Konten dari Pengguna
Novel 1970 : Refleksi Sejarah Brasil Melalui Sastra
30 November 2025 4:17 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Novel 1970 : Refleksi Sejarah Brasil Melalui Sastra
Novel ini menarik karena mengungkap sisi lain Brasil pada tahun1970, di balik euforia sepak bola dan Pelé, ada cerita lain yang digambarkan melalui kisah Raul.Frisca Alexandra
Tulisan dari Frisca Alexandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah gegap gempita Piala Dunia 1970, dunia menyaksikan Brasil berada di puncak kejayaannya. Stadion-stadion dipenuhi sorak sorai, televisi menyiarkan kemenangan demi kemenangan, dan nama Pelé dielu-elukan sebagai simbol kebanggaan nasional. Brasil kala itu bukan hanya tampil gemilang sebagai tuan rumah, tetapi juga mempersembahkan salah satu penampilan paling bersejarah dalam sepak bola dunia melalui generasi emasnya yang terdiri dari sejumlah pemain legendarisnya seperti Pelé, Tostão, Gérson, Jairzinho, dan Rivelino. Tahun 1970 dianggap sebagai momentum ketika sepak bola Brasil mencapai puncak kedigdayaannya dan mengukuhkan diri sebagai kekuatan olahraga yang tak tertandingi.
Sesuai dengan judulnya, novel karya Henrique Schneider, berlatar Brasil pada tahun 1970. Schneider mengajak pembacanya melihat lapisan sejarah lain yang sedang terjadi di Brasil ditengah hingar bingar kedigdayaan tim nasional sepak bola Brasil. Novel ini menceritakan kisah seorang pemuda Brasil bernama Raul, yang harus mengalami masa-masa sunyi dan traumatis di tengah gegap gempita euforia sepak bola Brasil. Meskipun Raul adalah tokoh fiksi namun melalui kisahnya, novel ini turut menjadi refleksi sejarah tentang bagaimana euforia nasional terkadang berjalan berdampingan dengan dinamika sosial-politik yang terjadi di akar rumput.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Brasil Tahun 1970?
Pada tahun 1970, Brasil memasuki periode yang kemudian dikenal sebagai Brazilian Miracle. Brazilian Miracle adalah istilah yang merujuk pada periode pertumbuhan ekonomi pesat di Brasil antara tahun 1968 hingga 1973, ketika negara tersebut mengalami lonjakan pembangunan yang sangat cepat. Pertumbuhan ekonomi tersebut digerakkan oleh kebijakan pemerintah yang fokus pada industrialisasi, pembangunan infrastruktur, dan keterbukaan terhadap investasi asing. Pada periode tersebut, perekonomian Brasil tumbuh rata-rata 10% per tahun, sebuah angka yang dianggap luar biasa kala itu bagi negara berkembang.
Istilah Brazilian Miracle muncul karena keberhasilan pertumbuhan ekonomi Brasil, terutama jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi pada tahun-tahun sebelumnya, ditambah kondisi dunia internasional saat itu sedang menghadapi ketidakstabilan global. Dalam kondisi tersebut Brasil justru tampil sebagai anomali karena mengalami lonjakan produksi industri, pertumbuhan kelas menengah, masuknya kapital asing, proyek-proyek infrastruktur besar, serta kebijakan ekspor yang agresif. Keberhasilan Brasil menjadi juara Piala Dunia 1970 juga semakin menambah optimisme nasional serta semakin menguatkan citra Brasil dimata dunia internasional.
Namun ada hal yang menarik, bahwa meskipun ekonomi Brasil tumbuh pesat namun faktanya tidak semua lapisan masyarakat di Brasil kala itu merasakan manfaatnya secara merata. Pertumbuhan ekonomi Brasil kala itu berjalan berdampingan dengan kontrol politik Negara yang cukup kuat. Hal ini tidak terlepas dari kondisi politik dan pemerintahan Brasil yang berada pada era otoritarianisme militer. Brasil berada pada era otoritarianisme militer pada periode tahun 1964 hingga 1985. Era ini mengalami puncaknya pada tahun 1970, di bawah kekuasaan Jendral Emílio Garrastazu Médici. Kontras inilah yang coba dituliskan oleh Schneider dalam novelnya melalui penggambaran kisah Raul.
Melalui sastra, Schneider menunjukkan bahwa sejarah suatu bangsa tidak selalu bergerak dalam satu arah. Dalam tahun yang sama Brasil mencatatkan kejayaan hingga memunculkan istilah Brazilian Miracle, namun kondisi “miracle” ini bukannya tanpa celah. Kisah Raul adalah representasi dari individu yang hidup di luar sorotan kemenangan, ia tidak hadir dalam barisan pendukung di stadion, melainkan dalam pergulatan internal tentang arti kebebasan, identitas, dan kekuasaan.
Karya sastra seperti 1970, menjadi ruang pengingat, bukan untuk membuka luka, tetapi untuk mengarsipkan pengalaman sosial yang menjadi bagian dari proses rekonsiliasi sebuah bangsa. Novel ini memperlihatkan bahwa sejarah nasional suatu bangsa selalu memiliki beragam wajah. Perayaan besar dapat mengisi halaman depan, namun di baliknya masih ada kisah-kisah individu yang ikut membentuk arah perjalanan bangsa. Melalui kisah Raul, Schneider mengingatkan pembacanya bahwa memahami sejarah bukan hanya tentang mengenang kemenangan, tetapi juga mengenali sisi-sisi kemanusiaan yang mungkin tersembunyi.
Akhirnya, 1970 adalah bacaan penting bukan karena membongkar masa lalu, melainkan karena menghadirkan ruang refleksi. Ia menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi jembatan untuk memahami masa lalu bukan untuk menghakimi, tetapi untuk belajar. Tahun 1970 akan selalu dikenang sebagai era keemasan sepak bola Brasil, namun melalui novel ini kita juga diajak menyadari bahwa di balik setiap sorotan kamera kemenangan, selalu ada cerita manusia yang layak untuk didengarkan.

