Konten dari Pengguna
Hari Udara Bersih Internasional: Bagaimana Udara Memengaruhi Senyuman Mahasiswa?
7 September 2025 13:47 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Hari Udara Bersih Internasional: Bagaimana Udara Memengaruhi Senyuman Mahasiswa?
Hari Udara Bersih Internasional, atau Hari Udara Bersih untuk Langit Biru Internasional, memengaruhi cara mahasiswa tersenyum, mulai dari kesehatan, kepercayaan diri, hingga peluang sosial mereka.Rizky Amanda Putra Hanka
Tulisan dari Rizky Amanda Putra Hanka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Udara Bersih Internasional, atau Hari Udara Bersih untuk Langit Biru Internasional, jatuh setiap tanggal 7 September secara global. Hari tersebut merupakan momentum untuk memeringati pentingnya semangat perbaikan iklim pada era industrialisasi seperti kini. Era ketika polusi udara bak sudah menjadi "teman dekat" setiap individu.
Era industrialisasi sendiri identik dengan cerobong pabrik yang mengeluarkan gas-gas sisa produksi. Tak hanya pabrik, muatan yang cenderung berbahaya tersebut juga dikeluarkan oleh produk-produknya, semisal produk otomotif. Ironisnya, WHO mencatat kenaikan kadar muatan tersebut sebesar 1,5% pada tahun 2023, kira-kira lima kali melampaui standar aman yang ditetapkan. Tentu dampak dari kenaikan ini cukup signifikan bagi masyarakat.
Mahasiswa merupakan salah satu komponen masyarakat yang ikut terdampak oleh polusi. Aktivitas mereka menuntut mobilitas tinggi: berangkat kuliah, berpindah antar-kampus, magang, hingga agenda organisasi yang seringkali mengharuskan mereka berinteraksi di ruang-ruang publik secara tumpang tindih.
Di kota besar dengan lalu lintas padat, mahasiswa berada pada garis depan paparan polusi, yakni mulai dari asap kendaraan bermotor, langit yang kelabu, hingga debu di jalanan. Udara yang kotor tak bisa dianggap sebagai persoalan fisik saja. Kondisi ini turut memengaruhi cara mahasiswa berpikir, belajar, sekaligus cara tersenyum
Bagaimana Udara Kotor Menghalangi Senyuman?
Negeri-negeri dengan kualitas udara yang kurang baik identik dengan banyaknya masyarakat, termasuk mahasiswa, yang menggunakan masker saat berpergian. Tujuannya jelas: menghalangi udara kotor masuk ke sistem pernapasan. Sayang, upaya ini juga berdampak pada lepas tidaknya kemampuan berekspresi mereka, yakni kenampakan senyuman.
Bagi mahasiswa, senyuman merupakan kunci untuk membangun kepercayaan, kehangatan, dan jejaring sosial. Senyuman menjadi tanda sederhana bahwa seseorang terbuka untuk diajak bicara. Dengan senyuman, peluang karir mahasiswa yang bersangkutan bisa meningkat, bahkan bisa jadi cukup drastis jika sedang bersiap memasuki dunia kerja.
Ketika mahasiswa terlalu sering menggunakan masker, ada efek kurang mengenakkan yang acap kali menyusul. Mula-mula memang terlihat soal fisik saja, meliputi jerawat dan iritasi akibat gesekan masker, kakunya otot-otot ekspresi, dan memicu bau mulut karena kelembaban. Namun, muatan simbolis yang muncul setelahnya adalah perasaan insecure terhadap penampilan diri, yang pada akhirnya, mengurungkan senyuman lebih lanjut.
Selain itu, masalah pernapasan yang timbul akibat polusi udara, seperti batuk, patut pula disorot terkait performa mahasiswa saat merepresentasikan diri. Bagi mereka yang punya alergi atau kondisi sensitif lain, ini bisa menjadi mimpi buruk karena mereka bisa dengan mudah disalahpahami. Misal, ketika sedang mengikuti interview magang, mereka bisa saja terbawa batuk usai perjalanan yang berakibat pada pandangan interviewer soal etika, gaya hidup, dan sebagainya.
Adapun lebih lanjut, polusi udara dapat mengurangi suplai oksigen ke otak sehingga mengganggu fungsi kognitif seperti memori dan konsentrasi. Zat beracun di dalamnya mampu menembus sawar darah otak yang berpotensi memicu peradangan saraf. Polusi udara juga meningkatkan kadar stres oksidatif di otak, mempercepat kerusakan sel-sel saraf. Jelas ini dapat mengancam kemampuan berpikir mahasiswa.
Penutup
Isu yang tampak sederhana ini pantas untuk diberikan ruang lebih besar. Udara bersih bukanlah sekadar tentang isu-isu kesehatan semata. Udara bersih juga memuat cerita tentang wajah-wajah muda yang bisa tersenyum tanpa beban.
Mahasiswa, sebagai kelompok yang tengah mempersiapkan diri menjadi generasi penerus bangsa, berhak untuk bernapas lega dan mengekspresikan performa terbaik diri. Senyum mereka adalah simbol vitalitas, optimisme, dan harapan yang seharusnya tidak direnggut oleh lingkungan yang terkontaminasi.
Dengan udara yang sehat, mahasiswa bisa belajar lebih fokus, lebih percaya diri, dan berkontribusi secara maksimal bagi lingkungannya. Hari Udara Bersih Internasional, atau Hari Udara Bersih untuk Langit Biru, seharusnya menjadi pengingat bahwa senyum sederhana yang lahir dari keseharian mahasiswa adalah seperti langit biru yang cerah, bebas dari kabut polusi.

