh ke belakang dan dari sanalah, ia belajar untuk maju.

